
Kondisi Milley sudah membaik, maka ia sudah diperbolehkan untuk pulang ke rumah. Proses penyembuhan Milley memang cepat, karena banyak orang yang perhatian kepadanya.
"Jadi hari ini aku boleh pulang, dokter?"
"Boleh."
"Yes!" ucapnya senang.
Entah kenapa ucapan dari dokter yang memperbolehkan ia pulang sangat membuat hatinya bahagia. Mungkin karena ia sama sekali tidak menyukai bau Rumah Sakit.
Setelah suster melepas selang infusnya, maka Milley sudah bersiap untuk pulang. Dylan, Lea dan Leo yang bertugas menjemput Milley hari itu. Di rumah, persiapan untuk penyambutan Milley sudah hampir selesai.
"Gitu aja sudah seneng," cibir Dylan sambil menenteng tas milik Milley.
Sementara Milley membalas ucapan Dylan dengan mulut yang mengerucut. Kali ini ia pulang didampingi Lea dan Leo dan melangkah mendahului Dylan.
"Kambuh, deh songongnya! Mending liat kamu di sini daripada di rumah!"
Pada saat yang sama para malaikat yang mendampingi mereka ikut bertanya.
"Memangnya kalau di rumah sama di sini apa bedanya?" tanya malaikat di salah satu sisi Dylan.
"Bedanya kalau di sini, ia bebas bersama Milley, kalau di rumah, jangankan dekat, masuk ke kamarnya saja tidak boleh!"
"Oh,," jawab salah satunya.
Namun, hubungan mereka belum membaik. Melihat Milley yang seolah menjauh, tas Milley yang semula dibawa ia serahkan pada Lea. Lalu mengejar Milley ke depan.
"Milley awas!"
Mungkin karena suasana Rumah Sakit yang sedang ramai, membuat Milley hampir ditabrak salah satu pengunjung Rumah Sakit. Keseimbangan Milley yang belum stabil membuatnya oleng, untung ada Dylan yang menopang tubuhnya.
Teriakan Dylan sepertinya tidak di anggap. Maka dengan cepat ia menghampiri Milley agar ia tidak jatuh. Dengan cepat Dylan menyambar tubuh Milley.
Grep.
Dylan memeluk tubuh Milley dengan mesra. Mata keduanya saling menatap satu sama lain. Sesaat kemudian ia melepaskan tatapannya dan melihat ke arah lain.
"Yuk, pulang."
Milley masuk ke dalam mobil setelah Dylan membukakan pintu untuknya. Setelah itu baru di susul oleh Lea dan Leo. Tiga puluh menit kemudian mereka telah sampai di kediaman Tuan Chryst.
"Selamat datang Milley," sambut Tuan Chryst merentangkan tangan.
"Terima kasih, Kek."
Milley merasa nyaman dalam dekapan Tuan Cryst. Setelah itu mereka masuk ke dalam rumah dengan disambut semua pelayan yang menunduk hormat ke arahnya.
"Selamat datang, Nona," ucap mereka serempak.
"Terima kasih."
Meskipun lengannya masih sakit ia tetap tersenyum. Hal yang ia rindukan pertama kali adalah kamar tidurnya. Tidak disangka ia diarahkan ke kamar Dylan.
"Lah, kenapa balik lagi ke sini?"
"Semua atas permintaan Tuan Dylan, Nona."
Ternyata di kamar itu ada dua ranjang bersebelahan. Dua meja belajar dan semuanya serba dua.
__ADS_1
"Kenapa seperti ini?"
"Itu semua permintaan Dylan, Milley."
"Aku berharap jika kamu bisa membantu Dylan mengerjakan skripsinya kali ini. Oh, ya setelah ini ia akan menjalani pendidikan bisnis, karena tanggung jawab perusahaan sudah berada di pundaknya."
"Iya, Kek."
Melihat Milley yang ingin beristirahat, Tuan Chryst tidak akan mengganggunya. Saat ini, ia malah mengajak Dylan ke ruang baca.
"Ada apa, Kek."
"Mulai hari ini, waktumu akan terbagi dua. Pagi hari kamu kuliah, sorenya kamu mengurus pekerjaan kantor."
"Siap, Kek."
Tuan Chryst melihat ke arah Dylan, "Tidak biasanya anak ini menurut, tumben?"
Setelah Dylan duduk dihadapannya, Tuan Chryst mulai memberinya beberapa buku baru tentang perusahaan pada Dylan.
"Pelajari semua ini, dan bersiaplah untuk mendapatkan pelajaran pertama."
"Nanti siang, acara syukuran kepulangan Milley, kamu boleh ikut bergabung."
"Iya, Kek."
Sambil memandangi buku-buku tebal di hadapannya, Dylan masih memikirkan Milley.
"Aku melakukan semua ini untukmu, aku harap kamu sedikit memberi tempat di hatimu untukku."
Melihat Dylan mulai menbuka satu persatu buku itu, ia pun merasa lega. Tidak ingin menganggu cucunya, Tuan Chryst melangkahkan kakinya ke taman belakang rumah.
Di saat yang sama Dylan maupun Michael sama-sama menunjukkan perhatiannya kepada Milley dengan cara mereka masing-masing.
Tuan Chryst memang baru mengenal Michael dalam beberapa hari, tetapi karena ia merupakan dosen Milley, maka ia mengijinkan kedekatan mereka. Meskipun sesungguhnya, ia tau jika cucunya cemburu, tetapi ia membiarkannya.
Biar Dylan setidaknya tahu, bagaimana cara memperlakukan wanita seperti Michael memperlakukan Milley. Seperti hari ini pula, ia mengambil jam makan siang untuk acara syukuran tersebut agar Michael bisa datang ke rumah.
Semuanya telah berkumpul siang itu. Semua hidangan tampak menggugah selera. Andreas, Rebecca, Tuan Chryst, Milley, Dylan semuanya sudah hadir di sana. Hanya satu orang yang belum sampai.
"Maaf, Kek. Kenapa tidak dimulai?" tanya Milley memberanikan diri.
"Kita masih menunggu satu orang lagi."
"Tapi ini sudah terlalu lama, Ayah!" protes Rebbeca.
Tuan Chryst tidak perlu menjelaskan apapun pada Rebbeca. Ia lebih memilih untuk tetap berdiam sampai suara mobil terdengar berhenti di depan rumah.
"Jemput dia, Jo."
"Baik, Tuan."
Dengan cekatan, Jo segera menjemput tamu spesial siang itu. Michael Sanjaya, seorang dosen sekaligus CEO muda yang bergerak di bidang teknologi.
Hanya Tuan Chryst yang mengetahui identitas sebenarnya tentang Michael. Itu pun tidak sengaja ia ketahui saat mendengar obrolan mereka di Rumah Sakit saat menengok Milley.
"Ternyata dia CEO muda itu, tidak disangka aku bisa bertemu dengannya."
Michael yang baru saja sampai, merasa sungkan karena Jo menjemputnya secara langsung.
__ADS_1
"Selamat datang, Tuan."
"Terima kasih, Uncle Jo."
Meskipun Jo hanya seorang asisten, tetapi Michael tetap menghormatinya. Lalu mereka berdua berjalan ke dalam.
Tatapan Rebbeca terpaku melihat Michael.
"Ganteng banget," gumamnya.
Milley hampir saja melongo karena hal tersebut. Begitu pula dengan Dylan.
"Pantas saja kakek menunggunya, ternyata dia tamu spesial itu."
"Maaf telah lama menunggu," ucap Michael basa basi.
"Tidak apa-apa, kalau begitu mari kita mulai acara makan siang sekaligus syukuran kepulangan Milley."
Andreas menatap lekat-lekat Michael, "Kenapa aku seperti pernah melihat lelaki itu? Tetapi di mana?"
Selama masa perjamuan tidak ada yang berbicara sama sekali. Baru setelah selesai makan siang, Tuan Chryst mengajak Michael untuk berbincang di halaman belakang.
"Oh, ya Milley ini untukmu!" ucap Michael sambil menyerahkan sebuah paper bag untuk Milley.
"A-apa ini, Kak?"
"Hadiah untuk kepulanganmu!" ucapnya sambil mengerling.
"Wah, makasih."
"Maaf, Nona Milley, bolehkah saya meminjam Tuan Michael?"
"Boleh, Paman. Silakan."
"Maaf, Tuan Michael, Tuan Chryst mengajak Anda mengobrol di halaman belakang."
"Oh, oke."
Lalu mereka meninggalkan Milley sendirian. Sementara itu, Rebecca melihat jika Milley sendirian mendekatinya.
"Sepertinya bermain denganmu kali ini pasti mengasyikan!" gumamnya.
Nanni yang melihat senyuman jahat Rebbeca segera mengambil alih. Dengan membawa sebuah jus strawberry ia melangkah cepat dan menabrak Rebbeca.
"Akh!" pekiknya.
"Kamu nggak punya mata, gaunku mahal tahu!" ucapnya kesal.
Sementara itu Milley tertawa melihat calon ibu mertuanya terkena jus tumpah. Dengan tatapan tetap ke arah Milley ia menyeringai kembali.
"Tunggu aku berganti baju anak muda, lalu kita akan bermain!"
.
.
Kira-kira mau ngajakin main apa sih, calon camer Milley?
...🌹Bersambung🌹...
__ADS_1