NOTA HUTANG DI ATAS PERNIKAHAN

NOTA HUTANG DI ATAS PERNIKAHAN
Bab 27. MEMALUKAN


__ADS_3

Suasana pagi hari begitu terasa nyaman dan hening. Hanya kicauan burung yang terdengar menyemarakkan suasana pagi itu. Tidak ada gemericik air seperti biasanya. Kilau sang surya belum juga nampak mengintip dari celah tirai jendela. Sehingga kenyamanan hakiki dapat dirasakan keduanya.


Sepasang remaja itu malah asyik bergelung di dalam selimut yang hangat. Saling menyalurkan kehangatan satu sama lain. Sampai salah satunya terusik karena memegang suatu benda. Ternyata barang itu adalah barang terlarang.


"Aaaa ...."


"Huaaaaa ...."


Lemparan bantal dan guling tidak terelakan lagi saat ini. Kamar yang dulunya rapi kini terlihat berantakan.


Betapa tidak terkejut saat Milley merasa ada yang meraba tubuhnya. Begitu pula dengan Dylan yang tidak sengaja memeluk tubuh Milley dan menyenggol aset sensitifnya.


"Dasar mesum!" pekik Milley.


"Kau yang mesum!"


"Kamu!"


"Kamu, ogeb!"


Saat bangun tidur yang harusnya berteriak adalah Milley, tetapi kali ini Dylan juga ikut berteriak. Karena terkejut, dengan sengaja Milley mendorong tubuh Dylan menggunakan kedua kakinya.


"Jauh-jauh Lu!"


Tentu saja Dylan terguling ke lantai hingga membuatnya berteriak.


"Milley!" pekik Dylan sambil mengusap kepalanya.


"Apa Lu, beraninya naik ke tempat tidur gue! Mau ambil kesempatan ya?"


"Enak nih kalau sekalian gue kerjain!"


"Apa Lu liat-liat!"


Milley sontak menyilangkan kedua tangannya di depan dada, sementara itu Dylan terkikik geli.


"Wkwkwk, gue khilaf sayang."


"Bengek, woi!"


Satu bantal berhasil mengenai kepala Dylan kembali.


"Gue gelai saat Lu panggil sayang, sudah seenak jidat manggil gue sayang, masih berani naik ke ranjang pula!"


"Tapi Lu senang, kan. Satu ranjang dengan Dylan, gitu Loh!"


Plug


Merasa terganggu dengan teriakan Dylan, Tuan Chryst mengomel dari kamarnya.


"Tuh anak-anak nggak bisa liat gue tidur nyaman apa ya!"

__ADS_1


Jo yang sedang menyiapkan sarapan pagi, hanya bisa mengusap dadanya.


"Sepertinya rumah ini akan ramai sebentar lagi."


Benar saja, sesaat kemudian terdengar keributan dari kamar Dylan dan Milley. Milley yang sebelumnya tidak pernah berteriak kini harus berebut kamar mandi dengan Dylan. Keduanya tidak mau mengalah satu sama lain karena jadwal mata kuliah pagi ini sama-sama penting.


"Minggir nggak Lu!"


"Nggak, ini kamar gue, Lu yang numpang!" ucap Dylan tidak terima.


Milley yang geram segera mendorong tubuh Dylan ke tembok. Lalu dengan langkah seribu Milley segera masuk ke dalam.


"Wlek gue yang menang!" cibir Milley dari dalam kamar mandi.


"Milley!"


Dylan yang keburu sewot mengepalkan tangannya.


.


.


Beberapa saat kemudian keduanya telah berkumpul di meja makan. Keempat orang itu terdiam dalam pemikiran masing-masing. Hanya terdengar denting garpu dan sendok yang saling beradu di sana.


"Drama apalagi ini Tuhan, kenapa setiap hari bukan tambah membaik, namun semakin memburuk," ucap Jo dalam hatinya.


Milley yang lagi mode ngambek karena siklus M tiba-tiba muncul menjadi kurang bisa mengontrol emosinya. Biasanya ia akan berdiskusi atau bermanja dengan ibunya, tetapi saat ini ia malah satu rumah dengan para lelaki aneh.


"Maaf, karena ada kelas pagi, Milley berangkat kampus dulu, Kek."


Dengan cepat Milley menyambar tas miliknya lalu bersalaman dengan Tuan Chryst dan mencium punggung tangannya seperti biasa. Sedangkan Dylan, dengan seenak jidat malah membiarkan Milley berangkat kuliah dengan naik taksi online.


"Mau aku potong jatah jajanmu, atau kejar Milley segera!" ancam Tuan Chryst pada Dylan.


"Ampun, Kek. Dylan nyusul Milley dulu ya, papay."


Dylan bergegas menuruni tangga depan agar cepat sampai di garasi mobil. Sayangnya, Milley keburu masuk mobil taksi onlie. Mau tidak mau, Dylan mengekor di belakangnya.


"Maaf Non, sepertinya mobil di belakang ngikutin kita. Apa nggak sebaiknya kita berhenti dan menanyakan pada mereka tujuannya? Atau setidaknya ia bisa bantu Nona di sini?" ucap sopir tersebut sopan.


"Nggak usah berhenti, Pak. Jalan aja terus!"


"Baik, Non."


Sementara di mobil belakang, Dylan terus menggerutu. "Ditanggapi baik-baik malah merajuk. Heran gue, kok bisa ketemu gadis langka kek Milley?"


Tiba-tiba mata Milley berkedut.


"Kenapa lagi, nih mata gue!"


"Hm, pasti Dylan pelakunya."

__ADS_1


Mobil Dylan berhasil mendahului taksi online Milley dan menutup akses jalan yang akan mereka lalui. Bunyi rem yang nyaring tidak dapat dihindarkan lagi.


"Kenapa lagi, Pak?"


"Maafkan atas kelalaian saya, Nona."


"No problem."


"Nih ongkosnya, terima kasih, Pak."


Sopir itu menerima uang yang diberikan Milley dengan mata berbinar. Saat mengetahui kalau uangnya kebanyakan, sopir tersebut berteriak.


"Non, uangnya kebanyakan!"


"Nggak apa-apa, Pak. Itu rezeki Tuhan untuk Bapak."


"Ya Allah, terima kasih."


Setelah keluar dari mobil taksi online, Milley mendekati mobil Dylan. Dylan sengaja mengunci semua pintunya agar Milley kesusahan untuk masuk.


"Dylan, buka!"


"Minta maaf dulu dong!" ucapnya dari dalam mobil.


"Apa-an sih, kamu! Cepat buka Dylan!"


"No!"


Sesekali Milley melihat jam tangan miliknya lalu melihat ke sekeliling. Kebetulan sesaat kemudian muncul sebuah mobil yang memberikan tumpangan pada Milley.


"Masuk aja, nanti keburu telat!"


"Eh, iya, Kak, maaf merepotkan."


"Tidak apa-apa, yang penting kamu tidak terlambat."


Milley tersenyum kikuk, "Iya."


Tidak perlu waktu lama, ia masuk ke dalam mobil itu. Ternyata si pemilik mobil tersebut adalah orang yang kapan hari menolongnya saat di perpustakaan sekolah.


Dylan yang sengaja menutup semua pintunya menjadi kepanasan sendiri melihat Milley pergi bersama lelaki lain. Kesal dengan kenyataan yang didapatkan pagi itu, Dylan memukul stir kemudinya.


.


.


Apakah lelaki itu calon jodoh Milley yang sesungguhnya? Setuju kan kalau ada MC lain yang merecoki Dylan? Komen yuk!


...🌹Bersambung 🌹...


Sambil nunggu up mampir ke karya teman literasi Fany ya, makasih.

__ADS_1



__ADS_2