
Mendapati istri dan anaknya selamat Dylan tidak henti-hentinya bersyukur. Hal pertama yang ia lakukan ketika itu adalah mencium kening Milley dan terus mengucapkan terima kasih karena sudah memperjuangkan kelahiran Baby J dengan selamat.
"Terima kasih untuk perjuangan yang telah kau lakukan untuk keluarga kecil kita, Sayang."
Dylan bahkan menitikkan air mata bahagianya.
"Sama-sama, Sayang," ucap Milley dengan lemah.
Kondisinya memang belum terlalu pulih, terlebih lagi saat ini ia sedang menunggu Baby J untuk melakukan IMD (Inisiasi Menyusui Dini). Hal ini dimaksudkan agar jalinan ibu dan anaknya semakin erat dan terjalin dengan sempurna.
Namun, ternyata hal itu membuat Dylan semakin mengagumi seorang wanita, yang mana ia telah membuat sebuah pengorbanan saat melahirkan buah hatinya.
"Aku sungguh sangat mencintaimu, Milley. Aku sangat mencintaimu dan juga anak kita."
Milley sungguh tidak kuasa ketika melihat suaminya berlinang air mata. Entah kenapa hatinya merasa tersentuh akan tindakan yang dilakukan oleh Dylan.
Hal yang paling disyukuri oleh Milley adalah keajaiban Tuhan untuknya. Tidak ada hal lain yang mampu membuatnya bahagia kecuali bisa melahirkan Baby J dengan selamat.
"Terima kasih, Tuhan, karenamu aku mendapatkan kebahagiaan yang tidak terkira."
Bahkan di tengah-tengah saat ia sudah ditetapkan untuk melahirkan secara caesar, saat Tuhan memberikan kesempatan untuknya. Milley tetap menginginkan persalinan normal.
"Terima kasih, Sayang. Terima kasih untukmu yang sudah berjuang."
Seketika Milley memeluk calon suaminya setidaknya ada rasa kenyamanan saat Dylan berada di sisinya. Dylan adalah kekuatan sekaligus semangat untuknya menjalani hidup. Bahkan Dylan selalu menjaga kondisi Milley sepanjang waktu tanpa lengah sedikitpun.
Hanya saja saat ini, Dylan sedang sibuk-sibuknya, sehingga kejadian hari ini kembali menyita waktu dan pikirannya. Sehingga kejadian hari ini membuatnya terus menyalahkan dirinya.
"Setelah ini aku harus meningkatkan pengamanan di rumah. Aku tidak ingin melihat Milley dan Baby J terluka untuk kedua kalinya," gumam Dylan di dalam hati.
Hal yang justru dirasakan Dylan saat ini adalah keadaan orang rumah yang seperti apa setelah kepergian mereka ke Rumah Sakit. Karena kesalah pahaman yang terjadi dengan ibunya belum selesai.
"Ibu memang tidak pernah menginginkan aku bahagia. Seharusnya Ibu mengatakan kejujurannya kepadaku. Hanya karena tidak menyukai keberadaan Milley sampai membuatnya hampir terluka."
"Apakah aku harus memindahkan Milley dari rumah demi keamanannya?"
Ditambah lagi informasi dari Andreas yang mengatakan jika Rebecca baru saja sampai di kediaman Tuan Chryst dan ialah satu-satunya penyebab Milley ke Rumah Sakit hari ini.
Tanpa sepengetahuan Milley, Dylan menyuruh orang untuk melihat kondisi rumahnya. Orang rumah memberitahukan bahwa ada keributan kecil. Namun, semua sudah dihandle oleh Michael.
"Untunglah kalau begitu," ucap Dylan dengan bahagia.
__ADS_1
Setidaknya ada seseorang yang bisa menghandle situasi di rumah. Sehingga saat ini ia bisa fokus dengan keluarga kecilnya.
Sementara itu, Michael yang melihat hal itu segera memanggil ambulan dan juga pihak kepolisian.
"Berikan pengobatan terbaik untuknya!" titah Michael pada tenaga medis yang menolong Nanni.
Beberapa saat yang lalu, Michael dan Viola berhasil menyelamatkan Nanni. Meski lukanya teramat parah, berharap jika bisa diselamatkan karena ia adalah saksi kunci kejadian hari itu.
"Setidaknya jika ia bisa selamat, kita akan lebih mudah untuk membekuknya."
"Semoga saja, kita bisa membantu Dylan dan Milley."
Melihat Nanni sudah ditolong, saat Michael lengah Rebecca melarikan diri lewat pintu belakang.
"Semoga saja ia tidak bisa melihat keberadaanku di sini," gumam Rebecca.
Beruntung denah Kediaman Tuan Chryst sama sekali belum berubah. Sehingga dengan mudah, Rebecca sudah berhasil kabur lewat pintu belakang.
"Untung saja Si Tua Bangka itu, sama sekali belum berubah. Masih saja ceroboh."
Saat Rebecca hendak melarikan diri, ternyata ada sebuah mobil melaju dengan kecepatan yang sangat tinggi hingga ia menabrak tubuh Rebecca hingga terpental.
Ckitttt ... Brum ....
...Rumah Sakit...
Meskipun Dylan terlihat sayang pada Baby J. Masih saja terlihat jika ada sesuatu yang ia sembunyikan. Milley yang melihat hal itu segera bertanya pada suaminya, "Mas, apa ada yang sedang kamu pikirkan?"
Belum sempat Dylan menjawab, suster sudah datang terlebih dahulu dengan membawa Baby J dalam gendongannya.
"Anak Mama sudah ganteng?"
Milley menerima Baby J dalam dekapannya. Sesaat kemudian Dylan mendekatinya.
"Wah iya, anak Papa sudah wangi," puji Dylan mengambil alih Baby J.
"Kamu nggak khawatir jika aku menggendong Baby J?" tanya Dylan penasaran karena Milley tidak keberatan.
Milley menggeleng perlahan. "Kenapa harus takut, bukankah kau ayahnya. Seorang ayah yang baik tidak akan menyakiti darah dagingnya. Begitu pula dengan seorang ibu."
Ucapan Milley memang benar. Itu sebuah sentilan untuk ibu kandung Dylan yang tidak pernah merestui kebahagiaan Dylan dengan Milley. Bahkan ia kerap meninggalkannya dan lebih suka menitipkan dirinya kepada kakeknya dengan alasan sibuk.
__ADS_1
"Benar. Apa yang kau ucapkan memang benar, Sayang."
"Lagi pula kau sudah berlatih sekian lama, jadi aku sangat percaya kepadamu."
"Terima kasih permaisuri hatiku, aku harap kita berdua bisa selamanya menjaga cinta kita dan membesarkan anak kita berdua."
"Aamiin."
Milley sudah tidak takut ketika Dylan menggendong Baby J, karena jauh sebelum kelahiran Baby J, ia sudah mengikuti kelas ayah siaga.
Bulu mata Baby J sangat mirip dengan Milley, tetapi hidung dan bibirnya sangat mirip dengan miliknya.
"Sepertinya anak kita cenderung lebih ke aku, ya?" ucap Dylan penuh percaya diri.
"Hm, ya nggak bisa gitu. Lebih dominan aku lah!" ucap Milley tidak mau kalah.
Ternyata menjadi orang tua baru tidak semudah bayangan karena saat anak kita lebih condong ke salah satu pasangan, kadang ada rasa kecemburuan yang bisa menghantui keduanya. Meskipun itu hanya lelucon, tetapi kadang seorang ibu yang baru saja melahirkan itu lebih sensitif.
Perkataan yang sebenarnya hanya lelucon, bisa saja dimasukkan ke hati dan bisa menjadikan Milley terkena baby blues. Bisa saja sang ibu membenci putranya karena hal itu.
"Tetapi apapun yang diwarisi Baby J, semuanya adalah anugrah. Sehingga mau tidak mau semuanya harus dijalani dengan lebih ikhlas."
"Iya, Mas. Terima kasih banyak, Sayang."
Saat Dylan hendak mencium Milley, ternyata Baby J menangis. Milley hanya tersenyum melihat hal itu.
"Kamu lapar, ya?"
"Iya, aku lapar," ucap Dylan menirukan suara anak kecil.
"Minum ASI dulu ya, Nak."
"Mau ....!"
"Hust, diem. Sekarang sudah harus berbagi, nggak boleh egois."
"Huaaa ... Mama nakal," seru Dylan seolah tersinggung.
Milley terkekeh melihat suaminya merajuk. Meskipun begitu ia bahagia karena apa yang diimpikannya perlahan sudah terwujud.
"Semoga setelah ini, kebahagiaan selalu menyertai kita. Aamiin."
__ADS_1
"Aamiin, love you, Sayangku ...."
"Love you too ...."