
Bukan Dylan namanya kalau tidak pernah bertingkah. Niat hati ingin melihat Milley kagum dengan atraksinya, namun di luar dugaan ternyata suhu air laut saat itu sangatlah dingin.
Awalnya Dylan ingin snorkeling, tetapi Tuhan berkehendak lain. Saat Dylan menunjukkan pada Milley tentang keindahan laut yang berada di kedalaman, karena terlalu asyik Dylan rela menahan nafas terlalu lama.
Akan tetapi sesaat kemudian ia merasakan pusing dan sesak nafas, Milley yang melihat hal tersebut segera menolong Dylan dengan membawanya naik ke permukaan.
Beruntung Milley pandai berenang sehingga ia dengan mudah mengetahui hal-hal seperti tadi. Melihat bibir Dylan yang mulai kebiruan, membuat Milley harus memompa dada Dylan agar memudahkan ia saat mengeluarkan air dari dalam tubuh suaminya.
Ternyata hal itu tidak semudah bayangan, Dylan tetap tidak siuman, hingga akhirnya Milley memberikan nafas buatan. Berharap keajaiban itu datang padanya.
"Dasar bodoh! Snorkeling saja bisa membunuhmu!" ucap Milley sambil menangis.
Milley tidak habis pikir dengan yang dilakukan Dylan saat ini. Padahal tanpa harus menunjukkan kalau dia keren, Milley sudah jatuh hati padanya, bukan seperti ini yang ia mau.
Dengan sekuat tenaga, Milley mencoba menolong Dylan, sampai akhirnya Milley berdoa dengan sepenuh hati agar Dylan diberikan kesempatan hidup untuk ketiga kalinya.
Mungkin yang dinamakan doa istri itu mustajab mampu menggantarkan Dylan menuju kesadarannya. Beberapa detik kemudian Dylan sudah siuman.
__ADS_1
"Uhuk!"
Akhirnya Dylan siuman, hal yang pertama kali dilakukan oleh Milley adalah memeluk tubuh suaminya. Bibir Dylan yang semula membiru kini sudah memerah kembali, setidaknya tidak sepucat tadi. Milley bersyukur Dylan kembali siuman.
Dylan yang bisa melihat rasa khawatir di dalam kelopak mata Milley semakin mengeratkan pelukannya.
"Maaf, Sayang. Telah membuatmu khawatir. Aku tidak bermaksud untuk menyakitimu ataupun membuatmu khawatir."
"Dasar Dylan bo**h, beraninya kau membuatku menangis, sekali lagi kau berbuat konyol maka kupastikan aku akan pergi jauh."
"Ja-jangan, Sayang. Aku minta maaf padamu."
.
.
Rasa mual yang melanda Rose belum juga reda. Ternyata Rose kembali mengalami morning sickness di usia kehamilannya yang ke tujuh. Entah kenapa hanya dengan mencium aroma sabun mandi, ia sudah mual-mual hebat.
__ADS_1
"Aduh," keluhnya saat lelaki dihadapannya membawakan sabun baru untuknya.
"Sayang, ini sudah ke sepuluh kalinya aku membawakan sabun untukmu, masa kamu nggak suka."
"Enggak, aku tetap nggak suka!" teriak Rose.
Rose saat ini sudah lebih baik kondisi psikisnya, lelaki itu berhasil menolong Rose. Sungguh kebesaran Tuhan yang membuat Rose bisa kembali sembuh. Setidaknya dengan begitu ia tidak akan menyakiti bayi dalam kandungannya.
"Kalau aku bilang nggak suka, ya nggak suka!"
Rose membuang wajahnya ketika lelaki itu mendekatinya. Namun, di luar dugaan lelaki itu malah memeluk tubuh Rose.
"Bram!" teriak Rose tidak suka.
Ya, lelaki itu adalah Bram, seorang pengusaha terkenal nomor lima se-Indonesia. Meski tidak sekaya Dylan, tetapi usahanya mampu diacungi jempol. Sejak usia muda ia selalu bekerja keras, bahkan ia tidak pernah menolak ketika ia harus menikah muda dengan wanita pilihan keluarganya.
Namun sayang, wanita itu tidak bisa hamil, sehingga Bram putus asa. Sampai diusia ke sepuluh tahun usia pernikahannya, ia baru dipertemukan dengan Rose.
__ADS_1
"Maaf, Sayang ... kalau begitu bagaimana kalau kita belanja atau jalan-jalan ke mall. Siapa tau kamu pengen beli sesuatu."
"Ah, benarkah, kalau begitu aku mau ...."