
Setelah beberapa saat melihat layar laptop, mata Milley sedikit perih. Ia pun menutup rapat dan menyimpan laptopnya di meja belajar. Secara tidak sengaja, Milley melihat sebuah amplop di meja belajar milik Dylan. Rasa penasaran yang besar membuat Milley segera mendekati amplop tersebut.
Milley mengedarkan pandangannya ke kanan dan kiri, "Sepertinya aman, deh."
"Astaga sudah seperti maling saja, diriku," gumam Milley merasa aneh pada tingkahnya sendiri.
Ia membuka amplop tersebut dengan hati-hati, dari sana ia bisa melihat foto masa kecil seorang laki-laki.
"Lucu dan gemoy banget, anaknya."
Saat ia masih asyik melihat foto, tiba-tiba pintu kamar terbuka. Tentu saja Milley ketakutan dan tanpa ia sadari ada salah satu foto yang terjatuh di lantai. Ternyata ada Nanni yang datang dengan membawa sebuah nampan di sana.
"Ya ampun, Nanni ... mengagetkanku saja."
"Maaf, Nona. Saya hanya ingin mengantarkan makanan dan minuman untuk Nona. Sekarang sudah waktunya minum obat."
"Ya, ampun. Oke, letakkan di situ saja."
Saat Nanni hendak pergi, Virgo menahannya. Ada sesuatu hal yang ingin ditanyakan padanya.
"Tunggu!"
Nanni berbalik, "Iya, saya Non."
"Kamu tau nggak siapa yang berada di dalam foto ini?"
"Sebentar ...."
Nanni mulai berjalan mendekati Milley dan ikut melihat foto yang dipegang olehnya. Ia tersenyum setelah memperhatikan foto tersebut dalam beberapa saat.
"Ini foto Tuan Dylan semasa kecil Non, tapi kok ada di tangan Nona?"
"Nggak tau, tadi cuma liat amplop di atas meja trus aku liat aja. Eh, sebentar ada foto yang jatuh."
Milley mengambil foto yang terjatuh tersebut, tetapi di dalam foto yang ia pegang ada sepasang bayi. Ia yakin jika salah satunya Dylan, tetapi bayi wanita itu siapa, seketika pemikiran polos itu datang padanya.
"Kalau yang ini, tau?" tanya Milley sambil menunjukan bayi perempuan cantik.
"Maaf, kalau itu saya nggak pernah liat, Non. Sudah saya permisi dulu. Nona Milley jangan sampai terlambat minum obat," tukasnya tegas.
"Saya, permisi."
"Kenapa ia seperti menghindari pertanyaan dariku?"
Jelas terlihat perubahan mimik wajah pada Nanni. Mungkin karena takut membocorkan sesuatu hal penting ia memilih untuk segera pergi.
"Oke Nanni, terima kasih banyak sebelumnya."
Sepeninggal Nanni, Milley masih memperhatikan foto-foto tersebut dengan seksama. Ia masih membolak-balikkan salah satu foto tersebut.
"Apa sebaiknya aku menyimpan foto ini?"
Milley tidak ingin membuang waktunya lebih lama. Ia mengambil salah satu foto lalu mengembalikan foto-foto masa kecil Dylan. Lalu setelahnya ia segera memakan makanan yang dipersiapkan Nanni untuknya.
Namun, bukannya fokus pada makanan yang tersaji di depannya, pikirannya malah jauh melayang-layang tidak karuan.
__ADS_1
"Hal yang harus aku lakukan saat ini adalah banyak-banyak membaca situasi. Aku yakin orang yang ingin mencelakai Dylan adalah orang dalam."
Saat masih asyik makan, gawai miliknya menyala sehingga membuat Milley langsung sigap dalam melihat isi di dalam ponsel tersebut. Ternyata Pak Dosen ganteng yang mengirim pesan.
"Jangan lupa makan dan minum obat, semoga segera sembuh."
Setiap di akhir chat, Michael tidak pernah lupa untuk menyelipkan sebuah emoji, entah itu kiss bye atau emoji lainnya di sana. Tentu saja perhatian kecil seperti itu bisa membuat Milley tersenyum.
"Ada-ada tingkahnya, wkwkwk ... tetapi kenapa aku suka?"
Pernah terpikir jika ia hanya menganggap Michael sebagai kakaknya, tetapi kenyamanan yang diciptakan olehnya mampu membuat hatinya berbunga.
"Tidak salah, kan ... jika rasa ini ada untuknya? Lagi pula meskipun antara aku dan Dylan ada ikatan, tidak akan pernah melibatkan rasa di dalamnya."
Mata Milley berbinar saat membalas chat dari Michael. Mendapatkan balasan pesan dari Milley membuatnya kembali bersemangat.
"Andai kamu benar-benar tercipta untukku, maka dengan senang hati aku akan mencintaimu seutuhnya, Milley."
Ternyata takdir Tuhan begitu unik. Saat ia mengambil Checilia untuk selamanya, ada Milley yang hadir menemani hari-harinya.
Lamunan Michael terganggu ketika asistennya mengetuk pintu.
"Maaf, Tuan. Ini laporan keuangan kita dalam satu bulan terakhir."
Michael menaruh kembali gawai miliknya ketika asistennya masuk. Ia segera melihat kembali semua laporan tertulis tersebut dengan teliti.
Jauh sebelum ia memeriksanya secara langsung, ia sudah tau laporan terperincinya semalam. Sehingga saat ia mendapat laporan tertulis maka dengan cepat ia bisa memeriksanya.
Selepas membubuhkan tanda tangan, Michael segera menyerahkan kembali berkas tersebut pada Rafael, asistennya.
"Sama-sama, Tuan. Jika tidak ada yang ditanyakan, maka saya permisi."
Michael hanya membalasnya dengan berdehem.
Saat jam kerja masih berlangsung, maka hubungan mereka adalah atasan dan asisten. Sementara itu ketika di luar jam kerja, hubungan keduanya adalah sabahat.
Sebelum keluar, Rafael menoleh untuk sesaat. Ada sesuatu hal penting yang harus ia beritahukan pada Michael.
"Ada apa lagi?" tanya Michael saat menyadari jika Rafael menghentikan langkahnya.
"Minggu depan, acara pernikahanku akan berlangsung, jadi mulai besok pagi aku sudah cuti. Sebaiknya selama aku off, kamu mencari penggantiku untuk sementara waktu."
Michael menyunggingkan senyumnya, "Siap, Bos-kuh!"
Rafael tergelak melihat perubahan yang dilakukan olehnya. Meskipun begitu ia tidak merasa terganggu dengan status Michael yang belum menemukan pendamping hidupnya.
Saat melangkah, Rafael kembali menggoda bos sekaligus sahabatnya itu.
"Kata calon istriku, kamu harus membawa calon pendamping saat datang ke resepsi pernikahanku nanti."
Michael yang menyadari jika ucapan sahabatnya barusan adalah candaan, ia pun turut memainkan perannya.
"Masih ada lagi Tuan Rafael yang terhormat?"
"Sudah tidak ada, makasih Bro sudah membantuku dalam setiap urusan!" ucap Rafael bergegas pergi.
__ADS_1
Michael tergelak akan tingkah lucu sahabatnya tersebut. Ada hiburan tersendiri ketika Michael dan Rafael berinteraksi.
Sepeninggal Rafael, Michael menginginkan jika tidak ada lagi yang menganggunya kembali, maka ia kembali melihat berkas-berkas di hadapannya dan mengunci pintu ruangannya secara otomatis dari dalam.
.
.
Saat Dylan melihat semua jadwalnya satu minggu ke depan, sebuah pesan masuk ke dalam gawainya.
"Mungkinkah itu Milley? Akh, rasanya tidak mungkin ia mengirim pesan. Ia pun mengabaikan hal tersebut."
Padahal pada kenyataannya, memang ia yang mengirim pesan.
"Nah, kan, nggak dibalas. Boro-boro dibaca, paling juga tidak dianggap."
Milley membuang ponselnya ke sembarang arah, karena kesal ia pun memilih untuk segera pergi ke kamar mandi.
"Sama sekali tidak membantu," pikir Milley.
"Lebih baik aku mandi dan bersiap untuk pergi."
Satu jam kemudian, Milley telah bersiap untuk pergi. Langkahnya terhenti ketika Tuan Chryst menatapnya aneh.
"Maaf, Kek. Milley ada janji bertemu dengan Evan di Rumah Sakit. Bolehkah aku pergi?"
"Evan teman kamu yang sakit kapan hari?"
"Benar, Kek."
"Kalau begitu, pergilah dan cepat kembali."
"Terima kasih, Kek."
"Lea, Leo cepat temani Nona pergi!"
"Baik!" ucap mereka serempak.
Melihat pengawalan Kakek yang tidak berkurang membuatnya bahagia.
Untung masih ada Tuan Chryst. Kalau tidak, pasti Dylan tidak akan memberinya ijin. Saat Dylan lelah, ia mengecek ponselnya.
"Lah, tadi benar-benar dia, kemana dia?"
"Rupanya dia kembali kepada laki-laki itu. Sial, beraninya calon istriku pergi tanpa seijinku!" gumamnya kesal.
"Siap-siap dengan kejutanku, manis."
.
.
Kira-kira kejutan apa, ya? Tunggu sehabis isya ya.
...🌹Bersambung🌹...
__ADS_1