
Robby sudah menjalani hari-harinya dengan tenang. Meskipun terkadang ia merindukan teman-teman gila-nya terdahulu. Banyak hal yang ia pelajari dari lingkungan Rumah Sakit.
Yaitu sikap berbagi dan sikap saling menolong siapapun dan tanpa membedakan status sosial mereka. Meskipun baru saja mengenal, tetapi senior mereka lebih ramah dan baik kepadanya. Mungkin itulah arti sebuah persahabatan dan sikap toleransi.
Di saat ia baru melihat halaman di depannya ia seperti melihat putrinya. Seorang putri yang sudah lama hilang dan sempat membuatnya menjadi gila karena teringat perbuatan jahatnya.
"Bukankah itu, Virgo?" gumam Robby.
Senyumnya merekah.
"Ya, itu putriku yang cantik dan kuat."
Ia memang baru saja menyapu halaman belakang Rumah Sakit. Kebetulan di sana masih ada satu poli kesehatan yang berdekatan dengan tempat tinggalnya, yaitu sebuah ruang pengambilan darah untuk tes laboratorium dan sisanya belum dibersihkan. Oleh karena itu ia pergi ke sana.
Namun, saat matanya menyipit, ia baru memahami jika hal itu bukanlah sebuah kesalahan atau sebuah fatamorgana. Ia benar-benar bisa melihat Virgo di sana.
"Putriku, lihatlah ayahmu ini, Nak."
Tidak ada hal yang lebih membahagiakan kecuali bisa bertemu dengan putrinya dan meminta maaf saat itu juga.
"Mungkin benar itu tadi Virgo, semoga saja ada Lena juga di sini. Aku sangat merindukan mereka berdua," ucapnya terharu.
Saat ia hendak berlari mengejar Virgo ternyata ada sebuah brankar lewat di depannya bersama beberapa tenaga medis yang terlihat sangat buru-buru. Tentu saja hal itu membuat Robby kehilangan jejak Virgo karena rombongan tenaga medis yang melalui hadapannya.
"Virgo, Bapak rindu ...." ucapnya sambil menyeka air matanya.
Lama menahan, akhirnya air matanya tidak tertahankan. Tidak terasa, air matanya turun dengan derasnya.
Entah kenapa ada rasa sakit yang menyelimutinya saat ini. Ketika ia baru menyadari kebejatan yang pernah ia lakukan pada putri dan istrinya dulu, ternyata sangat membuat jiwa Robby terluka.
"Maafkan Bapak, Nak."
Mungkin jika ia diberikan kesempatan kedua ia akan berusaha sebaik mungkin untuk membuatnya bahagia dan menebus semua kesalahan yang pernah ia perbuat saat itu. Karena bagaimana pun kisah mereka tidak akan ada cerita bekas anak dan bekas ayah.
Ternyata meskipun dulu ia sangat membenci keberadaan Virgo, akan tetapi saat ini ternyata hatinya mulai terbuka. Masih ada cinta dan kasih sayang yang tersimpan di dalam hati Robby untuk keluarga kecilnya.
"Aku harap kita akan bertemu suatu saat nanti, Nak," doanya tulus dalam hati.
Selepas dari Rumah Sakit, Milley bergegas pulang. Ia pun bersiap untuk memasak. Entah kenapa saat mencium bau masakan yang ia suka, seketika niat memasak mulai muncul.
__ADS_1
Saat Robby terus memikirkan Virgo dan Lena.
Pada saat yang sama, Milley sedang asyik memasak di dapur. Sehingga seorang wanita yang belum memasuki usia tua mendekati Milley.
"Nona, kenapa Anda memasak kembali? Bukankah sudah ada banyak pelayan yang sudah berkompeten di bidangnya masing-masing."
Nanni terlihat jauh lebih tegas daripada berapa waktu yang lalu. Hal itu ia lakukan agar bisa mendisiplinkan tata krama pada Nyonya mudanya, apalagi ia sedang hamil muda.
Milley hanya nyengir jika disuruh untuk memahami perkataan dari Nanni. Baginya memasak nasi adalah dengan menggunakan bumbu jauh lebih enak daripada hanya diberikan lauk saja.
"Iya, Nanni sayang, sekali saja."
Beberapa kali ia memberikan rempah-rempah pada masakannya membuat selera makannya bertambah. Bukan hanya itu saja, ia sengaja memberikan bumbu untuk masakannya agar ia bisa makan dengan lahap.
Nanni hanya bisa mengelus dada ketika melihat Milley sangat bersemangat saat menyentuh peralatan masak. Meskipun begitu, ia tetap berusaha untuk mengamati sendiri apa yang dikerjakan Milley ketika di dapur. Sehingga saat Dylan meminta pertanggung jawaban ia bisa mengatakan dengan jelas.
Maklum saja, sejak hamil ia sangat sulit untuk menyentuh makanan yang bernama nasi putih. Untuk mengakali hal tersebut ia sengaja memberikan bumbu di sana. Satu hal lagi yang membuatnya tetap memasak adalah ia hanya mau makanan yang dibuat oleh tangannya sendiri.
Jika makanan yang dibuat oleh pelayan, mungkin saja akan membuat sebuah gejolak kecil di dalam perutnya. Namun, ia tidak ingin melukai hati Nanni, maka dari itu ia pun sedikit berhohong.
"Nanni, Sayang ... bukankah memasak adalah sebagian dari seni dan aku menyukainya. Apakah aku harus dimarahi saat ini?" ucapnya dengan memelas.
"Lah, kok gitu, Non?"
"Jangan panggil aku dengan sebutan itu, panggil saja seperti biasanya, Milley."
"Maafkan saya, Nyonya hamba tidak berani."
"Ya sudah, terserah Nanni, Sayang aja."
Melihat beberapa makanan sudah siap sedia di atas meja, maka Nanni ingin undur diri.
"Ya, sudah silakan Nona eh Nyonya Milley untuk makan pagi, saya permisi."
Nanni membungkuk hormat saat itu lalu setelahnya ia pergi ke luar rumah untuk berbelanja. Kebetulan stok bahan makanan habis. Namun, Milley tertarik ketika melihat asisten rumah tangganya pergi keluar kamar.
Sehingga membuat Milley mengikuti langkahnya sampai pintu depan. Lalu sesaat kemudian ia pun menegurnya.
"Nanni, apa kau mau ke mini market?"
__ADS_1
Nanni mengangguk lalu kembali mendekati Milley.
"Apa ada yang ingin Nyonya inginkan? Biar sekalian saya belikan."
"Biar saya saja yang pergi ke pasar. Nanni bekerja di rumah saja."
Nanni terperangah karena hal itu, bahkan saking terkejutnya mulutnya masih menganga lebar."
"Tidak bisa begitu, Nona. Maaf saya tidak berani!"
"Loh, kan saya Nyonya kamu, seharusnya tidak ada masalah yang perlu di khawatirkan, bukan?"
"Tunggu sebentar, biar saya menelpon Tuan Dylan terlebih dahulu karena takut amukan dari Tuan Chryst," ucap Nanni sambil menunduk.
"Silakan tapi jangan lama-lama."
"Baiklah jangan diganggu, Nyonya, please."
Milley terkikik karena melihat Nanni yang ketakutan.
Ia mengangguk, lalu Nanni segera melakukan sambungan telepon. Ia menelpon di halaman rumah karena tidak terlalu gelap.
Sementara itu Milley berharap cemas karena takut tidak akan diperbolehkan oleh Dylan.
"Awas saja kamu tidak memberikan ijin kepadaku, bisa-bisa kamu tidur di luar kalau beneran begitu," gumam Milley sambil menyilangkan tangan di depan dada.
Sesaat kemudian, Nanni beralik lalu sesaat kemudian ia membuang nafasnya secara perlahan.
"Bagaimana Nanni?" tanya Milley dengan mata berbinar.
"Silakan Nyonya Muda ikut saja, akan tetapi pesan dari Tuan Dylan menyuruh kepada Anda agar sarapan pagi terlebih dulu dan jangan lupa minum susu ibu hamil."
"Yes, oke Nanni cantik."
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1