
"Rasakan kesakitan dariku karena kalian sudah merenggut kebahagian dariku, ha ha ha ...."
Rose tersenyum dari balik kursi kebesaran suaminya. Banyak hal yang ia persiapan sampai ia bisa berada di tahap ini. Entah kenapa Rose tidak bisa menghapuskan dendam yang berada di dalam hatinya untuk Dylan dan Milley. Terlebih lagi untuk sikap Tuan Chryst yang selama ini tidak pernah menganggap dia ada.
"Hanya sekedar sebuah peringatan bahwa aku masih hidup, dan untuk kalian semua aku ingin mengatakan jika jangan pernah merasa bisa hidup bahagia selama aku masih ada dan bernafas."
Kebencian itu telah mendarah daging di dalam hatinya. Tidak akan ada hal lain yang bisa menyelamatkan Rose dari rasa sakit hatinya. Rasa kebencian yang teramat dalam dan kurangnya kasih sayang dari keluarga membuat Rose hidup sendirian.
Obsesi untuk menjadi yang paling penting telah membuat Rose bisa menghalalkan semua cara agar tujuannya bisa segera tercapai. Sama halnya dengan harta, tahta dan kekuasaan.
Meskipun Rose seorang wanita, tetapi semua hal bisa ia pelajari dengan cepat. Hanya saja tidak semua hal selalu berjalan mulus. Oleh karena itu, Rose sedang memanfaatkan kebaikan suaminya.
"Sayang, Marco sangat lapar, tidak bisakah kau memberikan ASI untuknya?"
Alex masih berusaha untuk memberikan kesempatan kepada istrinya itu. Ia masih berusaha untuk mengubah sikap keras kepala Rose agar ia bisa menjadi seorang wanita yang lemah lembut dan penuh kasih sayang.
"Hei, sudah aku bilang padamu, sampai kapan pun aku tidak akan pernah memberikan ASI-ku ini padanya, apakah kamu tidak mendengarnya?"
__ADS_1
"Oh, ya? Ada di pasal berapa? Maaf aku sudah lupa."
Alex mencoba untuk tidak membuat situasi memanas. Akan tetapi semuanya terlihat lain. Rose bukannya menghormatinya malah semakin menginjak harga dirinya.
"Mas, kamu membentakku! Kenapa, bukankah sudah tertulis dengan jelas jika kamu berani membentak atau membuatku marah, maka akan aku layangkan lembar gugatan cerai ke pengadilan! Mengerti!"
Alex terdiam, mencoba mencari solusi untuk masalah saat ini. Baru saja ia mendapatkan kabar jika orang asisten Rose melakukan penembakan di Kediaman Keluarga Anggara.
"Bagaimana kamu akan menyelesaikan masalah kali ini. Kamu tau, kan? Kamu sebenarnya harus mengetahui jika banyak hal yang harus diperhitungkan sebelum kita melakukan penyerangan."
"Baiklah, aku sungguh meminta maaf karena semua perbuatan konyol ini."
Rose mendekati tubuh suaminya, berusaha membangkitkan apa yang selalu ia sukai. Akan tetapi entah kenapa dia yang sebelumnya sudah tegak menjulang kini sudah hilang tidak tahu rimbanya.
"Kenapa kamu terdiam, apakah kamu tidak ingin bercerita banyak kepadaku?"
"Huh, apa sih?
__ADS_1
Rose yang tidak kunjung diam, sesekali ia menghentakkan kakinya karena kesal.
"Sudahlah, Mas. Mau seperti apa aku membujukmu pasti pada akhirnya kau akan berlaku hal yang sama."
Rose hendak keluar kamar, akan tetapi tangan Alex lebih dulu bisa menggapai tangan istrinya lalu membelitnya dengan kedua tangannya.
Alex menatap lembut kedua mata Rose, mencoba mengatakan jika ia serius mencintainya dan ia berharap rasa cintanya akan didapat kannya dengan hati yang lapang.
"Ma-mas, kau mau apa?"
"Aku mau memakanmu, bolehkah?"
"Ke-Kenapa?"
"Karena aku suamimu, jadi apapun yang aku inginkan harus terjadi dan kamu tidak akan bisa menolaknya kembali."
Rose menelan salivanya dengan susah saat wajah Alex sudah mendarat mulus di ceruk lehernya kali ini.
__ADS_1