
Jingga memasuki ruang kerja Dylan. Sepulang dari perjalanan dinasnya ia segera menemui sahabatnya tersebut. Bermula sejak beberapa tahun yang lalu persahabatan Dylan dan Jingga sudah seperti kakak dan adik.
Sebenarnya usia Jingga lebih muda dari Dylan. Namun, berkat kecerdasan otaknya ia bisa menyelesaikan pendidikan jenjang kedokteran dalam waktu singkat.
Jingga tidak pernah berpacaran dan ia hanya fokus pada pekerjaannya saja. Mungkin beberapa dokter yang mendekatinya beranggapan jika Jingga mempunyai kedekatan khusus dengan Dylan. Sehingga mereka hanya memendam perasaannya saat ini.
"Hei ... Beberapa bulan tidak bertemu denganmu wajahmu semakin cubby saja."
"Ha ha ha ... biarkan saja, biar para lelaki itu jenuh mengejarku," ucap Jingga acuh.
Ia mendaratkan panggungnya pada baju sofa, setidaknya bisa merilekskan otot-otot di tubuhnya saat itu.
"Tumben ke sini, Ibu dokter. Bukankah aku sudah kau nyatakan sembuh?"
"Kak, jangan meledekku. Aku ingin berdiskusi kepadamu saat ini, makanya aku datang kemari!" ucap Jingga dengan tegas.
Dylan menautkan alisnya, mencoba bersikap santai ketika adik angkatnya itu ingin curhat kepadanya.
"Katakanlah, aku akan mendengarkan ucapanmu itu dengan seksama."
"Ehem, jadi begini ceritanya ...."
Jingga menceritakan masalah hatinya kepada Dylan. Entah kenapa kalau soal masalah hati ia lebih suka bercerita kepada Dylan dibandingkan bercerita kepada orang lain.
Sejak lama sebenarnya Jingga sudah mempunyai tambatan hati, hanya saja enam tahun yang lalu ia kehilangan jejaknya. Sehingga ia pun menutup hatinya untuk pria yang lain.
Padahal saat itu keluarganya juga tidak mempermasalahkan status pria itu yang bukan berasal dari keluarga kaya, namun takdir berkata lain.
"Seandainya saja ia kembali, mungkin semuanya tidak akan seperti ini."
Tampak gurat kesedihan yang terpancar dari wajah cantik Jingga. Dylan bisa melihat hal itu dengan jelas.
"Sudahlah, semuanya sudah terjadi. Kamu tenanglah, aku yakin suatu saat Tuhan pasti akan menjawab doa-doamu. Sekarang pulanglah dan istirahat."
Jingga memijit pelipisnya yang berdenyut.
"Aku lelah, kak. Tapi aku harus kembali bekerja setelah ini. Mungkin aku akan ambil cuti saja."
"Hei, mana bisa begitu, pekerjaan sebagai dokter dan psikolog itu pekerjaan yang mulia. Seharusnya kau bersyukur akan hal itu dan jangan menyerah."
"Tapi dokter juga manusia."
"Eh, benar juga. Buktinya dokter spesialis psikologi kaya kamu aja konsultasi pada mantan pasien, ha ha ha ...."
"Kakaaaakk ....!" pekiknya kesal lalu membuang muka.
Sementara itu di kota tempat Milley dan Jord tinggal.
__ADS_1
Pagi harinya, suasana tampak aman dan nyaman. Jord juga tidak menanyakan keberadaan ayahnya saat itu. Ia lebih memilih menghabiskan sarapan paginya tanpa bertanya apapun.
Justru Rain yang tidak mengetahui jika Dylan benar-benar berangkat tadi malam, kini ia menanyakan keberadaannya.
"Oh, ya Milley, kenapa suasana sepi sekali, ya
? Apa Dylan sakit sehingga tidak ikut sarapan."
"Uhuk!"
Tiba-tiba saja Milley terbatuk karena terkejut akan ucapan Rain barusan. Ia pun segera meraih air minum yang berada di depannya.
"Bukan begitu, saat ini Dylan dan Kean sudah kembali ke Ibu Kota."
"Loh, kenapa? Apakah ada urusan penting yang membuat mereka harus pergi tanpa pamit?"
Milley mengangguk, lalu mulai menjelaskan situasi tersebut. Rain dan Jord memperhatikan setiap penjelasan dari ibunya itu. Dari penuturan Milley dapat disimpulkan jika masalah yang muncul di dalam perusahaan kali ini, sangatlah serius.
"Ya sudah kita lanjutkan sarapan kita, doakan saja masalah ini dapat segera menemukan solusinya, Aamiin."
"Aamiin ...." seru mereka bertiga kompak.
Tidak membutuhkan waktu lama, saat ini Dylan dan Kean sudah berada di ruang rapat. Para pemegang saham semuanya berkumpul untuk membahas masalah kali ini.Banyak yang menyayangkan hal itu terjadi di saat Dylan pergi ke luar kota.
"Sepertinya kejadian ini sudah direncakan secara matang. Bagaimana mungkin ia bisa membaca situasi secara lengkap tanpa ada adanya informan dari orang dalam."
"Jangan lupa bahwa sesuatu hal yang penting tidak mungkin sembarang orang bisa melakukan hal itu."
"Setuju, hal ini justru membuat sebuah pertanyaan kepadaku siapa yang berani menyinggung CEO kita. Mungkin ia sudah bosan hidup, ha ha ha ...."
Ketegangan yang sempat terjadi kini sudah mulai mereda. Mereka sungguh cepat mengambil tindakan melanggar hukum itu. Dengan kekuatan yang solid dan kompeten, setidaknya permasalahan keuangan kali ini bisa cepat selesai.
"Baiklah karena kesepakatan kali ini sudah tercapai. Maka rapat pagi ini kita tutup. Terima kasih."
Gerald kebetulan pagi itu ia belum berangkat ke kantor. Sehingga Gerald tidak tahu tentang inti pembahasan yang sudah mereka sepakati. Ia bahkan masih tertidur lelap di kamarnya. Sampai gedoran dari luar kamar membuatnya membuka mata.
"Siapa yang mengganggu tidurku!"
Gerald tampak kesal kali ini. Bahkan tanpa memakai atasan ia berjalan ke arah pintu yang terus diketuk dari luar.
Ceklek ....
"Gerald, aku merindukanmu ...." seru seorang wanita dengan pakaian minim bahan.
Mencium bau alkohol membuat wanita itu marah.
"Kau mabuk-mabukan lagi?" ucapnya kesal.
__ADS_1
"Mabuk atau tidak bukanlah urusanmu. Lagi pula kenapa kau pagi-pagi buta mengganggu acara tidurku?"
Wanita itu tampak melihat arlojinya, amarahnya memuncak ketika hari sudah siang malah dibilang masih pagi.
"Kamu benar-benar mabuk, Gerald. Ini sudah hampir jam makan siang!"
"What's?"
Gerald buru-buru membuka mata lebar-lebar dan melihat jam dinding.
"Astaga, sepertinya aku melewatkan sesuatu ...."
Sementara wanita itu yang sudah hafal dengan kebiasaan Gerald hanya mendengus kesal.
"Kau ini, selalu saja begitu, seharusnya kamu bisa membedakan hal yang penting dan yang tidak."
Kesal dengan tingkah Gerald yang tidak berubah ia segera mendudukan dirinya di sofa sambil melihat Gerald yang kebingungan. Ingin rasanya ia berteriak saat itu, namun percuma saja. Kekasihnya itu memang terlewat malas.
"Sehari saja tidak dibangunkan langsung saja terlambat."
Sementara itu Geralda bergegas menggapai handuk dan berlari ke kamar mandi. Buru-buru ia membasuh tubuhnya dengan guyuran air dan busa sabun, agar aroma alkohol hilang.
Shesil segera membereskan tempat tidur kekasihnya lalu menyiapkan baju dan celana untuk Gerald bekerja. Tidak lupa dasi dan aksesoris yang senada dengan pakaiannya.
Setelah semuanya siap, ia kembali duduk di sofa sambil menunggu kekasihnya keluar dari kamar mandi. Tidak butuh waktu lama, Gerald keluar dari kamar mandi. Melihat semuanya sudah dipersiapkan kekasihnya ia tersenyum.
"Thank's, honey. You are the best."
"You're welcome."
Selepas semuanya siap, Gerald mencium bibir kekasihnya itu dan mengajaknya berangkat bekerja. Bukan mengajak, tetapi lebih tepatnya menyuruhnya untuk mengantarkannya ke tempat kerja.
"Kamu tuh, ya ... kebiasaan!"
"Wkwkwk, enggak apa-apa, lah, yang terpenting kamu suka."
.
.
BERSAMBUNG
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1