
Setelah perjalanan yang begitu panjang akhirnya pesawat yang ditumpangi Milley dan Dylan sudah sampai di Ibu Kota. Berita tentang kesehatan Tuan Chryst yang tiba-tiba menurun drastis, membuat mereka harus mengubah tujuan awal yang seharusnya langsung menuju rumah, harus dirubah menuju ke Rumah Sakit tempat Tuan Chryst di rawat.
Raut kecemasan terlihat jelas di wajah Dylan dan Milley. Sesuatu yang tidak mereka inginkan malah terjadi saat ini.
"Haruskah aku menunggu sampai Dylan kembali atau sekarang saja?" tanya Rebecca sambil menatap wajah kekasihnya.
"Kalau kau yakin ya lakukan saja saat ini, kenapa harus menunggu putramu itu kembali?"
"Baiklah, Sayang. Jangan marah-marah seperti itu, oke."
"Oke, aku akan selalu berada di sisimu."
"Terima kasih, Sayang."
Sementara itu derap langkah Dylan dan Milley terlihat buru-buru saat ini. Keduanya sedang menuju ke tempat sang kakek dirawat. Kata dokter, gula darahnya tiba-tiba turun sehingga ia harus dilakukan penanganan cepat oleh para tenaga medis.
Saat ini kepala Dylan harus memikirkan banyak hal, terutama jika ada hal terburuk yang terjadi di sana. Namun, Milley selalu menguatkan suaminya. Untuk pertama kali, Dylan terlihat sangat cemas.
“Apakah semua ini karena Ibuku?” tanya Milley mulai cemas.
“Tentu saja tidak, hal itu bukan karena kamu, Sayang.”
Dylan tidak ingin membuat beban pikiran istrinya bertambah. Yang ia inginkan saat ini, semuanya kembali normal seperti dulu. Di mana saat mereka terlihat sangat bahagia tanpa ada kekhawatiran yang nampak. Dylan dan semua orang mungkin mengabaikan kedatangan Rebecca. Wanita itu sangat licik, sehingga apapun yang terjadi bisa jadi semua ini bagian dari rencananya.
Kesibukan Jo membuat ia lalai dalam mengawasi Rebecca, sejatinya jika beban tanggung jawab Jo bisa dibagi rata dengan Dylan dan Andreas kemungkinan hal ini tidak akan terjadi.
Dylan mengusap punggung tangan milik Milley. Ia sebenarnya tidak tau apa yang sebenarnya terjadi saat ini. Kemarin ia terlalu sibuk dengan bulan madunya, hingga ia mengabaikan semua pesan masuk di ponselnya.
“Semoga saja tidak ada hal serius yang terjadi pada kakek saat ini,” doa Dylan di dalam hati.
Dylan tidak tau lagi apakah semua yang terjadi saat ini karena beban pikiran tentang kondisi perusahannya atau bukan. Akan tetapi satu hal yang pasti ia akan berjuang setelah ini.
Tidak peduli apapun yang menghadangnya di depan sana, selama ada Milley di sampingnya, Dylan yakin jika ia akan berhasil melewatinya.
“Mas, aku yakin jika kita pasti bisa melewati krisis ini. Nanti aku akan berjuang bersamamu,” ucap Milley membuka menyemangati suaminya.
“Terima kasih, Sayang.”
Dylan mengecup kening istrinya tersebut dengan penuh kasih sayang. Betapa beruntungnya Dylan saat ini memiliki istri seperti Milley.
__ADS_1
Sementara itu, Michael baru saja naik pesawat menuju Indonesia. Ia sudah mempersiapkan hatinya saat ini. Terlebih lagi saat ini, ia sedikit mengubah penampilannya agar berbeda dengan terakhir kali ia meninggalkan Milley.
Adam juga telah memberikannya beberapa saran, agar penyakitnya tidak kembali kambuh. Jika hal tersebut sampai kambuh maka ia harus bed rest total agar kesehatannya bisa kembali pulih.
“Kenapa dia harus datang di saat yang tidak tepat seperti ini?” gumamnya.
Michael sedikit menyandarkan tubuhnya ke kursi. Secara tidak sengaja ia memegang tangan seorang gadis, hingga membuat Michael mengeryitkan dahinya ketika memandang gadis tersebut.
“Milley?” gumam Michael.
Gadis tersebut tersenyum melihat Michael.
“Maaf, Nona. Saya tidak sengaja melakukan hal ini?”
“Tidak apa-apa, Tuan.”
Detak jantung Michael terasa berdetak lebih kencang saat ini. Entah ini anugrah ataupun hal lain hingga membuat Michael tidak bisa berpikir jernih. Gadis di sampingnya sangat mirip dengan Milley. Bahkan sampai bola matanya pun mirip.
"Apakah ini adalah mukjizat ataukah sebuah tanda jika ia memang berjodoh dengan Milley?"
Banyak tanda tanya yang terlihat saat ini. Membuat dirinya tidak bisa memejamkan kedua matanya lagi. Rasa lelah dan pusing yang tadi menderanya kini musnah sudah.
...*** ...
Rumah Sakit
"Bagaimana kondisi kakek saya, Dokter?"
"Alhamdulillah saat ini kondisinya sudah jauh lebih baik."
"Syukurlah kalau begitu."
"Oh, ya jangan sampai membuat pikiran pasien lelah. Berikanlah berita yang baik ketika ia nanti siuman."
"Baik, Dokter."
Milley dan Dylan sama-sama tersenyum saat ini. Kemudian dari arah belakang muncul Jo. Mungkin saja ia baru saja kembali dari kantor. Terlihat dari kemeja yang ia gunakan saat ini.
"Paman Jo ...." sapa Milley ramah.
__ADS_1
"Selamat datang Tuan dan Nona, maafkan saya tidak bisa menjemput kalian," ucapnya sambil membungkuk.
"Tidak apa-apa, sepertinya Paman Jo lelah, bagaimana kalau paman istirahat. Biarkan kami yang menjaga kakek."
"Tidak usah Nona, biarkan saya yang menjaga beliau. Kalian baru saja kembali, pasti lelah."
"Ya, sudah kalau Paman memaksa. Biarkan kami istirahat sebentar sambil makan malam."
"Nah, sepertinya itu akan lebih baik."
Setelah mendapatkan ijin dari Jo, maka sepasang pengantin baru tersebut segera pergi keluar Rumah Sakit untuk mencari makan. Rasa lelah dan lapar kini lebih terasa daripada saat mereka masih berada di dalam Rumah Sakit tadi.
"Mau makan apa, Sayang?"
"Maunya makan kamu ...." bisik Dylan tepat di telinga Milley.
Tentu saja Milley segera menengok ke arah samping.
"Maksudnya?"
Otak Milley yang sedang kelaparan untuk sesaat tidak bisa terkoneksi dengan baik. Sampai tepukan halus dari tangan Dylan membuat Milley sadar jika yang diinginkan Dylan saat ini adalah makanan dalam bentuk lain.
"Dasar mesum!" pekik Milley sambil menimpuk bahu Dylan.
Tentu saja Dylan terkekeh karena hal itu. Apalagi yang ia inginkan kecuali menggoda istrinya yang lucu tersebut.
"Apa yang kau pikirkan memangnya, padahal kan aku pengen makan masakan kamu."
"Ish, emangnya kamu bisa berbohong? Dari kedua matamu saja aku bisa melihat, jika yang kamu inginkan saat ini adalah hal itu--" ucap Milley sambil berlari kecil meninggalkan Dylan.
Hampir saja Dylan kehilangan Milley kalau saja ia tidak segera menarik tubuh Milley masuk ke dalam pelukannya, karena sesaat setelah Milley berlari ada sebuah mobil yang melaju kencang dari depan hendak menabrak tubuh istrinya itu.
"Alhamdulillah kamu nggak kenapa-napa," ucap Dylan sambil menciumi pucuk kepala Milley.
Begitu pula dengan Milley, ia masih tidak percaya jika masih ada yang bersiap untuk mencelakai dirinya. Padahal ia baru saja tiba di Indonesia.
Sementara itu, seorang lelaki merasa tidak suka karena Milley selamat. Padahal target utamanya saat ini adalah membuat Milley terluka parah, sehingga istrinya merasa puas dan makin mencintainya.
Siapakah orang yang menyimpan dendam pada Milley?
__ADS_1