NOTA HUTANG DI ATAS PERNIKAHAN

NOTA HUTANG DI ATAS PERNIKAHAN
Bab 74. NIKAH DADAKAN


__ADS_3

Hari ini Dylan dan Rose akan menjalani pernikahan. Kali ini mereka yang datang ke kantor catatan agama untuk mengucap ijab kabul.


Rose tidak mau kejadian tidak mengenakan itu kembali terulang untuk kedua kalinya. Maka ia menyewa penjagaan ketat hari ini.


"Tuhan, lancarkanlah acara hari ini. Aamiin."


Rose menangkupkan tangannya selama berdoa. Hingga lima menit kemudian acara itu berlangsung. Beruntung tidak ada sesuatu hal yang menghalangi acara itu.


Rose tidak hentinya bersyukur karena saat ini ia resmi menjadi istri Dylan. Nyonya Rebecca, Andreas dan Tuan Chryst menjadi saksi acara sakral tersebut. Meskipun ragu, tetapi Dylan tidak bisa menolak permintaan Rose untuk segera menikahinya.


Sementara itu, hati dan pikiran Andreas berkelana karena masih memikirkan Lena dan Milley. Ia kehilangan jejak mereka karena kecelakan yang terjadi beberapa bulan yang lalu.


"Kemana perginya mereka, kenapa jejaknya tidak bisa aku tembus."


Pernikahan ini dipercepat karena sesuatu hal penting. Lagi pula usia kandungannya sudah tiga bulan. Ia takut pandangan orang-orang terhadapnya nanti. Dengan senyum yang tidak pernah luntur Rose menggandeng lengan Dylan.


"Makasih, sayang ... akhirnya kita menikah."


Tidak ada jawaban lain kecuali iya dan bersyukur.


"Sebaiknya kita segera pulang, aku nggak mau kamu kenapa-napa saat ini."


"Iya, sayang," ucapnya.


Dylan segera membawa Rose kembali ke rumah setelah acara itu. Memang tidak ada acara lain setelah akad nikah. Hal itu agar mulut orang-orang terbungkam sempurna dan menjaga reputasi dari Keluarga Anggara.

__ADS_1


"Tidak ada resepsi tidak masalah, tetapi yang terpenting aku sudah menjadi istrimu," ucap Rose di dalam hatinya.


Meskipun begitu, Rose tetap bersyukur. Apalagi Rebbeca juga menginginkan hal ini terjadi. Sebuah pernikahan yang akan mengukuhkan posisi Dylan sebagai pewaris utama.


Tidak mau istrinya kelelahan, Dylan memilih untuk mengantar pulang Rose ke rumah baru yang lebih minimalis. Namun, Rose tidak tahu akan hal itu.


Di dalam perjalanan, perasaan Rose tidak enak. Apalagi jalan yang mereka tempuh beda arah dengan tujuan ke kediaman Tuan Chryst.


"Dylan, kita mau kemana?"


"Mau pulang, sayang. Kenapa?"


"Kenapa arah rumahnya beda?"


"Oke."


Di dalam hati Dylan, ia tidak mau jika terus merepotkan Tuan Chryst saat ini. Sebagai seorang laki-laki, Dylan memilih untuk memulai perekonomiannya mulai dari nol.


Setelah sampai di rumah yang baru, mata Rose membola, karena hal ini di luar bayangannya. Rumah yang di dalam pikiran Rose adalah rumah super mewah sama seperti rumah Tuan Chryst.


"Kenapa rumahnya seperti ini?"


"Memangnya kenapa, aku baru bisa membeli rumah ini. Apa kamu keberatan?"


Sontak saja Rose marah, tetapi ia tidak boleh menunjukan sifat aslinya saat ini. Dylan baru saja mulai mencintainya, kalau sampai ia membangkang, Rose takut Dylan akan menceraikannya.

__ADS_1


"Apa-apaan Dylan, kenapa tidak kembali ke rumah Kakek?"


Dylan memegang bahu Rose untuk duduk. Dipandanginya kedua mata istrinya tersebut.


"Bukankah kita lebih baik tinggal sendiri. Apalagi kita sudah menikah. Aku tidak mau merepotkan kakek untuk terakhir kalinya."


"Aku memang memilih untuk memulai perekonomian baru setelah kita menikah. Toh itu memang bukan hartaku. Itu adalah harta kekayaan kakek. Jadi aku tidak mau merepotkannya atau memaksa beliau untuk memberikan hartanya padaku."


"Kalau bisa aku malah membahagiakannya di hari tuanya," ucap Dylan.


Padahal ia sangat ingin menguasai seluruh kekayaan dari Tuan Chryst. Agar kelak kehidupannya tidak merana.


Namun, itu hanya sebatas keinginan. Kenyataannya tidak begitu.


"Apakah aku bisa?"


"Asal aku bersamamu, pasti bisa, sayang."


Dylan mendekap tubuh istrinya itu. Mencoba menyakinkan jika semuanya akan baik-baik saja.


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2