
Semua persiapan kepulangan Lena dan Andreas sudah mencapai tahap sembilan puluh persen. Kerinduan terhadap ayah kandungnya membuat Andreas segera meraih ponsel yang berada di atas nakas.
Mungkin saja kebahagiaan yang ia rasakan saat ini sangatlah besar. Terlebih ia sudah mendapatkan kembali kepercayaan dari Tuan Chryst. Mungkin dulu hubungan mereka sempat renggang, akan tetapi saat ini di saat semuanya telah kembali ia merasa harus segera membenahi hubungan antara anak dan ayah kembali.
"Hai, Ayah. Selamat siang?" sapanya ramah.
"Dasar anak bo-doh. Selama ini kau kemana saja, sudah bosan hidup rupanya!"
"Astaga, baru saja telpon sudah mendapatkan semburan larva panas," ujarnya dengan suara lirih.
"Ma-maaf, Ayah. Bukan begitu maksudku. Aku hanya merasa jika kondisi Lena belum cukup membaik, maka aku menunda kepulanganku."
"Jadi, wanita itu lebih penting dariku, hah!"
Andreas bisa merasakan jika ayahnya sudah kembali pulih. Hal itu terdengar ketika sang ayah sudah bisa memarahinya kembali.
Mendengar ucapan ayahnya yang terdengar sangat marah membuat Andreas cukup lega.
Ketakutannya beberapa saat yang lalu sirna sudah.
Meskipun sedari kecil keduanya tidak terlalu akrab, namun setelah kematian Morena Andreas mulai memperbaiki hubungannya dengan ayah tercinta. Begitu pula dengan hubungannya dengan Dylan.
Seulas senyum tersungging di wajah Andreas. Menambah aura ketampanan yang ia miliki yang seolah tidak pernah pudar meski sudah berusia lebih dari empat puluh tahun.
"Ayah, kemungkinan besok pagi aku akan kembali ke Indonesia."
Setelah keheningan yang cukup lama, akhirnya ia kembali berbicara. Begitu pula dengan amarah Tuan Chryst yang sudah mereda.
"Syukurlah kalau begitu. Biar besok Jo menjemput kalian. Oh, ya ada satu masalah besar yang terjadi saat ini. Bisakah aku membicarakannya saat ini?"
"Tentu saja boleh. Masalah apakah itu, Ayah?"
Kening Andreas mulai berkerut saat mendapati hal itu. Akan tetapi ia mulai sadar arah pembicaraan kali ini cukup serius dan mungkin saja sangat penting.
Sebelum berbicara Tuan Chryst sempat menarik nafas perlahan. Sungguh berat ia mengatakan hal itu, tetapi ia tidak bisa menutupi kekhawatirannya.
"Michael hilang ingatan, beberapa saat yang lalu ia mengalami kecelakaan, dan saat ini Jo sedang menyelidikinya. Sehingga perusahaan hanya dipegang olehku dan anakmu."
__ADS_1
Andreas membuang kasar nafasnya. Ia sudah bisa memprediksi hal ini pasti akan terjadi. Melihat bahwa Michael juga seorang pebisnis yang handal kemungkinan pasti sangat banyak orang yang akan berniat jahat kepadanya.
"Apakah ini perbuatan bedebah itu!" ucap Andreas dengan bersungut-sungut.
"Hh ... aku tidak mau berasumsi terlebih dahulu, aku takut jika ucapan atau tindakan kita ada yang mengawasi."
"Lalu bagaimana dengan proyek kita, Ayah?"
"Kamu jangan khawatir soal hal itu karena hal itu sudah aku tangani bersama putramu."
"Syukurlah kalau begitu. Akan tetapi yang perlu kamu khawatirkan adalah bagaimana hubunganmu dengan Lena."
"Kenapa harus khawatir dengan hal itu?" tanya Andreas kebingungan.
"Dasar anak bo-doh!"
"Ternyata kamu tidak lebih baik saat ini, usiamu boleh dewasa, tetapi sikap dan pikiranmu sama saja."
Andreas mendengus kesal karena hal itu. Sebenarnya ia tahu arah pembicaraan ini. Akan tetapi hal setelah ini mungkin bisa membuatnya berpikir ulang. Apalagi semua ini berurusan dengan hubungannya dengan Lena dan kedua anaknya.
"Ada hal lain yang harus kamu pikirkan setelah ini."
"Karena menantumu saat ini sedang mengandung cucumu."
Ternyata apa yang ditakutkan oleh Andreas hal lain. Ada sebuah berita baik yang disatu sisi mengancam dan di satu sisi bisa mengeratkan hubungan mereka.
"Ma-maksud Ayah, Milley sudah hamil?"
"Ya, Milley saat ini sudah hamil dan usia kandungannya sudah menginjak enam minggu."
"Be-benarkah?"
"Iya."
"Apakah kalian tidak cukup lama tinggal di sana? Sudah hampir dua bulan kalian tidak kembali!" gertak Tuan Chryst hampir marah.
Andreas kembali terkekeh akan ucapan ayahnya barusan. Ucapan dari ayahnya itu menyadarkan dirinya bahwa terkadang keegoisan kita sepertinya harus tahu tempat. Apalagi usianya sudah tidak muda lagi.
__ADS_1
Tuan Chryst tahu betul sikap Andreas yang suka memperpanjang masalah. Bahkan terkadang ia tidak suka jika masalah hatinya dicampuri oleh orang lain. Mungkin itulah alasan kenapa Tuan Chryst membiarkan dirinya pergi bersama Lena di luar negeri selama dua bulan.
Mungkin dengan tinggal di luar negeri yang bisa menyembunyikan hubungannya dengan Lena. Akan tetapi hal itu tidak akan bisa berlangsung lama karena pada kenyataannya saat ini Milley sudah menjadi menantunya.
"Kamu harus menjadi seseorang yang dewasa. Masa iya mau jadi seorang kakek, sikapnya masih seperti seorang anak muda. Jangan membuat malu Keluarga Anggara!"
Andreas terpojok akan ucapkan ayah barusan. Namun, ia sadar apa yang akan dihadapi setelah ini. Jika ia tidak menyelesaikan masalah hati ini, maka kedepannya akan menjadi masalah.
"Iya, Yah. Setelah ini aku pasti akan lebih menjaga sikapku kembali. Ayah tidak usah khawatir."
"Tidak usah khawatir denganmu, memangnya apa yang kamu lakukan selama ini tidak pakai otak, kah?"
Andreas hanya mengulas senyum lalu ia mulai berpikir keras kembali. Saat ini cinta untuk Lena memang tidak bisa tergantikan, tetapi ia harus meredam semua itu demi kebahagiaan putra semata wayangnya. Lagi pula ia juga sudah bercerai dengan Rebecca, jadi tidak ada hal lain yang akan menghalangi cinta mereka setelah ini.
"Mungkin memang ini saatnya untukku melepas semua keegoisan yang ada pada diriku," ucapnya dalam hati.
Andreas begitu yakin akan cintanya setelah ini oleh karena itu ia pun mengiyakan perkataan ayahnya, Tuan Chryst. Lagi pula ia paham jika apapun perkataan dari ayahnya memang sangat berpengaruh saat ini.
"Terima kasih, Ayah untuk semua nasehatnya."
"Sama-sama dan cepatlah pulang."
"Baik, Ayah. Aku berjanji tidak akan mengecewakanmu lagi."
"Semoga."
Akhirnya percakapan antara ayah dan anak itu terhenti ketika mereka sudah melepas semua apa yang membebani pikirannya. Sementara itu di Ibu Kota, Dylan sempat memijit keningnya beberapa kali. Ia mengerti jika semua urusan bisnis tidak ada yang mudah.
Dulu sebelum ini ia masih bisa mendiskusikannya dengan Milley, tetapi saat ini ia sedang mengandung, sehingga ia tidak boleh seenaknya membebani istrinya.
Padahal tanpa diketahui oleh Dylan, Milley tetap memantau perkembangan bisnisnya dari rumah. Hanya saja ia memang tidak selamanya membantu suaminya.
"Maafkan aku jika aku hanya bisa membantumu sampai di sini. Semua ini aku lakukan untukmu dan anak kita."
Milley mengelus perlahan perutnya. Ia merasa jika apapun yang ia lakukan setidaknya tidak terlalu membebani suaminya. Milley sadar jika ada hal yang tidak selamanya bisa dilakukan oleh satu orang. Maka dari itu Milley memilih untuk membantu Dylan dari balik layar.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG