
Pagi harinya, dengan kepala masih pening, Dylan sudah bangun lebih dulu. Dirabanya wajah guling hidup di sampingnya itu. Sesekali ia mengecup mesra kening Milley.
Tidak lupa menoel bulu mata Milley yang lentik itu. Tentu saja hal itu membuat Milley terganggu, tetapi Dylan terkikik geli karena tingkahnya sendiri.
Takut terkena auman dari Milley, Dylan bergegas berlari ke kamar mandi. Sayang, karena terburu-buru ia membentur pintu kamar mandi.
"Astaga, sial amat pagi-pagi."
Melihat pergerakan Milley yang semakin teratur, Dylan segera menutup pintu kamar mandi. Sementara itu, Milley merapikan selimutnya karena dingin, lalu sesaat kemudian ia bangun.
"Bukannya ini kamar Dylan, lalu kemana dia?"
Tidak mau membuang kesempatan, ia berlari keluar dari kamar itu untuk menuju kamarnya. Tanpa ia sadari, tas dan celananya masih tertinggal di kamar Dylan. Begitu pula dengan jaket milik Michael yang tidak sengaja ia bawa sampai rumah.
Pagi-pagi sekali, Michael sudah kembali dari aktivitas jogingnya. Ia memang terbiasa hidup sehat, oleh karena itu meski pulang malam dan terlambat tidur ia tidak pernah absen untuk olah raga pagi. Lagi pula ia hidup sendirian di Indonesia, selama itu pula ia harus menjaga tubuhnya sendiri.
Sepeninggal adiknya, kedua orang tua Michael lebih memilih untuk tinggal di Paris. Mereka tidak ingin ingatan tentang kematian adiknya membuat kesehatan Ibu Michael kembali menurun.
Selepas meneguk air mineral, Michael mengambil gawai miliknya dan mengirim pesan pada Milley.
"Selamat pagi," tulisnya singkat.
Sementara itu Milley baru saja selesai mandi dan masih menutup kepalanya dengan handuk. Ia terjingkat ketika Dylan sudah menatapnya di ambang pintu sambil memegang barang-barangnya.
Tentu saja Milley tidak suka dan langsung merebut gawai miliknya. Namun, Dylan tidak membiarkan Milley dengan mudah mendapatkan gawainya kembali.
Ia mengangkat salah satu tangannya ke atas sambil terus menghindari Milley.
"Dylan, kembalikan!"
"Nggak bakal!"
"Dylan, jangan mancing deh!"
Satu tarikan tangan Dylan ternyata mampu membuat Milley jatuh dalam delapan Dylan, hingga hampir saja bibir mereka beradu. Tepukan tangan dari arah belakang membuat Milley dan Dylan menghentikan kegiatannya.
__ADS_1
Dylan menoleh karena terkejut, "Mama?"
"Dasar gadis murahan!" ucap Rebecca dengan sombong.
"Jaga ucapan Mama, dia tunanganku dan calon istriku, Ma!"
Dylan yang tidak terima akan ucapan Mamanya hanya bisa menyembunyikan Milley di belakang tubuhnya. Dylan menyeringai, ia sama sekali tidak bersikap sopan ataupun patuh pada Rebecca.
Namun, Rebbeca mendekati Dylan dengan gaya sombongnya. Ia menyentuh wajah putranya lalu mulai merentangkan tangannya.
"Mama kangen, Sayang."
Dylan menepis tangan Rebbeca yang ingin menyentuhnya. Dari balik tubuh Dylan, sesekali Milley mengintip. Ia ingin memastikan seperti apa wajah ibu lelaki angkuh dihadapannya ini.
Namun, tidak disangka Dylan menarik Milley lalu pergi menjauhinya. Dibuangnya handuk yang menutupi rambut Milley ke sembarang arah lalu menyuruh pelayan untuk membereskannya.
"Pelayan, cepat rapikan kamar Nona Milley!"
"Si-siap Tuan," ucapnya penuh hormat.
"Maaf, Nyonya Besar, saya permisi!"
Rebecca memandang nanar kepergian putranya tersebut. "Bisa-bisanya ia mengabaikan kehadiranku!"
Tidak mau tinggal sendirian di sana, Rebbeca menyusul Dylan dan Milley ke lantai bawah. Ternyata mereka ke ruang makan, di sana juga sudah ada Tuan Chryst dan suaminya.
"Ada apa kalian semua kesini?" tanya Tuan Chryst dengan tatapan dingin.
Rebecca dan Andreas terdiam di tempatnya. Tidak ada satu pun orang yang berani bicara saat itu, begitu pula dengan Milley dan Dylan.
Milley sesekali masih menatap ke arah Rebecca yang ternyata sejak tadi menatapnya dengan tatapan sulit diartikan. Meskipun begitu ia tau jika Ibu Dylan sangat membencinya.
"Kenapa kalian diam? Apa mulut kalian disumpal lem, sehingga sepatah kata pun tidak bisa terucap saat ini!"
Jo sama sekali belum bereaksi. Biasanya ia akan ikut berkomentar, tetapi entah kenapa situasinya sangat kontras dan terasa mencekam. Kehengingan itu seketika mencair karena gawai Milley berdering dan tidak mau berhenti.
__ADS_1
"Ma-maaf," cicit Milley sambil meraih gawainya.
Milley menatap ke arah Tuan Chryst sebentar untuk meminta ijin.
"Maaf, Kek. Milley permisi sebentar, ada telepon dari Pak Dosen."
"Pergilah, selesaikan urusanmu dan segera kembali."
"Terima kasih, Kek," ucap Milley sambil membungkuk hormat ke semua orang.
Cepat-cepat Milley keluar dari ruang makan menuju halaman belakang. Sepanjang jalan ia terus mengucap syukur, "Alhamdulillah bisa lolos dari terkaman nenek sihir."
Sesampainya di sana, Milley segera mengangkat panggilan telepon.
"Hallo Pak Dosen, ada apa?"
"Ha-ah, kok Pak Dosen, kamu nggak salah minum obat, kan?"
"Wkwkwk, enggak sih, tapi suasananya lagi emergency, Pak."
"Oh, jadi aku ganggu, nih?"
"Bukan, kata siapa? Justru panggilan telepon dari Pak Dosen menyelamatkan saya."
"Syukurlah kalau begitu."
Tidak disangka karena terlalu asyik bercakap-cakap, Milley tidak sadar ada yang mengawasinya dari kejauhan. Lalu siapakah itu?
.
.
Penasaran, tunggu di update selanjutnya.
...🌹Bersambung🌹...
__ADS_1