NOTA HUTANG DI ATAS PERNIKAHAN

NOTA HUTANG DI ATAS PERNIKAHAN
Bab 171. BERTEMU BABY J


__ADS_3

Seorang anak memang tidak seharusnya menjadi beban kedua orang tuanya. Anak adalah seorang anugrah yang diberikan Tuhan kepada sepasang anak manusia yang saling mencinta di dalam sebuah pernikahan. Sebaiknya kehadiran seorang anak bisa menjadi sebuah alat untuk perdamaian.


Hari yang ditunggu telah tiba, kini Milley dan Rain sudah bersiap untuk rencana mereka. Kebetulan ia saat itu mengikuti Rain untuk mengambil botol bekas di pinggir jalan.


“Kenapa perasaanku tidak enak?”


Meskipun ragu, Milley tetap melangkah pergi mengikuti Rain. Lelah dan peluh yang membanjiri tubuhnya karena sengatan matahari tidak membuat semangatnya menurun. Apalagi tujuan utamanya untuk mencari keberadaan Baby J.


Itulah mengapa Milley masih bersemangat sampai detik itu. Secara tidak sengaja Baby J demam, karena selama dua hari ia tidak mendapatkan ASI eksklusif ataupun makanan dan hanya mendapatkan air putih saja.


Belum lagi kondisi gedung itu sangat kumuh sehingga kurang cocok dengan tempat tinggal Baby J. Membuat kondisi kesehatannya menurun drastis dan berakhir rewel.


“Kenapa bayi itu terus menangis? Merepotkan saja!”


Mendengar tangisan Baby J yang tidak kunjung berakhir membuatnya semakin marah. Ia sampai membanting semua barang yang berada di hadapannya. Kekejaman neneknya semakin menjadi ketika mendengar tangisan Baby J.


“Pengawal, pindahkan bayi itu ke gudang, sekarang!”


“Ta-tapi, Bos ....”


“Tapi kenapa lagi? Sepi? Atau kalian mau aku potong gaji!”


“Di gudang banyak tikusnya, kasihan!” ucap salah seorang dari mereka.


Tidak ada yang bisa membuat kemarahan sang nenek mereda. Bahkan rasa kasihannya sama sekali tidak ada. Oleh karena itu ia pun meminta Baby J tidur di gudang yang penuh dengan tikus.


“Cepat pindahkan bayi itu segera!”


Mau tidak mau salah seorang dari anak buahnya membawa Baby J pergi. Merasa terancam dan berdosa karena mendzolimi balita, secara tidak sengaja salah satu anak buahnya membawa Baby J keluar gedung.


Ia mengendap-endap saat membawanya keluar gedung. Beruntung tidak ada yang tahu akan hal itu.


“Daripada kamu menderita, lebih baik kamu di sini saja, semoga ada orang yang mau menolongku, maaf,” ucapnya sambil membelai lembut Baby J.


Entah kebetulan atau tidak ia meletakkan Baby J di bawah pohon dekat dengan tong sampah. Letaknya pun tidak jauh dengan keberadaan Milley yang sedang memungut sampah.

__ADS_1


“Selamat tinggal bayi tampan,” ucapnya sambil meninggalkan Baby J sendirian.


Samar-samar telinga Milley seolah mendengar tangisan bayi.


“Sayang, itukah kau?”


Milley bergerak meninggalkan Rain. Saat menyadari Milley melangkah menjauhinya Rain segera mengikutinya. Berbekal indera pendengarannya, Milley mulai berlari ke lokasi. Sayangnya, saat ia sampai bayi tersebut sudah diambil oleh salah seorang laki-laki berbadan gempal.


Milley hendak melangkah mendekat, Rain mencekal lengannya hingga membuat langkah Milley terhenti.


“Jangan kesana, itu kepala preman di blok itu, dan itu di luar kekuasaan kami.”


Milley seolah tidak suka jika Rain menghentikan langkahnya. Ia pun hendak berjalan ke sana kembali.


“Ta-tapi Rain ....”


“Maaf ....” ucap Rain menunduk.


Namun, Milley bukanlah wanita yang lemah. Ia mencoba melarikan diri dari Rain lalu berlari ke arah Baby J. Rain yang tau segera mengejar Milley.


Hati dan perasaan Milley semakin bergetar saat melihat kain yang sama dengan bedong yang dipakai Baby J, Milley sangat yakin jika itu adalah anaknya.


“Baby J ....” ucapnya perlahan.


Milley mere-mas ujung baju yang ia kenakan. Dadanya mengeras saat mendengar tangisan Baby J. Seolah menyadari jika jalinan ibu dan anak itu benar adanya.


Tangisannya begitu memilukan, terlebih lagi Bos preman itu sangat bringas. Seolah ingin menyakiti Baby J, ia justru ingin membanting bayi itu. Mungkin ia sedang mabuk sehingga menganggap dia hanyalah boneka.


Milley yang ketakutan hanya bisa berbisik pada Rain.


“Tolong bawa aku ke bayi itu, aku merasa jika itu adalah anakku.”


Rain seketika menoleh, ia tidak bisa sembarangan mendekati Bos preman itu karena ia bukan anak buahnya. Akan tetapi melihat wajah Milley yang memelas mau tidak mau ia segera mendekati mereka dan meredam ketakutan di hatinya.


“Mau apa kau mendekati kami!” gertak Bos preman itu.

__ADS_1


“Bos, itu anak saya, bisakah Anda mengembalikan pada saya?”


“Enak saja, aku yang menemukan anak ini jangan harap kamu bisa mengambilnya dengan sesuka hati, bayar!”


“Be-berapa, Bos?”


Bos preman itu melirik tubuh Milley yang sangat membuatnya ingin untuk ... Hm ....


Mendapat tatapan itu, Milley beringsut mundur, ia ketakutan. Rain hanya bisa melirik sebentar lalu berusaha untuk berfikir dengan keras. Meskipun ia merasa terancam, ia tidak boleh lemah.


“Hm, apakah tidak ada cara lain, Pak Bos?”


“Ha-ha-ha, mau bernegosiasi denganku rupanya.”


Tanpa aba-aba, Bos Preman itu melempar bayi yang berada dalam tangannya ke arah Rain.


SYUH!


“Aw-was!”


Beruntung Rain bisa menangkapnya. Saat Baby J terlempar,seolah detak jantung Milley berhenti berdetak.


“Bagaimana bisa ada manusia yang tidak punya hati seperti itu?” gumamnya ketakutan.


Mengetahui Baby J selamat, Milley mengelus dadanya perlahan. “Alhamdulillah.”


“Ambillah, anggap saja aku lagi berbaik hati padamu.”


Bos preman itu membalikkan badan dan segera melenggang pergi. Entah mengapa ia tidak begitu tertarik dengan Baby J, hanya saja bayangan tubuh Milley seolah menari-nari di kepalanya. Namun, banyangan itu sirna ketika ia menengguk satu botol minuman keras itu kembali.


Namun, belum sempat Milley meraih Baby J, terdengar suara tembakan di sana.


DOR!


“Arghh ....”

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2