
Setelah melewati hari yang melelahkan, akhirnya Dylan bisa terlepas dari jeratan gadis tersebut. Siapa lagi kalau bukan Laura.
Namun, Dylan harus bersyukur setidaknya saat ini ia sudah aman. Baru saja ia beristirahat karena lelah setelah mengayuh sepedanya dengan cukup kencang untuk menghindari kejaran Laura.
Dylan hanya berharap agar dapat segera sampai di rumah. Meskipun begitu banyak hal yang terjadi sebelumnya, tetapi Dylan tidak menyerah. Menghadapi Laura harus menggunakan sebuah taktik yang jitu.
Namun, ada hal yang tidak akan bisa dihapuskan dalam ingatan. Mungkin juga hal itu bisa menjadi sebuah trauma dalam hidup Dylan.
"Dasar gadis, gila!" pekiknya kesal.
Bagaimana tidak kesal, jika beberapa saat yang lalu. Saat di mana mereka secara tidak sengaja bertemu dengan Laura. Kebetulan hari itu ia sedang jalan-jalan pagi.
Secara tidak sengaja, Laura melihat sosok idamannya sedang mengayuh sepeda dari arah pasar. Tentu saja ada hal yang menariknya, sehingga ia memutuskan untuk segera mengikuti Dylan.
"Sepertinya sangat seru jika aku mengikutinya hari ini?" gumam Laura dengan senang.
__ADS_1
Sementara itu Dylan sedang berpikir keras bagaimana ia bisa melewati ujian di hari pertama. Jika waktu adalah uang bagi seorang pebisnis, maka hal itu berlaku juga untuk Milley.
"Benarkah ia memang baru berbelanja dari pasar?" ucap Laura tidak percaya.
Pertemuan kedua ini sungguh membuat Laura heran. Bagaimana bisa seorang CEO bisa berbelanja di pasar secara sendirian tanpa seorang asisten ataupun bodyguard.
Belum lagi saat ia melihat peluh dan keringat yang menetes dari kening Dylan, semakin terlihat se-k-si di mata Laura. Pemikirannya bahkan sudah sempat membayangkan sesuatu yang mungkin dilakukan oleh sebuah pasangan kekasih.
Dylan yang merasa jika dirinya di ikuti segera menoleh. Benar saja di belakangnya ada Laura yang tersenyum manis ke arahnya.
"Ka-kau sengaja mengikutiku?" tanya Dylan dengan nada meninggi.
"Bohong! Kau kan wanita aneh!"
"Kenapa kamu harus marah-marah, Sayang ... harusnya kamu bersyukur untuk hal itu ...." ucapnya dengan gaya manja.
__ADS_1
Tentu saja hal itu membuat Dylan muak. Terlebih ia sangat sangat tidak suka dengan kedatangan Laura. Namun hal itu tidak membuat Laura jera.
Bahkan dengan tidak malunya ia seolah-olah hendak dijahati oleh Dylan. Sehingga ia membuat atensk masyarakat berdatangan kepadanya Laura.
"Tolong ... tolong saya mau di rampok!" teriaknya seolah ia benar-benar di rampok.
Dengan sengaja ia merobek sisi rok yang ia pakai, hal itu membuat Dylan seolah-olah hendak merampok atau berbuat hal yang tidak senonoh.
Mendengar teriakan Laura, tentu saja banyak orang yang datang dan ingin membantunya. Namun, dengan anehnya Laura kebingungan dan pada akhirnya ia meminta keadilan agar Dylan mau menjadi kekasihnya.
"Bapak-bapak, ibu-ibu, mohon tenang sebelumnya. Maafkan karena mendengar perjanjianku dengan dia membuat hubungan kalian rumit."
"Namun, maaf itu nggak bakal lama kok, see you papay ...." pamitnya.
Setelah itu, Laura memang melepaska. Namun sekelilingnya jadi ikut kapan. Merasa jika drama mereka hanyalah sekedar settingan belaka.
__ADS_1
"Harusnya kalian itu bertingkah sebagai pasangan kekasih baru. Dan hanya marahan saja keesokan hari saja, kok. Jangan sampai membuat drama seperti ini!' gertak salah satu raja.
"Ucapkanlah sesuatu pada orang yang baru saja datang ke lokasi tersebut. Agar nantinya ia bisa memberikan sedikit informasi yang lebih berguna untukmu, Aamiin."