
Setelah mendengar pengakuan dari Dylan. Milley belum berani untuk menjawabnya. Ia menatap sendu ke arah depan. Pandangannya ia alihkan ke depan, sendi-sendinya seolah mati rasa dalam sekejab. Otaknya pun ikut-ikutan nge-lag.
"Ya, ampun ... dia nembak gue?"
"Tunggu dulu, dia nggak sedang nge-prank gue, kan?"
Apapun itu, tetapi perkataan Dylan jelas-jelas membuatnya mati kutu. Padahal hanya pernyataan cinta, tetapi Milley belum pernah ditembak sebelumnya. Jadi wajar bukan, kalau dia ketakutan setengah mati.
Milley seolah sedang berdiri di antara dua pilihan. Haruskah ia merasa senang, atau merasa sedih. Milley masih bimbang terhadap perasaannya kali ini.
Apalagi bayangan Michael selalu memenuhi hari-harinya. Kehadiran Dylan yang satu rumah dengannya malah terhalang oleh kehadiran Michael.
"Haruskah aku menerima cintamu, tetapi aku tidak mempunyai rasa padamu saat ini," gumam Milley.
Dylan tau jika Milley masih ragu kepadanya, tetapi ia tidak bisa mengatakan tidak mencintainya. Jujur, Dylan sudah jatuh cinta dengan Milley, entah sejak kapan ia pun tidak bisa memastikannya.
Ia bahkan mengabaikan semua perjanjian yang telah ia buat dengan Milley beberapa bulan yang lalu. Apapun itu, asalkan bisa berdekatan dengan Milley itu sudah lebih dari cukup.
"Aku harap kamu menerimaku, Milley. Meskipun sulit, aku harap kamu memberikan kesempatan untukku," ucap Dylan di dalam hatinya.
Entah sejak kapan perasaan itu muncul, karena yang ia tau, jika ada lelaki lain mendekati Milley rasa cemburu itu membelenggu jiwa Dylan. Sejak itulah ia sadar, jika ia telah menambatkan hatinya pada Milley. Bahkan rasa cemburu yang ia miliki, sampai membuat Dylan kehilangan arah dan terkadang susah mengontrol emosinya.
"Milley, maafkan aku yang telah mengingkari perjanjian kita, tetapi aku janji akan selalu membahagiakan kamu."
Keinginan Milley untuk marah-marah, sirna dalam sekejab. Sampai tidak mereka sangka, keduanya hampir bersamaan dalam mengucap kata untuk mencairkan situasi.
"Aa-aku ...."
Milley dan Dylan kikuk karena kejadian barusan.
"Kamu ngomong duluan ...." ucap Dylan gugup.
"Nggak jadi, kamu aja."
Keduanya kembali membisu, tidak ada yang mau bersuara kali ini. Suasana di dalam mobil seolah mencekik keduanya. Bahkan dinginnya AC sama sekali tidak membuatnya sejuk. Membuat pasokan oksigen terasa sedikit karena kedua remaja itu sedang berlomba pacu jantung saat itu.
"Bagaimana ini, kenapa jalan ke rumah begitu lama?" gumam Milley.
Untuk mengusir rasa canggungnya, ia memilih untuk melihat pemandangan di luar. Mungkin dengan begitu ia bisa lebih merasa rileks.
__ADS_1
Milley mulai cemas. Lebih baik ia tanding motor daripada terus menerus berada satu mobil dengan Dylan. Entah kebetulan atau bukan, ternyata Michael mengajaknya nonton nanti malam.
"Selamat sore, kalau berkenan nanti malam ikutan aku lihat balap motor, yuk!"
"Wah, kebetulan sekali, tapi Dylan kasih ijin nggak, ya?"
Ada kebimbangan besar yang dirasakan Milley. Di satu sisi ia sangat membutuhkan hiburan ini, tetapi ia sangat takut jika Dylan semakin marah padanya. Apalagi tadi terlihat jelas kecemburuan Dylan saat Milley menjenguk Evan.
Akhirnya perjalanan pulang yang panjang itu telah usai. Kini Milley dan Dylan dapat bernafas lega. Saat Milley hendak melangkah keluar, Dylan dengan sengaja menahan tangan Milley.
Tentu saja hal itu membuat Milley menoleh seketika. Dalam waktu sekejab, Dylan sudah memberikan sebuah kecupan di kening Milley sambil membisikkan sebuah kata yang sukses membuat Milley gusar.
"Apa yang aku katakan tadi benar-benar dari lubuk hatiku."
Setelah mengucapkan isi hatinya ia melepas tangan Milley, kemudian melangkah keluar. Dengan wajah memerah, Milley mengekor di belakang tubuh Dylan.
"Kenapa dia menjadi seperti ini?"
Dylan dan Milley sama-sama kikuk saat ini, tetapi di dalam hatinya ia sudah lebih lega karena telah mengucapkan sebagian dari hatinya. Memendam perasaan bagi seorang laki-laki itu sangat tidak mengenakkan, oleh karena itu ia mencoba untuk jujur.
"Tumben perasaanku tidak enak seperti ini?" gumam Dylan.
"Oh pantes, ada mereka rupanya."
"Malam Dylan, malam Milley," sapa Rose ramah.
"Ma-malam," ucap Milley tergagap karena tiba-tiba Dylan menariknya.
Bahkan tangan Dylan dengan sengaja melingkar di pinggang ramping milik Milley. Mata Rose tertuju pada sikap Dylan. Dari hal itu, Milley bisa menyimpulkan bahwa Dylan sengaja memanasi Rose dan mamanya, maka dari itu ia pun ikut berakting.
"Tumben kalian ke sini?" ucap Dylan angkuh.
Rebecca mencoba mencairkan ketegangan tersebut dengan lebih dulu berucap.
"Iya, Mama sengaja menunggu kalian pulang untuk mengajak kalian berdua makan malam."
"Makan malam?" tanya Dylan sesaat kemudian.
"Iya, sekalian buat merayakan perpisahan kita karena setelah lulus aku akan pergi ke luar negeri."
__ADS_1
Tiba-tiba saja Rose ikut berbicara kembali, tetapi Dylan sama sekali tidak gentar ketika menghadapi mereka.
"Bagus kalau begitu, setidaknya aku tidak akan merasa terganggu akan kehadiranmu lagi."
Mata Milley membola ketika menyadari Dylan bisa bermulut pedas dalam waktu singkat. Meskipun begitu ia bangga pada Dylan yang sudah lebih baik dari sebelumnya.
Dylan yang ia kenal dulu berbeda, lemah pada wanita dan lebih cenderung mengalah. Malam ini Dylan terlihat dewasa. Mungkin berdekatan dengannya sedikit banyak mempengaruhinya. Tanpa ia sadari Milley tersenyum.
Senyuman Milley membuat Rose salah mengartikan, hingga kebencian terhadap Milley semakin bertambah.
"Beraninya kamu menertawakan aku!"
Rebbeca mengelus pundak Rose dengan perlahan. Lalu ia mengatakan hal yang lain agar tidak terjadi keributan di rumah itu. Lagi pula Tuan Chryst sudah memperingatkan dirinya agar jangan sampai mematik api di rumah itu.
"Mungkin kamu lelah, Nak. Lain kali saja Mama akan mengajak kalian kembali."
Tanpa mau menghargai ucapan Mamanya, Dylan melangkah pergi dan tetap mengajak Milley. Namun, sebelum pergi ia sempat menunduk hormat dan tersenyum ke arah Rebbeca dan Rose.
Mana mungkin ia berani bertindak semena-mena terhadap kedua wanita tadi, sebab ia tau jika menyinggung mereka sama saja menambah masalah hidup. Oleh karena itu, Milley masih menjaga sikap.
Rose yang sudah marah segera melangkah keluar dari rumah tersebut diikuti oleh Rebecca. Ia berjalan menuju mobilnya dengan amarah yang membara.
"Rose, jaga sikapmu!" ucap Rebecca tegas setelah mobil mereka mulai meninggalkan kediaman Tuan Chryst.
"Kenapa Tante tidak membelaku!" protes Rose.
"Bukannya nggak mau membelamu, tetapi aku sedang mencari perhatian dari mereka. Setidaknya aku bisa lebih dekat dengan Milley maka aku akan mudah mendekati Dylan."
"Terserah Tante, tetapi aku akan melakukan sesuai rencanaku."
"Terserah kamu, Rose."
"Bagaimana cara meluluhkan hati Dylan yang sekeras batu karang, jika mendekati Milley saja sesulit itu?" gumam Rose dengan sebal.
.
.
...🌹Bersambung🌹...
__ADS_1
Wkwkwk, siapa yang setuju jika kubu musuh terpecah? Tetapi bagaimana Milley bisa menghadapi mereka? Simak di update malam ini.