
Meskipun malu-malu tetapi jika Dylan mulai me-sra padanya, Milley menerima hal itu tanpa rasa takut lagi. Toh, setiap jeng-kal yang ia miliki sudah dilihat oleh suaminya.
Sama seperti yang dirasakan saat ini, mereka tetap melakukan hal itu meskipun rasanya masih pe-rih tetapi ada ke-nikmat-an tersendiri setelah mereka melakukan hubungan suami istri tersebut. Hingga tanpa disadari, membuat mereka tidak jera untuk melakukannya kembali.
Berkali-kali Dylan mengecup dan mengucapkan terima kasih, tetapi tetap saja membuat Milley tidak bisa mengimbangi per-mai-nan dari suaminya tersebut.
"Sa-sayang ... aku ... emph ...."
Pe-lepas-an demi pe-lepa-san membuat Milley semakin ter-ku-lai lemas di sana. Akan tetapi, Dylan tetap bersemangat menghujani rahim Milley dengan gelombang tsunami miliknya. Berharap sesegera mungkin agar Dylan junior tertanam di sana.
Hen-tak-an demi hen-tak-an terus dilakukan oleh Dylan sampai membuat Milley ter-pe-kik nik-mat akibat gerakan Dylan yang semakin cepat tempo-nya.
"Arrghhh ... love you Milley," ucap Dylan ketika pele-pas-an yang kesekian kalinya telah ia capai.
Kini ia kembali ter-ku-lai lemas di atas tempat tidur sambil memeluk Milley. Apapun yang mereka lakukan saat ini memamg buah manis dari kesabaran mereka berdua dalam menjalani perjalanan cinta Dylan dan Milley.
Perjalanan cinta yang panjang dan berliku sungguh membuat Dylan dan Milley harus terpisahkan beberapa kali. Namun, akhirnya cinta mereka bisa bersama, meskipun pada akhirnya harus ada hati lain yang tersakiti.
Dylan sungguh mencintai Milley apa adanya. Tidak ada wanita yang mampu meng-oyak dinding pertahanan miliknya. Sampai gadis berkata emerald tersebut hadir di dalam hidupnya dan membuat semua keadaan kacau balau di awal pertemuan mereka, tetapi pada akhirnya cinta keduanya yang berhasil menyatukan mereka.
Saat Dylan mengingat pertemuan mereka, akhirnya kata permintaan maaflah yang muncul di kepala Dylan.
"Maafkan aku jika dulu aku hampir membu-nuh-mu, Sayang," ucap Dylan sambil membelai lembut kepala istrinya itu.
Milley terkekeh ketika mengingat apa yang telah ia lakukan di awal pertemuan mereka. Ketidaksengajaan yang berbuah manis hingga saat ini.
"Iya, jika mungkin saat itu kau tidak menabrakku, mungkin saja yang berada di sini bukanlah aku, melainkan orang la--"
Saat hendak mengatakan orang lain, Dylan mengacungkan jari telunjuknya di depan bibir Milley. Sebaliknya ia malah mengatakan jika tidak akan mungkin ada orang lain lagi di antara cinta keduanya.
"Tidak akan ada orang lain di dalam hubungan kita, aku pastikan itu."
Dylan menatap lembut pemilik mata emerald tersebut. Tatapannya sungguh membuat Dylan tidak berdaya dan semakin terperangkap masuk ke dalam jer-at asmara.
__ADS_1
"Jadi, apakah kau memaafkan aku?" tanya Dylan bersungguh-sungguh.
Milley mengangguk.
"Iya, maafkan aku juga yang dulu sangat membencimu. Entah kenapa saat melihat sikap arogan darimu dulu, aku sempat tidak percaya aku mampu dekat denganmu."
"Namun, sebanyak apapun pesona yang kau taburkan, aku tidak pernah tertarik padamu, wkwkwk."
"Kenapa? Apa kau membenciku?" tanya Dylan tidak terima.
Tentu saja Milley menonyor perut Dylan karena gemas.
"Awh ... sakit, Sayang. Kenapa kau suka sekali membuat diriku kesakitan, sih. Ini namanya KDRT, loh."
"Biarin, suruh siapa, jadi orang kok super nyebelin!"
"Kamu tuh, di awal pertemuan kita sangat arogan, dan tidak bersahabat. Selalu memandang remeh orang tidak punya. Bahkan seolah menginjak harga dirinya. Apakah itu patut untuk di sukai?"
"Hehehe, iya, aku minta maaf untuk sikapku dulu, tetapi demi mendapatkan dirimu aku merubah semua sikap burukku."
"Kata siapa, bahkan aku memberikan kesempatan kamu berkali-kali, tapi kamu tidak menyadarinya. Dasar Dylan bod-oh!"
"Tapi ganteng, kan. Kamu suka banget malahan?"
"Apa-an sih, sok kegantengan banget!" ucap Milley dengan kesal.
Padahal kenyataannya, Milley memang kesal tetapi tidak kuat akan tatapan sayu dari Dylan. Tatapan itulah yang kadang membuat hati Milley cenat-cenut tidak karuan.
Dylan menangkup wajah istrinya yang mulai ngambek tersebut, tetapi ia sama sekali tidak berniat untuk apapun. Dylan hanya ingin mengamati jika Milley sedang ngambek itu ekspresinya seperti apa. Ternyata apapun keadaan hati Milley, Dylan tetap menyukainya.
"Mau kamu marah, nangis, ngambek, apapun yang kamu lakukan, aku akan tetap mencintaimu, Sayang."
"Apalagi setelah kita menikah itu artinya ada tanggung jawab besar yang aku tanggung. Aku harap kamu bisa bertahan dengan semua kekurangan yang ada pada diriku."
__ADS_1
Milley merasa tingkat ke-narsisan Dylan susah untuk dihancurkan, buktinya ia sama sekali tidak pernah berkaca pada dirinya sendiri, tetapi perkataan Dylan barusan membuat hatinya tersentuh. Baru saja Milley luluh, tangan Dylan mulai lagi.
"Ilih, kenapa lagi coba pakai pegang-pegang!"
Milley mencoba menurunkan tangan Dylan yang sejak tadi menyentuh wajahnya. Lalu sesaat kemudian malah menatapnya dengan intens. Siapa yang bisa bernafas dengan lega kalau sampai Dylan berlaku begitu.
Sampai-sampai keheningan mereka membuat Milley bisa mendengar bunyi cacing di perutnya dan milik suaminya sama-sama berbunyi kencang.
"Kamu lapar, kan?"
"Tentu saja lapar dong, Sayang."
"Ya sudah pasti bagian itu sakit banget kan, biarkan aku yang membawakan makanan ke sini, kamu cukup diam dan menunggu dengan cantik di sini."
"Siap, Sayang."
Setelah Dylan keluar, Milley kembali membungkus tubuhnya dengan selimut, bagaimana ia tidak melakukan hal tersebut jika Dylan tidak memberikannya baju.
Akan tetapi ia memang tidak perlu menggunakan baju, karena setiap ia berpakaian, ujung-ujungnya pasti akan dirobek lagi dan lagi. Entah Dylan yang kecanduan atau memang ia ingin balas dendam padanya.
Milley meratapi nasibnya kali ini, apalagi di bagian sana rasanya sudah nano-nano. Belum lagi jejak kepemilikan yang diberikan oleh Dylan membuat Milley tidak bisa memakai pakaian terbuka.
Sementara itu sang pelaku sama sekali tidak terlihat kelelahan. Dengan santainya Dylan berjalan kesana-kemari untuk mengambilkan semua keperluan istrinya itu.
Beberapa saat kemudian, Dylan sudah kembali ke dalam kamar. Di tangannya ia membawa sebuah nampan yang siap untuk memanjakan perut istrinya.
Namun, pemandangan yang terlihat di depannya saat ini membuat Dylan semakin khawatir. Apalagi Milley terlihat membungkus tubuhnya dengan selimut tebal.
"Kamu sakit, Sayang? Ini makanannya sudah siap."
Milley mengintip dari celah selimut yang menutupi tubuhnya yang masih polos itu. Karena tidak sabar, Dylan menarik selimut milik Milley, tetapi karena Milley menahannya, membuat Dylan seketika lupa jika ia tidak memberikan dirinya pakaian.
Akhirnya tubuh Milley kembali terekspos dengan sempurna. Berkali-kali Dykan menelan salivanya lagi. Sampai akhirnya timpukan bantal dari Milley membuatnya sadar jika saat ini Milley sedang dalam keadaan luar biasa malu.
__ADS_1
"Dylan ....!"