
Semakin malam, udaranya semakin dingin. Michael yang tidak rela melihat Milley menggigil, segera mengajaknya pulang.
"Sebaiknya kita pulang, nggak baik anak gadis pulang malam-malam."
Sontak Milley menonyor perut Michael hingga ia mengaduh.
"Aduh, sakit Milley."
"Sakit, kok senyum!" cibir Milley.
Milley akhirnya berjalan lebih dulu, lalu baru sesudahnya Michael menyusulnya. Namun, Milley semakin mempercepat langkahnya.
"Harusnya kalau tau udah larut malam, nggak pakai ngajak kesini, Kakak!" ucap Milley dengan nada bercanda.
Michael sempat melihat senyuman Milley saja sudah senang, apalagi bisa menghabiskan malam minggu bersamanya. Tidak mau ditinggal, Michael segera mengejar Milley.
Tidak butuh waktu lama, keduanya sudah berada di dalam mobil.
"Jadi, kamu menyalahkan aku, nih."
"Wkwkwk, enggak, cuma suka aja ngerjain Kakak."
Michael yang gemas, menoel ujung hidung Milley.
"Tetapi makasih ya, sudah mau menemani malam minggu ini."
"Sama-sama."
π
π
Saat ini Dylan sudah sampai rumah. Bau alkohol menyeruak di dalam kamar mandi. Para pelayan sedang bersiap untuk memandikan Dylan di sana. Karena Tuan Chryst amat tidak suka dengan bau alkohol.
Beliau pula yang menyuruh para pelayan itu untuk merawat Dylan selama Milley belum kembali, tetapi ia tidak mau menunggu cucunya itu dan memilih pergi ke kamar.
Kebetulan Milley baru saja pulang, ia berlari kecil ke arah kamarnya. Namun, langkahnya terhenti saat melihat kamar Dylan begitu ramai.
__ADS_1
"Maaf, ada apa ini?" tanya Milley tiba-tiba muncul di sana.
Dylan yang mendengar nama Milley langsung berhambur memeluknya.
"Milley aku merindukanmu! Jangan tinggalin aku!" ucapnya sambil mengigau.
Tentu saja Milley mual dengan bau alkohol di mulutnya, tetapi ia risih pada pandangan para pelayan di rumah itu
"Biarkan Tuan Dylan bersamaku, biar aku yang mengatasinya.
"Baik, Nona."
Satu persatu pelayan di rumah itu segera meninggalkan kamar Dylan. Milley miris melihat keadaan Dylan. Ia membelai lembut wajah lelaki itu. Lalu seketika menonyor kepala Dylan, mendorongnya hingga jatuh terjerembab.
"Milley ....!" teriaknya tidak terima.
Milley berniat menanggalkan baju dan tas selempang miliknya agar tidak ikut basah saat mengurus Dylan, tetapi Dylan meraba-raba tubuhnya hingga ia harus melakukan hal tadi.
"Kenapa, nggak terima! Makanya diem dulu napa sih!" ucapnya.
Setelah ia berganti kaos oblong yang kebesaran, Milley mulai mengurus Dylan. Dilucutinya satu persatu baju Dylan hingga tersisa segitiga bermuda milik Dylan di sana. Tidak mau mengotori mata sucinya, Milley meraih handuk lalu melilitnya ke bagian sana.
"Enak nggak direndam?"
"Enak, apalagi ditemani kamu!"
Dylan masih saja berada di bawah pengaruh alkohol. Milley memainkan bola matanya malas saat Dylan meracau tidak jelas, tetapi ia harus mengurus Dylan sebelum ia tidur.
Setelah mendiamkan Dylan selama beberapa saat, Milley mulai membilas tubuh Dylan dengan air sabun biar wangi. Satu hal yang ia benci, sekali lagi ia harus melepas pakaian dalam Dylan yang basah.
Dengan bergidik ngeri, Milley mengibas-ngibaskan tangannya setelah menyentuh benda berbentuk segitiga itu dan membuangnya ke sembarang arah.
"Hal yang paling jijay dan harus gue lakukan adalah menyentuh barang itu."
Setelahnya selesai, ia segera memakaikan jubah mandi dan memapahnya ke dalam kamar. Namun, hal tidak terduga terjadi setelahnya.
Saat Dylan mulai mendapatkan kesadarannya ia sempat melihat Milley lalu mulai mengambil kesempatan kembali. Saat Milley merapikan tempat tidur Dylan dan menutupi tubuhnya dengan selimut, Dylan menariknya ke dalam. Tentu saja Milley yang tidak siap kini sudah berpindah masuk ke dalam pelukan Dylan.
__ADS_1
"Dylan!" pekik Milley terkejut.
"Mulai geser nih, otak Dylan? Atau sudah terkontaminasi sih?"
Ia mencoba melepaskan tautan tangan Dylan tetapi tidak bisa. Pada akhirnya ia harus rela satu ranjang lagi dengan Dylan.
"Ya Tuhan, kenapa aku harus terjebak di sini!" ucapnya gelisah.
Karena kelelahan mau tidak mau Milley harus semalamam terjebak dalam dekapan Dylan. Sementara itu Dylan menyeringai.
"Mau kemanapun pergi, kembalinya tetap bareng aku."
"Lagipula, aku tidak bisa hidup tanpamu, Milley ...." ucap Dylan sevelum benar-benar terlelap dalam tidurnya.
Dylan tersenyum senang saat tidur, tetapi tidak dengan Milley. Ia tetap menyilangkan kedua tangannya di depan dada, agar Dylan tidak mencuri kesempatan.
Begitu pula dengan senyuman Michael yang tidak pernah pudar sepulang kencan bersama Milley.
Akankah hubungan mereka terus berlanjut atau Dylan akan menghalangi hubungan mereka? Simak di double up hari ini kakak.
.
.
Sambil nunggu update boleh mampir ke karya teman literasi Fany ya.
Judul: Mantan Terindah
Penulis: Rini Sya
DIA MENCERAIKAN ISTRINYA DEMI KEMBALI KE CINTA MASA LALUNYA? APAKAH INI ADALAH KEPUTUSAN YANG TEPAT!?
Zien menceraikan istri sahnya demi kembali pada kekasih masa lalunya.
Serasa disambar petir perasaan sang istri saat Zein mengungkapkan keinginannya itu.
Keputusan apa yang akan diambil oleh istri sah Zein? Mungkinkah ia akan meluruskan niat suaminya itu?
__ADS_1
Lalu bagaimana dengan kekasih masa lalu Zein? Mungkinkah ia akan tetap melangkah maju, setelah ia tahu bahwa Zein menceraikan istrinya demi kembali padanya?
Jangan lupa mampir temanπ