
Kini honeymoon sudah selesai, Milley sedang bersiap-siap untuk packing semua pakaiannya. Tidak ada yang ketinggalan di sana. Lagi pula beberapa pakaiannya hanya berisi beberapa potong saja, sehingga tidak terlalu pusing.
Lain lagi dengan Dylan yang kebingungan karena ia banyak sekali membeli pernak-pernik liburan untuk orang-orang rumah.
"Mas ... kamu masih ngapain lagi, bukankah sebentar lagi kita pulang."
"Iya, sebentar, Honey."
Tidak lama kemudian Dylan datang dengan memakai baju floral dan celana pendek. Tidak lupa kaca mata hitamnya yang bertengger di bajunya menambah kesan macho bagi Dylan.
Milley menutup mulutnya, ia menahan ketawa agar Dylan tidak marah. Bukan karena motif atau style yang ia bawakan tetapi warna yang diambil olehnya membuatnya menahan tawa.
"Tumben kamu mau pakai itu?" tanya Milley.
"Itu kan karena kamu, semua bajuku sudah kamu packing dan hanya tersisa ini di almari," ucap Dylan setengah kesal.
"Wkwkwk sorry, aku nggak sengaja, Mas."
"No problem, Honey."
Setelah memastikan semuanya siap, keduanya segera masuk ke dalam pesawat untuk kembali ke Jakarta. Sudah sepuluh hari mereka menghabiskan waktunya untuk honeymoon. Hal itu sudah lebih dari cukup untuk melakukan semuanya.
Saat ini keduanya sedang berada di dalam pesawat pribadi. Sementara itu, Tuan Chryst menunggu kedatangan mereka di kediamannya. Mungkin karena kelelahan ia terbaring lemah di sana.
Jo yang harus menghandle beberapa pekerjaan secara sekaligus membuatnya tidak bisa mengawasi Tuan Besarnya saat ini.
"Bagaimana ini, kalau Tuan sendirian di sini, pastinya tidak akan aman," gumamnya sambil memijat pelipisnya.
"Tidak ada cara lain kecuali meminta bantuan dari Tuan Michael, ya hanya itu."
Tidak membutuhkan waktu yang lama, akhirnya ia berhasil menyambungkan ponselnya ke meja kerja Michael.
"Hallo, asisten Jo apakabar?" sapa Michael ramah.
"Kabar baik, Tuan sendiri apa kabar?"
"Ya, beginilah."
Jo tidak ingin membuang waktunya lebih lama lagi. Ia sangat menyukai cara kerja Michael sehingga ia memutuskan untuk memanggil Michael untuk menyelesaikan beberapa urusan kantor yang tidak bisa ia handle.
__ADS_1
"Jadi, apakah asisten Jo yakin jika proyek tersebut aku yang mengerjakan semuanya akan baik-baik saja?"
Michael masih memastikan apakah keputusan yang diambil oleh asisten Jo benar-benar sudah benar atau ada seseorang yang memaksanya untuk menghubunginya. Karena ia masih menjaga hubungan baik dengan Tuan Chryst maka ia pun menyetujui hal tersebut.
Akan tetapi karena saat ini ia masih berada di Paris ia harus memastikan jika perusahaannya di Paris tetap aman meskipun ia kembali ke Indonesia. Nyonya Marrie yang mengetahui jika putranya akan kembali ke Indonesia merasa tidak setuju. Entah kenapa ada yang mengganjal di hatinya.
"Michael, dengarkan perkataan Mama."
Nyonya Marrie masih berdiri di belakang tubuh putranya. Ia merasa jika nanti Michael tetap kembali ke Indonesia pasti hatinya akan kembali sakit dan hal tersebut membuat ia tidak bisa menahan rasa sedihnya ketika Michael harus kembali terluka.
Michael menghentikan langkahnya lalu kembali mendekati ibunya. Tidak lupa Michael mengajak Nyonya Marrie untuk duduk di atas sofa.
"Ma, aku kembali demi rasa kemanusiaanku pada Tuan Chryst. Saat ini kondisi kesehatannya sedang memburuk, sehingga tidak ada yang bisa menghandle perusahaannya."
"Memangnya kemana perginya sang cucu? Kenapa tidak ia saja yang melakukan hal itu?"
Michael tersenyum, ia masih berusaha menyakinkan Nyonya Marrie jika ini akan baik-baik saja.
"Mereka sedang melakukan honeymoon di Kepulauan Maldives saat ini. Sehingga mereka tidak mungkin mengganggu."
Nyonya Marrie menoleh ke arah Michael, ditatapnya lekat-lekat kelopak mata Michael. Ia masih bisa melihat dengan jelas jika ada luka yang belum sembuh di sana saat ini. Hanya saja Michael mencoba untuk menutupinya.
Melihat Ibunya menangis tentu saja membuat Michael tidak kuasa untuk menenangkan beliau. Di dekapnya tubuh ibunya secara perlahan dan membiarkannya menumpahkan semua hal yang menjadi beban pikirannya.
"Maafkan kesalahanku, Ma. Aku sungguh tidak pernah meminta hal ini terjadi, tetapi ternyata Tuhan menyiapkan hal lain agar kita bisa semakin berdiri tegap."
"Ta-tapi, Nak. Mama tidak bisa menjagamu jika kau kembali kesana?"
"Mama tidak perlu khawatir, meskipun rasa ini masih ada untuknya, tetapi aku tidak akan mengambil sesuatu yang bukan menjadi hakku."
Michael mendaratkan kecupan kasih sayang di kening Nyonya Marrie. Ia tahu apa yang dikhawatirkan olehnya.
"Mama doakan saja, biar Michael segera menemukan Milley yang lain."
"Aamiin, Mama selalu mendoakan semua yang terbaik untukmu, Sayang."
"Terima kasih, Ma."
...***...
__ADS_1
Rumah Sakit Internasional Inggris.
Saat ini Lena masih dalam proses pemulihan. Beruntung ia sudah melewati masa kritis. Hari ini Andreas sedang melakukan sambungan telepon dengan Jo.
Di saat yang sama Jo meminta persetujuan dari Andreas tentang permintaannya membawa Michael kembali untuk mengelola perusahan milik Tuan Chryst agar bisa keluar dari zona krisis.
"Lakukan apapun yang menurutmu baik untuk perusahaan kita, Jo dan satu hal lagi pesanku padamu."
"A-apa itu, Tuan?"
"Tolong jaga Ayahku baik-baik."
"Tentu saja, Tuan."
"Oh, ya. Apakah Rebecca kembali ke rumah?"
"Sesuai permintaan Anda minta sebelum pergi kemarin, tidak ada yang bisa mendekati rumah ataupun Keluarga Besar Anggara."
"Baiklah kalau begitu, saya ucapkan banyak terima kasih untuk kerja keras Anda."
"Sama-sama, Tuan."
Jo menghembuskan nafasnya lega karena ia berhasil membuat sedikit bebannya berkurang. Setidaknya hari ini tidak ada hal yang perlu aku khawatirkan kembali.
Namun, dugaan Jo salah. Tiba-tiba saja kondisi kesehatan Tuan Chryst menurun drastis, sehingga mau tidak mau membuat Jo harus membawanya ke Rumah Sakit terdekat. Hal tentang kondisi yang terjadi di kediaman Tuan Chryst sudah sampai di telinga Rebecca.
Jo tidak tau jika Rebecca mempunyai seorang mata-mata di tengah para pelayan yang bekerja di kediaman Tuan Chryst. Saat ini Rebecca tersenyum senang saat menyadari jika orang tua yang selalu membencinya tidak dalam keadaan yang baik-baik saja.
"Kini saatnya aku kembali memperjuangkan apa yang seharusnya menjadi milikku," gumam Rebecca senang.
"Apa yang membuatmu bahagia, Sayang?" tanya kekasih gelap Rebecca.
Ia membelai wajah lelaki yang setia di sisinya selama beberapa tahun ini. Satu kecupan ia berikan pada lelaki itu sebagai ucapan terima kasih.
"Aku sangat bahagia saat ini karena lelaki tua tersebut kondisinya sangat kritis."
"Oh, ya? Lalu apa rencanamu saat ini?"
"Ada hal yang harus aku perjuangan saat ini, agar mereka tahu jika aku masih hidup dan tidak akan membiarkan mereka semua hidup dengan tenang."
__ADS_1