NOTA HUTANG DI ATAS PERNIKAHAN

NOTA HUTANG DI ATAS PERNIKAHAN
Bab 176. KETAHUAN JORD


__ADS_3

Betapa kesalnya Laura akan sikap sepasang suami istri yang menyebalkan tadi. Siapa lagi kalau bukan Milley dan Laura.


"Awas saja kalian, beraninya membuatku kesal. Setelah ini aku pastikan akan memisahkan kalian dengan caraku!"


Laura terlalu berambisi ketika melihat Dylan. Kesempurnaan yang ada di dalam diri Dylan membuat Laura tidak bisa menahan diri untuk tidak memilikinya. Dylan adalah lelaki pertama yang tidak mau tunduk dengan Laura. Kelebihan itu membuatnya semakin tertarik pada Dylan.


Apalagi sejak kecil Laura memang sudah hidup dalam kemewahan dan tidak pernah diajarkan untuk saling menghormati kepada sesama. Semua keinginannya selalu dipenuhi oleh kedua orang tuanya. Mungkin hal itulah yang membuatnya tidak memiliki sikap tenggang rasa dan arogan di usia mudanya.


Hingga ia pun bisa menghalalkan dan menggunakan segala cara agar semua keinginannya dapat terpenuhi. Tidak perduli dengan perasaan orang lain yang terluka, satu hal yang terpenting baginya adalah kebahagiaan sendiri.


Kean yang melihat Laura keluar dengan mengomel dan uring-uringan hanya bisa geleng-geleng.


"Cantik-cantik kok gendeng!"


Untung ucapan Kean tidak terlalu keras dan cenderung lirih, sehingga Laura tidak mendengarnya. Justru hal yang aneh adalah Laura tetap saja menggerutu sepanjang jalan.


"Enak saja dia bilang begitu, harusnya mereka tahu jika yang dikatakan mereka semuanya tidak benar. Memangnya apa yang salah denganku?"


"Aku cantik, kaya, muda dan body gitar Spanyol. Apa yang kurang denganku?"


Laura mengetuk-ngetuk jarinya ke pipi.


"Bukankah menikah dengan orang yang sudah menikah itu diperbolehkan? Hal itu tidak akan menjadi masalah jika semuanya bahagia? Betul begitu, bukan?"


Harusnya Laura sadar jika menjadi pelakor itu tidak diperbolehkan. Kurangnya pengawasan dari kedua orang tua Laura membuatnya hidup bebas dan semena-mena.


Sama seperti saat ini, di mana ia mulai menyukai suami orang lain. Hal itu menurutnya bukan merupakan sebuah perbuatan yang salah, justru diperbolehkan. Sayangnya, ia hanya seorang anak muda yang masih berada di dalam masa ababil. Keinginan dengan kenyataan sering kali tidak berjalan beriringan, hingga mengorbankan banyak hal.


Tiba-tiba saja, Laura baru menyadari jika keinginannya saat ini sangat susah ia dapatkan. Ia memasang seat belt lalu mulai berkelana kembali. Ia memang belum menjalankan mesinnya. Laura mencoba untuk mulai mengingat jika Milley juga berwajah cantik dan sukses dalam dunia bakery.


"Kalau wanita itu bisa sampai di titik ini, maka aku akan lebih bisa mengunggulinya. Tunggu saja keberhasilanku tidak akan lama lagi."


Setelah merasa cukup puas dengan rencananya, Laura segera menginjak rem dan gas melajukan mobilnya menuju rumah. Perjalanan panjang kali itu tidaklah membosankan karena Laura memikirkan beberapa rencana untuk mendpatkan Dylan.


Beberapa saat kemudian, mobil Laura sudah terparkir rapi di halaman rumah. Ia bergegas naik ke kamarnya yang berada di lantai dua. Para pelayan yang mengetahui jika tuan putrinya datang segera mengejar Nona Mudanya itu.

__ADS_1


Sesampainya di kamar, Laura yang merasa tidak terima segera membanting semua peralatan make up yang berada di atas meja riasnya.


"Dasar wanita menyebalkan! Kamu juga lelaki menyebalkan!" teriak Laura.


"Awas saja, aku pastikan kalian akan menderita!"


Suara Laura yang melengking terdengar sampai ke lantai satu. Semakin lama, Laura mulai hilang kendali. Ia mulai berteriak-teriak di dalam kamarnya. Para pelayan di luar kebingungan, tetapi tidak ada yang berani masuk ke dalam kamarnya. Mereka hanya menerka-nerka kejadian yang sebenarnya.


"Ada apa dengan Nona Laura? Apa ada yang menyinggungnya kembali?"


"Entahlah, sejak pulang ia sudah uring-uringan."


"Bukankah biasanya ia juga uring-uringan."


"Sudahlah, jangan bergosip lagi. Nanti ada yang mendengar."


Para pekerja wanita memang sedang bergosip di ruang dapur. Apalagi pekerjaan rumah mereka sudah selesai, sehingga ini waktunya mereka bersantai sejenak. Tidak setiap waktu bisa bersantai sesuka hati.


Sehingga jika ada waktu sebentar, maka mereka akan menggunakannya untuk berbicara sebentar. Bahkan biasanya waktu mereka akan habis saat meladeni tingkah dari Laura yang sesuka hati.


.


.


"Tentu saja karena tingkahmu yang selalu menarik perhatian," ucap Milley singkat.


"Ha ha ha, apa kau sedang cemburu?"


Milley berbalik dan membawa beberapa menu makanan yang ia persiapkan untuk dijadikan menu makan malam bersama dengan Rain dan Jord. Sementara, saat ini Rain sedang bermain dengan Jord di ruangan sebelah.


Malam ini sesuai dengan keinginan Dylan, ia ingin menginap di rumah Milley. Sementara itu Kean dan beberapa bodyguard masih berjaga di luar.


Sebenarnya sejak tadi ponsel Dylan sering berdering, tetapi ia tidak mengatakan hal tersebut pada Dylan karena begitu takut jika nanti ia marah kepadanya.


"Sebaiknya aku mendiamkan hal ini, biarkan saja Tuan bersenang-senang dengan istrinya," gumam Kean sambil memandang halaman rumah Milley yang asri.

__ADS_1


"Mungkinkah selama ini, Tuan sering memendam perasaannya sendiri? Sehingga ia lebih banyak menghabiskan waktu dengan pekerjaannya?"


"Ah, sudahlah, biarkan saja, yang terpenting Tuan bahagia."


Kean lebih memilih untuk mendiamkan panggilan tersebut atau jika panggilannya begitu penting, maka ia akan segera mengangkatnya.


Ia juga belum mengatakan hal ini atau melaporkannya kepada Tuan Chryst.


Kean lebih memilih untuk mengistirahatkan pikirannya yang lelah daripada memikirkan hal lain. Jarang-jarang ia memiki waktu bersantai seperti ini.


Saat ini Dylan lebih banyak menghabiskan waktunya untuk menggoda istrinya. Kapan lagi ia bisa melakukan hal tersebut. Apalagi ia baru saja bertemu dengannya setelah lima tahun berpisah.


"Kenapa sih, mandangin mulu, malu kalau keliatan sama Rain."


Tidak memperdulikan perkataan istrinya, Dylan malah memeluk istrinya dan mengecup lehernya dari belakang. Secara tidak sengaja Jord baru sama masuk ke ruang makan.


"Apa yang Om lakukan sama Mama?"


Sontak saja kedua orang itu menoleh dan kemesraan yang hampir terjadi ambyar begitu saja. Bahkan Dylan langsung melepaskan pelukannya terhadap Milley.


"Eh, itu ... anu .... hm ...."


Rain yang menyadari hal itu segera membantu sepasang suami istri itu.


"Om Dylan hanya membantu Mama kamu, Sayang."


"Benarkah begitu?"


"Tentu saja begitu, jadi sebaiknya kamu tidak usah berpikir yang aneh."


"Tapi sayangnya aku tidak percaya, Om."


"Hadeh ... apes, " gumam Dylan sambil menepuk jidatnya.


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG


__ADS_2