
Pertemuan Jingga dan Rain beberapa saat yang lalu membuat hati Jingga tidak bisa tenang. Entah kenapa rasanya ia ingin segera berlari dan menemui pujaan hatinya. Namun, sayang restu dari kedua orang tuanya belum juga ia dapatkan.
"Jingga, bolehkah Ibu masuk?"
"Iya, Bu, masuk saja pintu tidak aku kunci."
Sesaat kemudian, Ibunda Jingga segera masuk ke dalam kamar putrinya. Ia memasang senyum manis kepada Jingga.
"Kok belum tidur, apakah ada yang membuatmu khawatir?"
Jingga menggeleng, ia mencoba menyembunyikan perasaannya.
"Ibu baru saja mendapat kabar dari keluarga Leo jika kamu tidak memenuhi undangan makan malam bersama mereka hari ini, kenapa?"
Jingga menatap ibunya, "Bu, Jingga seharian banyak pasien di Rumah Sakit, jadi Jingga tidak bisa datang, lagi pula badan Jingga capek semua, Bu!"
Ibu Jingga hanya bisa menghela nafasnya dalam-dalam. Selama lima tahun ini ia telah berusaha dengan keras untuk membujuk dirinya agar mau dengan laki-laki pilihannya. Akan tetapi pada kenyataannya Jingga sama sekali tidak membuka hatinya.
Terlebih saat ia tahu jika pelaku utama dalam kasus pembunuhan keluarga Rain lima tahun yang lalu adalah kedua orang tuanya.
"Sekarang Jingga capek, Bu. Bolehkah aku beristirahat."
"Jingga, Ibu harap kamu bisa mengerti jika Ibu melakukan hal ini demi kebaikan dirimu, jadi jangan salahkan Ibu tentang semua ini."
Merasa jengah dengan semua alasan yang diberikan oleh ibunya, Jingga berharap jika ibunya segera meninggalkan dirinya sendirian.
"Entah kenapa kalian bisa setega itu padaku, padahal aku hanya ingin mendapatkan kebahagiaanku sendiri."
"Apakah perasaan cinta harus diatur sebagai mana kalian mengatur pendidikanku sejak kecil."
Jingga menelungkupkan wajahnya ke dalam kakinya. Ia sungguh merasakan penat yang teramat dalam.
"Jika aku boleh memilih, aku akan pergi meninggalkan kalian dan lebih memilih untuk hidup bersama orang yang aku cintai."
......................
Setelah bersama dengan Dylan dan Keluarga Besar Anggara selama beberapa hari, kini Milley bisa sedikit bersantai untuk sejenak.
"Kenapa aku rindu dengan kota J, ya?" gumam Milley sambil memandang hamparan bintang di langit.
Dylan yang baru saja kembali dari kamar Jord tidak menemukan istrinya. Ia pun merasa sedikit panik dengan hal itu.
Bagaimana tidak panik, karena semua pintu kamar tertutup, sehingga membuat Dylan sempat kebingungan.
"Sayang, kamu di mana?" ucap Dylan sambil berteriak.
__ADS_1
Milley yang tidak mendengar panggilan, suaminya masih merasa nyaman di balkon. Ia sedang menyadarkan tubuhnya pada pagar besi. Milley benar-benar menikmati suasana malam itu dengan bersantai.
Rambut panjangnya tergerai, menari-nari indah saat terkena hembusan angin malam yang semilir. Membuat pesona kecantikannya terpancar sempurna. Di bawah sinar rembulan malam itu, seolah alam bersamanya.
"Rasanya begitu nyaman ketika berada di sana, tetapi demi kebahagiaan Jord dan Dylan aku akan tetap bertahan di sini."
Tidak lama kemudian terdengar pintu balkon terbuka. Tampilah sosok Dylan di ambang pintu.
Dylan tampak mengelus dadanya karena telah berhasil menemukan Milley.
"Sayang, ternyata kamu berada di situ?"
Milley berbalik, lalu tersenyum ke arahnya.
"Iya, Mas. Rasanya sangat nyaman ketika berada di sini."
Tidak perlu menunggu waktu yang lama, Dylan segera menghampiri istrinya. Memeluk dengan erat serta menghujaninya dengan sejuta ciuman kasih sayang.
"Mas, kamu kenapa, sih? Aku kan nggak kemana-mana," ucapnya dengan rasa kurang nyaman dengan perlakuan dari suaminya barusan.
Sebenarnya Milley hanya merasa malu karena saat itu berdiri di balkon, ia takut terlihat penghuni rumah.
"Aku sangat takut kehilangan dirimu, tadi saat aku tidak menemukan kamu, seolah nafasku berhenti untuk sejenak."
"Wkwkwk, yang terpenting aku sayang kamu."
Dylan memang tidak bisa menyembunyikan, perasaan sayangnya pada istrinya. Terlebih mereka sudah berpisah selama lima tahun. Hanya dengan mengungkapkannya secara langsung, ia akan merasa lebih lega setelahnya.
Begitu pula dengan Milley yang bisa merasakan kasih sayang suaminya tersebut. Sepertinya mereka larut dalam kebahagian kali ini. Suasana malam itu harus terusik karena semakin malam udara semakin dingin.
"Masuk yuk, Dek. Aku takut kamu nanti sakit," ucap Dylan dengan suara mendayu.
"Dih dasar modus," ucap Milley sambil menyenggol bahu Dylan.
"Cari yang anget-anget, dong, Sayang. Aku pengen banget deh anget-angetan sama kamu."
"Dih, mesum!"
"Mesum-mesum begini suami kamu, loh. Ada banyak wanita yang sedang menantikan kehangatan tubuhku di luar sana."
"Awas saja berani melakukan hal itu, aku kuliti kamu, nanti!"
"Ampun, Sayang. Aku nggak berani sama kamu, lagi pula aku cuma cinta dan sayang sama kamu, jadi nggak mungkin banget aku bisa memberikan hatiku pada orang lain."
"Hm, takutnya kalau hanya di ancam!"
__ADS_1
Milley yang kesal segera meninggalkan suaminya dan menuju kamar. Tidak lupa ia segera menutup pintu agar Dylan terjebak di luar. Namun, bukan Dylan namanya yang tidak mengetahui rencana Milley. Dengan cepat ia mengejar Milley lalu memeluknya dari belakang.
"Kena kamu," ucapnya sambil memeluk tubuh Milley.
Dengan penuh kemesraan, Dylan menggendong tubuh Milley menuju kamar mereka. Ia sama sekali tidak membiarkan Milley lelah dan kesal dalam waktu yang lama. Sehingga Dylan memaksanya masuk lebih awal.
Selama beberapa hari bersama Milley, Dylan belum meminta haknya sama sekali. Ia masih ragu apakah ia boleh meminta hal itu atau tidak. Apalagi mereka sudah berpisah selama lima tahun.
Selama tidur bersama mereka sama sekali belum pernah melakukan hubungan badan. Paling banyak yang dilakukan oleh Dylan adalah memeluk atau mencium kening istrinya tersebut.
"Kamu kenapa sih, Mas? Kok seperti ada beban pikiran yang membebanimu?"
Milley yang semula membelakangi suaminya, kini sudah mengubah posisinya menjadi saling berhadapan. Menatap suaminya yang pura-pura sudah tidur. Dibelainya dengan lembut wajah kokoh milik Dylan.
"Semakin lama kenapa wajahmu semakin tampan saja sih, Mas? Aku jadi takut kamu kenapa-napa."
Ternyata Dylan tidak bisa menahan rasa narsisnya kali ini.
"Kamu kok tahu, aku belum tidur."
"Tahu dong, karena kelihatan dari bulu mata kamu yang gerak-gerak."
Ia selalu mengucapkan rasa syukur karena Tuhan sudah berbaik hati kepadanya telah menemukan sang istri dan juga putranya.
Tanpa sengaja ia membuka mata dan membuat Milley tersenyum.
"Aku sudah tahu jika kamu belum tertidur saat ini."
"Jadi kamu sengaja dengan hal itu?"
"Iya, lah."
"Awas saja kamu ya, tunggu saja hukuman dariku," ucap Dylan yang bersiap menggelitik perut Milley hingga membuatnya tertawa terbahak-bahak.
Tangan Dylan yang sangat lihai saat menggelitiknya, membuat Milley tidak kuasa menahan rasa geli.
"Ampun, Sayang, ampun ...."
"Akuu mohon sampai kapanpun kamu jangan pernah berharap untuk pergi dariku, aku sungguh tidak bisa hidup tanpamu."
"InsyaAllah, Sayang. Jika Allah menijinkan kita bersama maka kita akan bersama selamanya."
"Aamiin."
BERSAMBUNG
__ADS_1