
Jika nanti masih ada kesempatan bagiku untuk kembali maka aku pastikan aku akan kembali padamu. Namun aku tidak bisa berbuat banyak jika kau sudah menjadi milik orang lain.
Cinta membuatku berpikir, jika aku berani mencintai orang lain, maka aku harus berani terluka. Cinya dan luka hanya sebatas kata, jika cinta melukaimu, maka cinta barulah yang akan membuatmu sembuh.
"Chamomille Milley, sejak pertama aku melihat wajahmu, aku sudah menaruh hati. Tawamu, candamu semuanya mampu mengubah duniaku. Meski akhirnya kau menjadi milik orang lain, cinta untukmu tidak pernah pudar."
Michael menatap hamparan langit Ibu Kota untuk terakhir kalinya. Banyak sekali kenangan yang ia tinggalkan di sudut sana. Andai angin tidak membawanya pergi, mungkin ia akan menetap di sini. Rupanya hal itu sama saja, saat Milley merasa terluka di saat yang sama Michael merasakan hal yang sama.
Sampai di mana ia harus menahan luka saat ia harus kembali ke negara asalnya.
"Michael ayo bergegaslah. Pesawatnya sudah menunggu kita!" ajak Nyonya Marrie pada putranya.
"Iya, Bu. Tunggu sebentar."
Michael tampak tidak rela meninggalkan Ibu Kota. Rasanya langkah kakinya terasa sangat berat kali ini. Akan tetapi tatapan teduh dari Nyonya Marrie mampu menguatkan dirinya agar ia kuat dalam menjalani semua proses ini.
Akhirnya setelah sekian lama, Michael mulai melangkah pergi menyusul ibunya. Nyonya Marrie segera menggandeng lengan Michael agar ia mantap meninggalkan Ibu Kota.
Saat ini Michael sedang bersiap untuk masuk ke dalam pesawat. Ia akan meninggalkan sesuatu yang tidak akan pernah menjadi miliknya dan mencoba memperjuangkan apa yang sebenarnya sudah menjadi kewajibannya sejak lama.
Kehidupan Paris sudah menunggunya, pada akhirnya Michael harus meninggalkan semua kenangan yang berada di Indonesia, kini tujuannya adalah kembali ke Paris bersama keluarga besarnya.
Tidak ada lagi cinta di hati Michael, yang tersisa hanyalah ambisi untuk membahagikan kedua orang tuanya dan meneruskan perusahaan yang telah dibangun oleh ayahnya. Kalau soal jodoh biarlah Tuhan yang mengaturnya.
Apalagi sebentar lagi Milley akan menikah, jadi lebih baik ia pergi daripada harus melihat Milley bersanding dengan orang lain.
Michael sudah merelakan Milley untuk bahagia, panggilan telepon yang biasa menjadi prioritasnya kini sudah dinonaktifkan. Ia sudah mengganti dengan nomor ponsel yang baru.
"Kamu bertindak benar, Nak. Masih ada wanita lain yang pasti menjadi jodohmu," ucap Mama Marrie sambil mengusap tangan putranya.
"Iya, Ma. Aku sudah ikhlas, setidaknya Milley bersama orang yang tepat kali ini."
"Benar, Mama bangga padamu."
__ADS_1
Ibu dan anak tersebut segera berangkat ke Paris, melupakan semua kenangan manis yang pernah terukir di hati mereka. Mungkin di awal akan terasa hal itu tidak mungkin, tetapi setelah ini mereka yakin jika Michael pasti bisa melaluinya.
Tanpa Michael sadari, saat ia banyak pikiran maka hal itu akan membuat imun tubuhnya menurun drastis. Semoga saja tidak ada hal buruk yang terjadi setelahnya.
"Andai kamu mau, kamu pasti bisa, Nak. Sekalipun Milley hanya singgah di hatimu, Mama yakin pasti ada Milley-Milley yang lain," gumam Mama Marrie.
Pesawat yang mereka tumpangi sudah datang. Kini keduanya sudah berada di dalam pesawat. Setelah menemukan kursinya, ia segera duduk dan membereskan barangnya di kabin.
Lalu setelahnya, Michael memejamkan matanya agar sesaat kemudian bisa terlelap. Sejenak melupakan bahwa beban cinta itu sangat menekan batinnya. Terlebih lagi karena perjalanan mereka menghabiskan waktu lebih dari delapan jam, lebih baik menggunakannya untuk istirahat.
...***...
"Bagaimana keadaan Milley saat ini?"
"Dia masih bersama Dylan untuk mempersiapkan pernikahan mereka."
"Syukurlah kalau begitu."
"Lena, kamu istirahatlah, dua hari setelah mereka menikah, maka kita akan berangkat ke Inggris untuk pengobatanmu."
"Terima kasih, ya. Semua ini bisa terjadi semua karena bantuanmu."
Andreas tersenyum dan sudah merasa lebih bahagia saat ini. Ia merasa bahagia karena pada akhirnya ia bisa menemukan Lena. Karena rasa bahagianya, Andreas memeluk Lena dengan penuh cinta. Meskipun mereka tidak menikah setidaknya mereka bisa bersama.
"Kamu beneran tidak ingin menikah denganku?" tanya Andreas dengan penuh cinta.
"Ha ha ha, jangan becanda, lebih baik kita seperti ini, setelah ini status kita malah menjadi besan, loh! Masa iya kita menikah, nggak lucu banget."
"Ah, iya, sungguh status kita membingungkan sekali, tetapi aku tidak ingin Milley menikah dengan orang lain," ucap Andreas dengan sendu.
"Makanya, terima saja semuanya. Sudahlah, yang terpenting adalah anak-anak kita bisa hidup bahagia."
"Nah itu aku setuju, apapun yang menjadi keinginanmu akan selalu aku usahakan."
__ADS_1
Lena dan Andreas sama-sama tersenyum dan menikmati senja sore itu. Sejenak melupakan penatnya hidup yang selalu menghimpit dada mereka.
"Kita tuh lucu, pernah menjalin rasa cinta, pernah juga saling membenci, tetapi pada akhirnya kita tetap tidak bisa bersama."
"Yang terpenting anak-anak bahagia itu sudah lebih dari cukup."
Andreas memegang tangan Lena, menggenggamnya dengan erat. Ia tidak ingin jika Lena pergi darinya. Oleh karena itu, ia selalu menempel kemana pun ia pergi.
"Andreas, please jangan seperti anak kecil kenapa? Geli tahu!"
Lena merasa jika usia mereka tidak seharusnya mereka bersikap seperti itu. Andai mereka bisa bersama mungkin hal itu akan terasa wajar. Akan tetapi ia sangat malu dengan status mereka. Teman tapi mesra atau malah bisa disebut dengan puber kedua.
"Oh, astaga hal ini sangat gila! Aku tidak suka jika Andreas bersikap seperti ini. Bagaimana jika Rebecca tahu, apakah ia akan mem-bu-nuh-ku?"
Pikiran buruk seketika membayangi Lena. Ia sampai bergidik saat membayangkan Rebecca kembali melabraknya seperti dulu.
"Semoga saja hal ini tidak akan terjadi lagi."
...***...
"Andreas kau benar-benar gila! Beraninya kau melakukan semua ini padaku. Bukankah seharusnya kau yang sengsara, kenapa malah aku?" ucap Rebecca dengan geram.
"Tenanglah sayang, yang terpenting bukankah sebagian harta orang tua itu sudah menjadi milikmu?"
Ucapan lelaki disamping Rebecca membuat ia kembali bersemangat.
"Ya, biarkan semua merasakan bahagia saat ini, tetapi setelah ini aku jamin, ia pasti akan menderita, apalagi untuk Lena!"
Dendam memang mengikis kebaikan hati. Menghilangkan persaudaraan dan membuat penyakit di dalam hati.
"Mencintaimu seperti membuatku tersiksa. Meskipun saat ini sudah terkikis karena benci, namun tetap saja menyiksa. Bahkan saat melihatmu bersama wanita itu aku tetap saja sakit. Dasar lelaki ba**ngan!" umpat Rebecca kesal.
Entah sejak kapan kebencian itu mulai muncul di hati Rebecca. Padahal di awal pernikahannya dengan Andreas, ia sangat bahagia.
__ADS_1
Akankah Michael mendapatkan kebahagian untuknya atau ia harus kembali hidup tanpa cinta?