NOTA HUTANG DI ATAS PERNIKAHAN

NOTA HUTANG DI ATAS PERNIKAHAN
Bab 83. TERJEBAK


__ADS_3

Meskipun takut, Rose tetap mendatangi laki-laki tersebut. Dengan secara sembunyi-sembunyi ia mengemudikan mobilnya secara pribadi ke apartemen laki-laki itu. Ia bahkan menggunakan pakaian serba hitam agar tidak dikenali oleh orang lain.


"Akhirnya kau datang juga!" ucap lelaki itu.


Ia memang sudah memasang beberapa cctv di apartemennya tanpa sepengetahuan Rose. Apartemen ini sengaja ia pesan ketika ia menginginkan tubuh Rose secara cuma-cuma. Hal itu sesuai perjanjian yang telah ditanda tangani oleh Rose dan lelaki itu. Sayang, Rose sama sekali tidak membaca surat perjanjian tersebut di awal kontrak. Rose hanya tau jika mereka melakukan hal itu hanya sekali, dan setelahnya urusan mereka selesai.


Namun, dugaan Rose salah. Ia terlalu buta dengan obsesinya saat menginginkan Dylan. Satu hal lagi, saat ini ia pun hamil anak lelaki tersebut.


Rose kini telah berada di dalam apartemen. Matanya menatap tajam laki-laki ba**ngan yang telah menipunya itu.


"Sayang, kenapa kau menatapku dengan tatapan seperti itu? Apa kau membenciku?" ucapnya penuh seringai.


Rose hanya mengungkapkan kekesalannya dengan mengepalkan tangannya. Dylan saja yang sudah resmi menjadi suaminya tidak pernah menyentuhnya, tetapi lelaki be**t di hadapannya ini bahkan sudah lebih dari satu kali menidurinya.


"Sialan, haruskah aku membayar semua ini dengan tubuhku?" ucapnya tidak terima.


Sementara lelaki itu tertawa bahagia di dalam hatinya.


"Rose, seharusnya kamu sadar, ketika kau mulai menyerahkan tubuhmu maka kau tidak akan pernah bisa lepas dari jeratku!"


Lelaki itu berjalan pelan ke arah Rose. Dipegangnya kedua bahu Rose dengan lembut lalu di kecupnya bibir Rose dengan rakus. Rose sempat menolak tetapi laki-laki itu berhasil menguasai Rose dan mendorongnya hingga terbentur tembok.

__ADS_1


Dengan leluasa ia mulai menjelajahi tubuh Rose, melucuti semua pakaiannya dengan kasar. Laki-laki itu tertawa senang ketika melihat Rose tidak berdaya.


"Hei! Kau tidak bisa berbuat dengan lembut sedikit, kah?"


"Aku ini sedang hamil muda!" gertak Rose.


"Memangnya kenapa, bukankah dokter memperbolehkanmu untuk tetap berhubungan dengan ayah bayi yang kamu kandung?"


Kedua mata Rose terbelalak karena terkejut atas ucapan laki-laki itu.


"Bagaimana ia bisa tau kalau dokter memperbolehkannya melakukan itu?"


Sementara itu Dylan sudah mulai siuman, ia diberikan pengobatan dengan versi yang telah disempurnakan oleh Rumah Sakit tempat ia dirawat. Tuan Chryst saat ini sedang bersamanya.


"Aku di mana, Kek?"


"Seperti yang kamu lihat, saat ini kamu sedang dirawat di Rumah Sakit."


"Ada apa denganku, bukankah aku baik-baik saja."


"Dylan kamu tidak perlu khawatir akan semua ini. Untuk pekerjaan kantor sudah aku bereskan semua. Jadi fokuslah pada kesembuhanmu."

__ADS_1


"Terima kasih, Kek."


.


.


"Bagaimana kata dokter?"


Milley mendudukkan dirinya di kursi tunggu, ia bingung harus mengatakan apa. Saat ini meski ketakutan, Lena membiarkan Andreas masuk ke dalam ruang rawatnya. Mereka mencoba menyelesaikan semua kesalah pahaman di masa lalu.


Lena sempat terisak ketika Andreas berlutut padanya. Ternyata rasa cinta untuknya tidak pernah terhapus oleh waktu. Kedua orang dewasa itu tergugu akan masa lalu mereka. Mereka tidak menyangka jika mendiang Ibu Andreas bisa melakukan semuanya.


"Maafkan aku Lena, aku berjanji akan menebus semua kesalahanku di masa lalu."


Dengan terisak, Lena menjawab, "Ta-tapi, Mas ... semua sudah menjadi masa lalu dan ...."


"Dan apa Lena?"


"Aku akan segera meninggal ...." ucap Andreas tergugu.


"Nggak ... nggak mungkin, kamu bohong!"

__ADS_1


__ADS_2