
Kagok dengan kejadian tadi pagi membuat Milley malu, gemas dan kesal luar biasa. Bagaimana ia tidak kesal karena ulah Dylan. Padahal kenyataannya ia tidak bersalah, hanya saja Milley yang sudah salah mengartikan.
"Bukannya aku sudah minta maaf, kenapa mukanya di tekuk kek pantat panci, sih!" gumam Dylan sambil melirik ke arah Milley.
Tuan Chryst yang belum sepenuhnya mengerti dengan keadaan mereka malah semakin mematik api di dalam hati Dylan.
"Milley, nanti siang kalau nggak ada jadwal kelas, ikut kakek berkeliling ke proyek baru."
"Iya, Kek. Kebetulan kelasnya pagi doang. Kata Pak Dosen hari ini jadwal di kampus lagi padat-padatnya."
"Oke, semangat belajar ya, biar nanti Jo yang menjemputmu."
"Terima kasih, Kek."
"Nah, kan kalau sedang mengobrol dengan kakek terlihat saja seolah ramah, cih. Aku tidak suka akan hal ini, ucapnya keal.
...***...
"Dylan, proyek yang kamu tangani kali ini adalah proyek penting, tetapi skripsi kamu juga sama pentingnya. Jadi aku berharap kamu serius dalam mengerjakannya."
"Siap, tetapi kalau aku kesulitan aku minta tolong siapa?" tanya Dylan sambil mengiba.
Tuan Chryst berfikir untuk sejenak. Meskipun Milley masih sangat muda, tetapi ia yakin otaknya lebih jenius daripada otak Dylan. Oleh karena itu ia memilih Milley sebagai patner dalam membantu Dylan mengerjakan skripsinya.
"Aku rasa Milley pantas menjadi partnermu, lagi pula sikap tegas yang ia miliki sama persis dengan Michael."
"Terus aja puji si dosen itu, lama-lama gue giles tu dosen."
"Bagaimana Milley, kamu nggak keberatan, bukan?"
"Sedikit," ucap Milley jujur.
Tentu saja kejujurannya membuat Tuan Chryst dan Dylan tersedak dalam waktu yang bersamaan.
__ADS_1
"Ke-kenapa? Apa ada yang salah denganku, sampai kamu keberatan menemaniku?"
Milley meringis untuk sesaat. "Suka-suka gue lah, lagi pula aku tidak bisa bekerja sama dengan lelaki arogan seperti kamu!"
Respon Tuan Chryst di luar dugaan. Baru kali ini ia melihat seorang gadis yang berani jujur mengomentari sikap Dylan. Namun, untuk menjaga martabatnya di depan kedua cucunya, Tuan Chryst tetap bersikap biasa saja. Padahal ia ingin sekali menertawakan Dylan saat itu.
Lain halnya dengan muka Dylan yang sudah mode singa lapar, rambutnya yang tadinya disisir klimis seolah sudah mekar seperti singa jantan. Anehnya Milley sama sekali tidak takut akan kemarahan Dylan.
"Milley beraninya kamu menyebutku arogan!"
Dylan menggenggam erat garpu dan pisau di tangannya. Terdengar juga deru nafas yang tidak beraturan di sana.
"Kek, Milley sudah selesai sarapan, ijin mau ke kamar sebentar, lengan Milley masih nyeri."
"Bukannya pagi ini ada jadwal chek up?"
Milley tersenyum, "Iya, Kek."
"Hati-hati."
"Kek, Dylan berangkat ke kantor dulu, nanti jadwal kuliah siang."
"Hm, hati-hati."
Dylan mengangguk, tetapi langkahnya bukan ke arah pintu luar melainkan mengikuti Milley. Alis Tuan Chryst berkerut.
"Sejak kapan arah kantor sejalan dengan arah kamar Milley?"
Jo yang masih berdiri tegap di belakang Tuan Chryst hanya tersenyum melihat tingkah Dylan yang mulai bucin.
"Selamat Nona Milley, Anda sudah berhasil membuat Tuan Dylan berubah," gumamnya.
Milley yang berjalan lebih dulu merasa di ikuti oleh seseorang. "Perasaan ada yang ngikutin gue."
__ADS_1
Saat menoleh ia tidak menemukan siapapun, tetapi ia yakin jika ada orang yang mengikutinya.
Milley melanjutkan langkahnya dengan perlahan. Tiba-tiba saja Dylan muncul dan mendekap Milley dari belakang.
"Love you cintaku, cepat sembuh ya. Aku berangkat kerja dulu. Cup."
Sebuah kecupan sebagai penyemangat pagi telah berhasil ia berikan pada pencuri hatinya. Meskipun takut tetapi Dylan suka. Sementara itu Milley masih membeku di tempat.
"Dylan ...." teriaknya ketika baru sadar dari tingkah absurdnya.
Tuan Chryst yang baru saja menyeruput tehnya menjadi tersedak akibat teriakan Milley. Untung Jo selalu gercep, sehingga nafas Tuan Chryst masih bisa diselamatkan.
"Jo sebaiknya kita segera berangkat."
"Baik."
Dengan cepat Dylan berlari menuruni tangga sebelum mendapat auman kemarahan dari Milley. Sementara itu spot jantung Milley masih berdetak tidak karuan di sana.
Hampir saja ia menabrak Tuan Chryst, tetapi remnya masih pakem.
"He he he, pamit Kek."
Tuan Chryst geleng-geleng dengan tingkah Dylan barusan.
"Syukurlah, ada sedikit kebahagian yang masih bisa dirasakan oleh Dylan," gumamnya.
.
.
...🌹Bersambung🌹...
Jangan lupa dukungannya teman-teman, kalau kalian rajin dukung, semangat author untuk crazy up semakin menggebu loh.
__ADS_1
Oh ya, rekomen karya hari ini dari kak AG. Sweetie, mampir ya