
Andreas menuruni tangga dengan cepat. Tidak sengaja di ujung tangga ia bertemu dengan Virgo atau Milley. Tatapan mereka saling beradu membawa Andreas flash back ke masa lalu.
"Apakah ini hukuman untukku atas semua perbuatan yang telah dilakukan di masa lalu?" batinnya.
Kenapa wajah Lena selalu membayangi dirinya, sementara saat ini ia belum menemukan keberadaan Virgo. Andreas masih merutuki dirinya yang terlalu bodoh karena menerima Rebecca sebagai istrinya di masa lalu.
"Andai waktu bisa aku ulang, aku pasti tidak akan pernah menyesal seperti ini."
Semua penyesalan kini datang menjadi satu, membuat sesak di dalam hati Andreas semakin bertambah. Hal itu sama saja semakin membuatnya terluka. Bahkan untuk melihat masa depannya saja ia tidak sanggup.
"Tuhan, berikan aku waktu agar nanti aku bisa mengatakan jika aku memang sangat mencintai Lena, tetapi tunjukkan keberadaannya saat ini," doanya dalam hati.
Tidak berapa lama kemudian, Dylan datang. Ia menatap tajam ke arah Andreas dan Milley yang berada tidak jauh darinya. Dengan tatapan tidak suka dan langkah memburu Dylan segera mencekal lengan Milley, menariknya hingga tubuhnya terjatuh dan memeluk Dylan.
"Sa-sayang, apa yang kamu lakukan?" protes Milley.
Dylan terdiam, sementara Andreas tidak bisa mengatakan apapun. Ia hanya bisa mengepalkan tangannya. Dia juga tidak tahu harus berbicara apa ataupun menyapa, hingga lebih memilih pergi karena menatap wajah Milley saja sudah membuat dadanya sesak seperti ini.
Andreas tidak pernah menyapa Dylan atau pun menganggapnya ada. Meskipun ia darah dagingnya tetapi karena rasa benci yang tertanam untuk Rebecca membuat ia juga membenci keberadaan Dylan.
"Dasar anak muda tidak tahu diri, bisa-bisanya menatap ayahnya seperti itu!" umpatnya sebelum pergi.
Andreas merasa tidak tahan ketika ia harus berlama-lama ketika berada di rumah itu. Apalagi ia tidak mendapatkan keinginannya di sana. Andreas dengan langkah cepat atau berpamitan kepada putranya, dia langsung melangkah pergi keluar menuju mobilnya.
"Lebih baik aku segera pergi!" ucapnya sambil melangkah pergi.
Padahal dari arah kejauhan, ia bisa melihat jika lelaki tersebut pergi dengan situasi hati yang tidak membaik, tetapi Dylan membiarkannya.
Milley yang melihat ketidak harmonisan ayah dan anak itu tidak bisa berbuat banyak.
"Kenapa lelaki itu seperti ingin mengatakan sesuatu?" ucap Milley di dalam hati.
__ADS_1
Namun, Milley tidak mau ikut campur. Ia hanyalah tamu di rumah tersebut. Tidak ada hal lain yang membuatnya bisa berkata apapun saat ini ataupun ia bisa melakukan hal lain. Daripada memikirkan hal itu, ia lebih baik memikirkan cara agar Dylan bisa membuang egonya. Lagi pula ini bukanlah kapasitasnya.
Sementara itu, di rumahnya, Rebecca sedang asyik bermain dengan teman sosialitanya. Sejak ia menjadi menantu di dalam keluarga Anggara adalah kehidupan kelas sosial atas.
Morena sangat tahu, jika sejak dulu Rebecca paling suka hidup dengan gaya sosialita kelas atas. Oleh karena itu, ia pun menjadikannya menantu.
Nyonya Morena semakin membuat kehidupan Rebecca semakin berkelas. Apa saja yang menjadi keinginannya selalu dikabulkan oleh Morena. Akan tetapi hal itu berbanding terbalik dengan Tuan Chryst.
"Jangan pernah datang atau masuk ke dalam ruanganku!" gertak Tuan Chryst menatap tajam ke arah Rebbeca.
"Kenapa, Ayah?"
"Jangan panggil aku Ayah, karena kamu bukan anakku, aku juga tidak pernah menganggap sebagai salah satu menantu di rumah ini, paham!"
Rebecca me-re-mas ujung bajunya, ia merasa sakit hati atas perlakuan dari Tuan Chryst. Daripada ia semakin gila, akhirnya Rebecca memilih pergi dengan menahan isak tangisnya. Sesampainya di mobil, tangisnya pecah.
Rebecca memukul stir kemudinya, ia merasa hancur saat itu, tetapi di saat yang sama kebencian untuk Tuan Chryst mulai muncul.
Tuan Chryst yang melarang Rebecca agar ia tidak bisa mendekatinya, membuat sebuah bom atom untuknya di kemudian hari.
Beruntung ada penyembuh luka yang diberikan dari Nyonya Morena untuk Rebecca. Ia tidak pernah mempermasalahkan kebiasaan menantunya itu, yang terpenting ia sudah memberikan seorang cucu laki-laki sebagai calon penerus kerajaan bisnis Anggara Corp.
Namun, ternyata kebaikan itu disalah artikan olehnya. Hingga kebiasaan buruk itu dilanjutkan saat dirinya meskipun ia hanyalah seorang menantu dari keluarga kaya. Keberuntungan terus menghinggapi Rebecca, karena Dylan tumbuh sehat dan mampu membuat mertuanya selalu membanggakannya.
Rebecca terus memendam benci pada Tuan Chryst, meskipun ia sangat menyukai putranya. Satu hal yang membuat ia bertahan adalah status Dylan di masa depan. Apalagi putranya di akui menjadi pewaris tunggal di keluargaan itu.
"Jika mereka tahu ada campur tangan orang lain yang tumbuh di dalam darah Dylan, apakah mereka akan membenciku, ah ... kalau pun itu terjadi aku tidak akan pernah takut."
Meskipun begitu Rebecca tidak pernah takut kalau identitas putranya terbongkar, karena ia sama sekali tidak takut saat semua aset yang dimiliki dirinya sudah dialihkan nama atas nama Rebecca.
Bibirnya selalu melengkung ke atas membuat dirinya semakin terlihat cantik di usianya yang sudah tidak muda lagi. Perawatan yang rutin selalu ia lalukan agar dirinya selalu terlihat menawan. Pertanyaan dari teman sosialitanya tidak pernah ia ambil pusing. Ia selalu bisa menjawab hal itu dengan santai.
__ADS_1
"Jeng di mana suami kamu?"
"Ya lagi kerja lah, masa main wanita?"
"Hust, hati-hati kalau ngomong, takutnya di Aminin sama malaikat bisa kapok Lu."
"Amit-amit deh."
Tiba-tiba saja, Andreas melewati barisan ibu-ibu rempong tadi. Dari auranya saja ia bisa memastikan kalau suaminya sedang tidak baik-baik saja.
"Sebentar ya, aku naik dulu."
Sesampainya di kamar, ia membuka pintu dengan perlahan. Bola matanya menangkap sosok Andreas sedang berada di balkon. Ia hampir saja menyalakan rokok miliknya sebelum akhirnya Rebecca membuangnya.
"Mas ada masalah?"
Andreas menoleh, "Apa perdulimu?"
Rebecca merapatkan tubuhnya ke samping suaminya, "Aku butuh duit, lima puluh juta!"
"Gila! Buat apa lagi?"
"Hust, jangan keras-keras kenapa sih, ingat kita tuh menikah karena simbiosis mutualisme, kalau kamu sudah nggak butuh aku, ya ceraikan saja. Toh, sebentar lagi putraku yang mempimpin perusahaan, aku bisa meminta uang darinya."
Rebecca membetulkan roknya lalu mulai beranjak pergi, tetapi salah satu tangannya dipegang oleh Andreas.
"Bantu aku sekali lagi," rengeknya.
"Aku bisa membantumu asal bayarannya sepadan," ucapnya sambil menunduk hingga kedua gundukan itu menggoda iman Andreas untuk melahapnya.
Sudah lama ia tidak bermain di sana. Ingin rasanya ia memeluk tubuh istrinya itu tetapi entah mengapa ia tidak suka akan mulut pedasnya. Hingga gairah yang awalnya memuncak sirna sudah saat istrinya mulai mengancamnya lagi.
__ADS_1
Andreas terkadang bingung dengan perasaannya, tetapi ia masih waras ketika berhadapan dengan Rebecca.