
Andaikan waktu bisa terulang kembali, mungkin itu hal yang akan diucapkan Robby saat ini.
"Maafkan, Bapak ya, Nak."
Robby menangis sesenggukan di hadapan Milley. Lena yang tidak bisa menahan air matanya hanya terisak di tempat. Sementara
sementara itu Milley sangat risih dengan kondisi itu dan ia meminta Robby untuk berdiri dan mencari tempat yang cocok untuk berbincang-bincang.
"Pak, tolong lepaskan aku, berdirilah terlebih dahulu, tidak enak dilihat orang-orang."
Milley memegang bahu Robby dan memintanya dengan tulus. Melihat ketulusan Milley, Robby mengangguk, tetapi tangannya tetap memegang Milley takut mereka akan pergi meninggalkannya.
"Ta-tapi jangan tinggalkan aku ... beri aku kesempatan berbicara."
Sorot mata Robby benar-benar membuat Milley bisa melihat kesungguhan mereka di sana.
"Iya, Bapak. Tidak apa-apa, iya nanti kita cari tempat untuk berbicara. Biarkan aku memeriksakan kondisi cucumu."
__ADS_1
Mata Robby berkaca-kaca saat ini lalu mereka segera menuju ke poli kandungan. Sementara itu Lena menjauh karena ketakutan, tetapi saat ini ia sedang bersama Lea. Sedangkan Leo sudah bersama Milley dan mengawalnya ke ruang poli kandungan.
"Mari Nyonya, silakan!"
"Terima kasih, Leo. Oh, ya kemarilah."
"Iya, saya Nona."
"Tolong awasi ayahku, dan juga ibuku, aku takut mereka akan berselisih paham."
"Baik, Nyonya," ucap Leo sambil membungkuk hormat.
Bagi Milley selalu ada kesempatan kedua bagi siapapun yang ingin bertaubat sehingga ia juga melakukan hal yang sama.
"Semoga Ayah benar-benar menunjukkan keseriusannya kali ini, aku tidak mau melukai hati Ibu setelah ini."
Sesaat kemudian akhirnya Milley pun dipanggil masuk sesuai dengan urutan antrian para ibu hamil. Beruntung pemeriksaan kali ini tidak berlangsung lama, karena tidak ada sesuatu pun yang perlu dikhawatirkan oleh Milley.
__ADS_1
Semua telah berjalan dengan lancar. Kandungan Milley dinyatakan sehat dan berkembang sesuai dengan usianya. Milley diberikan vitamin dan beberapa obat penambah darah oleh dokter. Hal itu memang biasa dilakukan dan diberikan kepada ibu-ibu hamil untuk menunjang kesehatan pertumbuhan janin di dalam kandungannya.
Setelah memastikan semua aman, maka Milley segera keluar dari poli kandungan. Ia segera menemui Robby dan ibunya. Tampak sekali ketegangan di antara Robby dan Lena.
Mereka sama-sama terdiam dan hanya saling memandang sesekali, dengan kehadiran Milley ternyata mampu mencairkan suasana di antara mereka. Lalu Milley mengajak Robby dan Lena untuk pergi sebentar keluar.
Sebelumnya Robby juga sudah meminta izin kepada pihak Rumah Sakit agar memberinya waktu bertemu dengan keluarganya. Setelah itu ia mengikuti Milley dan Lena untuk pergi ke seberang jalan.
Mereka akan mengobrol di sebuah cafe tepat di depan Rumah Sakit pada awal mulanya. Robby hanya terdiam. Namun, ia tidak ingin membuang waktu lagi dan langsung mengatakan apa keinginannya saat itu. Ia berulang kali mengucapkan kata maaf dan maaf kepada Milley dan juga Lena.
"Aku minta maaf, maafkan aku ...."
Robby tergugu karena ucapan tulusnya saat ini. Ia benar-benar mengatakannya dari lubuk hati yang terdalam. Milley bisa melihat dengan jelas ketulusan Robby. Lelaki yang berada di hadapannya saat ini, sangat berbeda dengan lelaki yang sangat beringas beberapa waktu yang lalu.
Entah kenapa ia terlihat seperti orang yang baru. Meskipun Lena takut, tetapi ia akhirnya menuruti semua keinginan putrinya. Milley selalu melindunginya oleh karena itu ia pun memaafkan Robby.
"Bapak, kami sudah memaafkan kesalahanmu, akan tetapi maafkan kami yang tidak bisa tinggal bersama dirimu lagi. Saat ini kami memiliki kehidupan masing-masing dan aku mohon Bapak mengerti."
__ADS_1
"Baik, terima kasih, Nak."
Ia sungguh menyesal dengan perbuatannya dahulu sampai memberikan luka yang mungkin tidak akan bisa terhapus oleh waktu. Meskipun pada akhirnya mereka tidak mau menerima kehadirannya tetapi setidaknya Robby bisa mendapatkan kata maaf dari Milley dan Lena itu sudah lebih cukup untuknya.