NOTA HUTANG DI ATAS PERNIKAHAN

NOTA HUTANG DI ATAS PERNIKAHAN
Bab 152. MAAF SAYANG


__ADS_3

"Seharusnya aku tidak memaksakan kehendakku kepadanya, karena bagaimana pun aku telah membuat nyawanya terancam!"


Dylan merutuki kebodohannya karena ia terlalu menuntut Milley untuk secepatnya hamil. Tidak tahu kenapa, Dylan merasakan candu ketika berdekatan dengan Milley. Hingga tanpa ia sadari, ia pun selalu melakukan hal tersebut dengannya.


"Kenapa aku begitu bodoh! Harusnya aku tidak memaksakan kehendakku kepada Milley. Aku tau kamu pasti terluka akan hal ini."


Dylan tidak menyangka jika ulahnya telah membuat Milley menderita. Tidak terasa air matanya menetes hingga buliran air mata Dylan menyentuh tangan Milley. Penyesalan menghinggapi Dylan hingga akhirnya ia tidak sengaja tergugu dengan keadaan itu. Karena Milley sudah terjaga, maka ia sudah merasakan jika suaminya tidak dalam keadaan baik-baik saja.


"Rasanya begitu hangat, apakah ini air mata Dylan? Apa aku dan anakku menyakitinya?"


Hati Milley seketika bergetar saat ia menyadari jika Dylan menangis. Rasanya ia ingin segera bangun tetapi tubuhnya masih merasa lemah. Pikiran Milley mulai berkelana. Ia sangat sedih ketika semua cobaan mulai datang menghampiri.


"Apa karena kehamilan yang aku jalani ini bermasalah?"


Milley merasakan kesedihan yang mendalam saat ini, ia tidak bisa menutupi kesedihannya karena hal itu. Apalagi Milley baru saja merasakan kebahagiaan saat ia mengetahui jika dirinya berbadan dua, tetapi sesaat kemudian ia terkejut karena kandungannya dinyatakan lemah. Milley secara tidak sengaja mengetahui hal ini saat Tuan Chryst dan Dylan berbicara di ruang keluarga.

__ADS_1


"Andai aku tau, aku pasti akan menunda hal ini dan mengobati semuanya sebelum terjadi tetapi, semuanya sudah terlambat."


Semakin lama memendam hal ini, Milley semakin tidak bisa menguasai dirinya. Mungkin Milley sebelumnya seorang yang kuat, akan tetapi saat ini rasanya ia sudah tidak bisa tahan lagi. Ia pun menggerakkan tangannya ke atas.


Dylan tidak mengetahui jika Milley sudah siuman. Namun gerakan saat Milley mengusap kepala Dylan dengan perlahan, membuat Dylan terkejut. Ia menengadahkan wajahnya ke atas lalu kedua kelopak mata mereka saling beradu. Saling menatap dalam sendu.


Mengetahui jika Milley sudah siuman, Dylan buru-buru mengusap air matanya. Akan tetapi tangan Milley mencegahnya.


"Aku tidak kenapa-napa, Sayang. Bayi kita dan aku kuat! Kamu tidak perlu menangis."


"Iya aku percaya itu, kamu dan bayi kita pasti kuat!"


Dipandanginya wajah suaminya dengan perlahan. Milley berusaha untuk tetap tersenyum agar Dylan tidak khawatir padanya.


"Percayalah, beberapa bulan lagi kita akan melihat wajah anak kita, dan ia pasti sekuat kamu, Sayang. Jadi calon Papa tidak boleh cengeng! Masa iya seorang CEO menangis, kan enggak lucu."

__ADS_1


Milley seolah mengajak suaminya bercanda, hingga Dylan tersenyum ke arah istrinya.


"Iya, Sayang. Terima kasih."


Diciuminya tangan Milley lalu dipandanginya sekali lagi.


"Jika bayi kita nanti perempuan, sudah pasti dia akan secantik kamu!"


Ucapan ringan dari Dylan mampu mengusir kesedihan di wajah Milley. Milley terkekeh akan ucapan suaminya barusan. Melihat Milley tersenyum Dylan merasa bahagia.


Senyuman yang dirindukan oleh Dylan kini bisa mengobati kegundahan hati.


"Dan ... Jika nanti anak kita laki-laki pasti cakepnya kaya kamu ...."


Milley juga mengatakan apa yang menjadi keinginannya. Lalu keduanya sama-sama mengucap, "Aamiin!"

__ADS_1


"Semoga saja jika nanti anak kita sudah lahir, aku masih bisa bersamamu membesarkan anak kita," ucap Milley di dalam hati.


__ADS_2