NOTA HUTANG DI ATAS PERNIKAHAN

NOTA HUTANG DI ATAS PERNIKAHAN
Bab 41. BUBUR CINTA


__ADS_3

Akhirnya dengan wajah yang lesu, Dylan terpaksa mengatakan pada Michael bahwa dokter memperbolehkannya menyuapi Milley dengan bubur yang ia bawa. Sebenarnya Michael tidak tega, tetapi ia melakukan semua ini demi kesembuhan Milley.


"Apa kata dokter?" tanya Milley tidak sabar.


"Iya, kata dokter kamu boleh makan bubur buatan dia!" ucap Dylan sambil menunjuk ke arah Michael.


"Sorry, gue yang menang!"


Mungkin seperti itulah arti tatapan mata Michael pada Dylan. Tentu saja hidung Dylan sudah memerah saat itu. Ingin sekali ia menghadiahi lelaki di depannya kali ini dengan sebuah bogem mentah, sayang tatapan Milley seolah sudah lebih dulu menelan nyalinya.


Terpaksa Dylan keluar dari ruang rawat Milley daripada keburu kebakar.


"Loh, kok Pak Dosen diem, jadi nggak mau nyuapin, kah?"


"Eh, jadi. Sorry tadi otaknya nyangkut bentar, wkwkwk!"


"Dih, Pak Dosen kumat!"


"Kan, kita tinggal berdua, kok memanggilnya tetap Pak?" protes Michael.


Makanan yang baru saja ia telan, seolah nyangkut di tenggorokan. Apalagi tatapan Michael yang mengunci kedua mata emerald milik Milley sungguh membuatnya sesak nafas.


"Bisa nggak sih, Michael nggak nge-gombal dulu, bikin mood makan gue ilang aja," omelnya dalam hati.


Untung, saja Michael peka terhadap perasaan wanita. Ia langsung meraih satu gelas air putih dan menyodorkannya ke arah Milley.


"Maaf jika membuat mood kamu jadi hilang."


"Eh, maaf Kak."


Milley membuang muka karena malu, "Kok Michael bisa baca hati gue ya?"


Tentu saja Michael bisa menebak dengan jitu, terlebih Milley menggigit bibir bawahnya, dan lagi pipinya blushing.


Michael terkikik karena hal itu, lalu melanjutkan menyuapi Milley dengan telaten. Ia mencoba menutupi hal tersebut, agar kecanggungan itu mereda. Baginya cukup ia yang tau jika ia mencintai Milley tetapi tidak perlu mendapatkannya.


Melihat Milley bahagia membuatnya nyaman dan bisa bahagia. Namun, ia akan merebut Milley dari Dylan, jika sampai ia melukainya.


"Enak nggak?"


"Enak banget, makasih ya, Kak."


"Sama-sama, kalau kamu pengen lagi, biar tiap pagi aku buatin."


Sontak Milley menggeleng karena sungkan.


"Eh, nggak usah, malah jadinya merepotkan aja."


"Merepotkan? Kalau merepotkan mana mungkin aku bela-belain datang pagi ke sini spesial buatin kamu sarapan."


"Astaga, nih Pak Dosen salah minum apa sih? aku jadi salting, nih."


Akhirnya satu porsi bubur ayam buatan Michael ludes. Ia merasa sangat bahagia karena hal tersebut.


Selepas merapikan tempat makannya, Michael kembali ke brankar Milley. Bukannya duduk di kursi ia malah duduk tepat di sebelah tubuh Milley. Ternyata ia membantu Milley untuk berbaring.

__ADS_1


"Mau ngapain?" tanya Milley sambil menyilangkan kedua tangannya.


"Mau nidurin, kamu!" ucapnya asal.


"Ha-ah!"


Ternyata dugaan Milley salah, Michael hanya membantunya untuk berbaring saat itu.


"Makasih, Kak."


"Sama-sama."


"Aku panggilin pawang kamu, ya. Takut dia darah tinggi ntar cepat mati, ntar kamu jadi janda sebelum menikah, wkwkwk!"


"Asem, malah didoain," ucap Milley kesal sambil cemberut.


Michael tersenyum dan keluar dari ruang rawat Milley. Setelah menemukan Dylan, ia menepuk bahu Dylan perlahan.


"Bro, cewek kamu sudah sembuh, tuh dah bisa ngamuk!" ucapnya sambil berlalu.


Sontak Dylan berdiri dan menengok ke dalam ruang rawat Milley. Dengan bergegas, ia berlari kecil ke arahnya.


"Kamu, nggak kenapa-napa, Sayang?"


Wajah Milley yang tadinya cemberut semakin ia tutupi dengan selimut penuh.


"Kenapa lagi, sih?"


Dylan mengacak-ngacak rambutnya, sambil menjejak-jejakkan kakinya ke lantai.


"Kamu kenapa lagi, bilang nggak? Kalau enggak aku lapor sama kakek."


"Milley, tidak bisakah kamu tau jika aku sangat menghawatirkanmu?" ucap Dylan kecewa.


Melihat Dylan tidak segera pergi, semakin membuat Milley kesal. Untung saja, sesaat kemudian datang beberapa suster ke ruangan itu.


"Maaf Tuan, sekarang jadwalnya Nona Milley untuk membersihkan tubuh. Silakan Anda keluar sebentar."


"Nggak mau, Milley calon istriku, kalian lah yang sebaiknya pergi, biar aku yang membantu ia membersihkan diri."


Mendengar perdebatan tidak berarti, Milley membuka selimutnya.


"Dylan, sini!" pinta Milley dengan manja.


Dylan mendekatkan dirinya di sisi Milley.


"Mengerjai Dylan sepertinya tidak masalah, siapa suruh tidak tahu malu!" batin Milley.


"Aku masih datang bulan, kamu serius ingin bantu aku mandi?"


Tiba-tiba Dylan bergidik ngeri, lalu ia membiarkan para perawat itu untuk membantu Milley mandi.


"Dah, kalian aja, awas hati-hati, jangan sampai lecet!"


"Baik, Tuan Muda."

__ADS_1


"Daripada melihat hal itu lagi, lebih baik aku menunggu di luar."


Milley yang melihat Dylan pergi merasa tenang, akhirnya ia bisa mandi sendiri saat ini. Para suster tadi hanya membantu Milley melepas pakaian. Selebihnya ia masih bisa melakukannya sendiri.


Katanya cinta, baru liat begituan aja udah menyerah, memang kalau cinta harus banyak pembuktian lebih dulu, ya. Jangan kayak Dylan oke.


Sementara itu, Michael pergi ke ruangan dokter untuk menanyakan kondisi perkembangan Milley dan semua hal yang bisa ia konsumsi, juga apa yang tidak boleh dikonsumsi.


Setelahnya ia mengirim pesan pada Milley untuk berangkat ke kampus. Memastikan semua hal tentang Milley adalah hal yang wajib bagi Michael. Meskipun pada akhirnya ia tidak bisa memilikinya setidaknya ada hal yang ia tinggalkan saat tidak lagi bersama.


.


.


🍂Kediaman Rose.


Badannya menggigil, entah kenapa ia tidak mau pergi ke kampus hari ini. Lagi pula kegiatannya semalam membuat semua energinya habis. Jadi ia lebih memilih untuk bolos hari ini.


"Rose, kamu nggak kuliah?"


"Nggak, Ma. Badan Rose nggak enak?"


Karena khawatir ia langsung masuk kamar putrinya.


Mama Rose memegang keningnya, "Kamu demam, Sayang. Sejak kapan?"


"Barusan mungkin, Ma."


"Ya sudah, biar Mama telepon dokter Ilham aja, ya."


"Terserah Mama aja."


Setelah keluar dari kamar Rose, Mama langsung menghubungi dokter pribadinya.


"Anak itu berbuat apa lagi, sih. Nggak biasanya ia gampang sakit kaya gini? Tunggu dulu, bukankah semalam ia dari pertunangan Dylan? Apa ada sesuatu di sana?"


Tidak mau berasumsi banyak, ia langsung menelpon dokter. Sementara itu, Dylan sudah berada di ruang rawat Milley.


"Kamu nggak kuliah?"


"Mana bisa aku kuliah kalau kamu sakit?"


"Bilang aja kalau kamu ngga ngerjain tugas, makanya takut masuk?"


"Milley, kamu nggak bisa berbicara lembut kepadaku, kah?"


"Kenapa?"


"Bukankah kita sudah tunangan, seharusnya kita lebih dekat dan mesra!"


"Mesra?" ucap Milley sambil bergidik.


"Maaf, aku bukan tipikal cewek yang bisa mesra dan lembut kaya barisan mantan Lu, so ... jika kamu cinta harusnya kamu menerimaku apa adanya?"


Dylan terdiam saat mendengar ucapan Milley barusan. Meskipun ucapan Milley benar, tetapi ia belum bisa menaklukkan hatinya. Lalu, apa yang harus ia lakukan untuk bisa mendapatkan hati Milley? Bantu Dylan yuk.

__ADS_1


...🌹Bersambung🌹...



__ADS_2