
"Please Milley, bantu aku untuk menuntaskan hasr*tku barusan."
Dylan terlihat menahan sesuatu. Ia bahkan sudah mendaratkan ciuman berkali-kali ke leher jenjang milik Milley. Satu persatu kancing baju Milley mulai ia buka. Tentu saja Milley bergetar karena perlakuan Dylan barusan. Ia pun bingung dengan apa yang harus ia lakukan.
Dylan semakin menjelajahi tubuh Milley. Setelah semua kancing dress milik Milley terbuka, dua bukit yang masih terbalut kain berenda merah terpampang jelas di hadapan Dylan, membuat Dylan berkali-kali harus menelan salivanya.
Ia baru pertama kali melihat kulit tubuh Milley yang mulus itu. Dylan semakin bersemangat untuk menc*mbu setiap jengkal kulit halus milik Milley. Hingga tanpa Milley sadari ia pun menikmati getaran-getaran yang membuat Milley meleng*h karena ulah suaminya, Dylan.
Sepasang pengantin baru itu saling mengungkapkan rasa cinta di atas tempat tidur pengantin milik mereka. Tanpa Milley sadari, tangan Milley mulai menarik rambut Dylan tatkala ia merasakan lidah Dylan mulai bermain di atas puncak merah muda miliknya.
Dylan terlihat rakus ketika mencicipi dua bukit kembar milik Milley. Membuat Milley sampai mel*nguh karena sensasi aneh yang ditimbulkannya. Berkali-kali leng*han terdengar lolos dari bibir Milley, membuat Dylan merasakan hal yang sama.
"Milley, bisakah kita melakukan sekarang? 'Dia' sudah meronta ingin mengoyak gua milikmu," ujar Dylan sembari menatap Milley penuh harap.
__ADS_1
Tentu saja ucapan Dylan barusan membuat Milley bingung, takut dan cemas. Ia belum pernah melakukan hal tersebut seumur hidupnya. Pikirannya melayang-layang ke angkasa. Seketika Milley teringat ia masih datang bulan.
"Dylan, Sayang. Aku kan masih datang bulan ...." ucap Milley sambil menunduk.
Seketika Dylan mendesah kesal karena hal itu membuat nafsunya tiba-tiba hilang. Bak seperti mesin yang baru saja dipanaskan harus disiram air seketika.
Dylan menghamburkan tubuhnya di samping Milley. Ia memejamkan matanya sejenak karena harus menahan gejolak yang sudah mengepul di ubun-ubun.
Merasa tidak enak pada suaminya, Milley pun mengambil inisiatif. Ia memegang pusaka milik Dylan dengan perasaan penuh cemas.
"A-apa yang mau kau lakukan, Sa-sayang ...."
Milley mencoba mengerling meskipun dadanya bergemuruh dan detak jantungnya semakin berpacu dengan cepat. "Ya, Tuhan, semoga Dylan tidak kecewa."
__ADS_1
Dylan tersentak ketika tangan Milley menyentuh dua biji telur miliknya. Sebuah lenguhan terdengar dari bibir Dylan ketika Milley mulai memaju mundurkan tangannya untuk meng*cok pisang ambon milik Dylan yang sudah berdiri tegak.
"Ya, Tuhan kenapa rasanya ... ah ...."
Dylan semakin merasakan gelenyer aneh memenuhi tubuhnya. Namun, Milley masih melakukan hal lain. Dylan mengernyitkan dahinya ketika tangan Milley mengambil sebuah madu yang berada di atas meja.
Tentu saja pikiran Dylan dipenuhi pertanyaan-pertanyaan aneh tentang apa yang akan dilakukan oleh Milley setelah ini. Sesaat Dylan terpekik nikmat ketika merasakan servis spesial yang diberikan oleh Milley.
Dylan mengerang nikmat karena Milley mulai melahap pisang yang sudah dilumuri dengan madu itu. Beberapa menit kemudian, Dylan mencengkeram erat rambut Milley karena ia mempercepat laju gerakan maju mundurnya.
Sebuah lenguhan panjang berhasil lolos dari bibir Dylan tatkala getah pisang miliknya berhasil lolos di dalam mulut Milley.
"Astaga ... kenapa rasanya aneh," ucap Milley di dalam hati.
__ADS_1
Tidak kuat dengan rasanya, Milley berlari kencang ke kamar mandi. Sementara Dylan dibiarkan terlentang karena lemas di atas ranjang.
Aawwhhh ... apakah yang akan terjadi?