
Melihat tatapan Dylan yang tidak bersahabat dengan Rain membuat Milley harus memikirkan cara untuk meredam kemarahannya.
"Kamu kenapa? cemburu?" tanya Milley terus terang.
Sementara itu Dylan masih menaruh tangannya ke depan dada. Ia merasa tersinggung karena kehadiran lelaki lain di dalam kehidupan Milley. Namun, ia tidak bisa mengatakannya secara langsung, alias tengsin.
Ego Dylan terlalu tinggi sehingga ia tidak bisa menahan diri jika ada lelaki lain yang berani mendekati istrinya. Namun, Milley yang peka menyadari sikap suaminya tersebut. Setidaknya ia sudah sedikit dewasa ketimbang suaminya yang usianya saja tua, tetapi pemikirannya masih terkesan anak-anak.
"Ternyata sikap cemburumu sama sekali belum berubah sama sekali," gumam Milley sambil berlalu.
Sementara itu, di depan toko Kean masih berjaga di sana sendirian. Ia masih tidak bisa menghadapi gadis yang merasa dirugikan oleh Dylan tadi siang.
"Andai aku berduit dan ganteng, sudah pasti aku pacari kamu, sayangnya aku hanyalah asisten yang mempunyai tampang pas, pas-an. Pas buat makan, pas buat teman jalan dan pasti kalau jalan sama aku kamu yang bayarin! Duh Gusti, ngenes pisan nasib, Aing!" ucap Kean menepuk jidatnya.
Sebagai seorang asisten, Kean memang serba salah. Di satu sisi harus menjadi orang serba bisa di sisi lain, ia kadang merasa diperbudak. Mana dia tidak pernah dibekali dengan ilmu menaklukan wanita, sehingga saat dipertemukan gadis model seperti ini ia kebingungan.
Pada dasarnya Kean adalah orang yang baik, bahkan terlampau baik. Buktinya saja, ia tidak bisa menolak keinginan Pak Bos atau membantah perintahnya. Di suruh apapun dia mau.
Mungkin karena Kean asik melamun, hingga saat gadis itu sudah berdiri di hadapannya, Kean justru tidak menyadari hal itu. Bahkan gadis itu membuyarkan lamunan Kean dengan menggertaknya.
"Ngapain kamu berdiri di depan pintu?" tanya gadis itu dengan mata melotot.
Hampir saja ia gagap menghadapi kedatangan tiba-tiba dari sang gadis. Beruntung ia sangat mudah mendramatisir situasi dan seolah tidak terjadi apa-apa. Kean tersenyum lebih dulu, baru menatap garang gadis pecicilan itu.
"Tentu saja berjaga agar kau tidak bisa masuk atau menemui Pak Bos, paham!"
"Apa katamu, mau menghalangi jalanku, memangnya kamu tahu siapa ayahku?"
"Enggak, memangnya apa peduliku?"
Si gadis tentu saja marah, ia sudah terbiasa dimanja dan semua kemauannya selalu dipenuhi. Hanya kali saja ia merasa tertolak.
"Hm, dasar kau ya?" gerutu gadis itu.
Gadis itu sengaja menjejakkan kakinya dengan kesal di lantai tanpa melihat atau memperdulikan tatapan aneh orang-orang di sana. Baginya ia sudah kepalang tanggung datang ke tempat itu, eh apesnya sebelum ketemu pujaan hati justru ketemu asisten yang menyebalkan.
Bahkan kali ini dengan seenak jidatnya, gadis itu menerobos masuk ke dalam toko kue milik Milley tanpa permisi. Sebelumnya dengan kasar ia mendorong tubuh Kean agar menyingkir dari hadapannya.
"Gil*! Badannya kecil tetapi kekuatannya kayak gajah bengkak!" gerutu Kean sambil membersihkan badannya yang terkena debu.
__ADS_1
Setelah masuk ke dalam toko, ia mengedarkan pandangannya ke sekililing, tetapi tidak menemukan siapa pun di sana. Merasa aneh dengan situasi di dalam toko, gadis itu berteriak.
"Dimana Bos kalian? Aku ingin bertemu!" gertaknya sambil berkacak pinggang.
Tiba-tiba dari arah belakang muncul seorang pemuda tampan yang tidak lain adalah Rain. Ia sempat memandangi gadis itu dari atas dan bawah. Lalu setelahnya membiarkan dirinya melampiaskan kekesalannya untuk sesaat.
"Maaf Nona, ada perlu apa Anda di sini?" tanya Rain ramah.
Sontak gadis itu menoleh dan terkejut akan penampilan pemuda tampan di hadapannya kali ini. Setelahnya ia baru mengembalikan kesadarannya agar tidak terperdaya dengan ketampanan Rain dan kembali memfokuskan pikirannya pada Dylan.
Rain memang berdiri tidak jauh dari bagian kasir. Saat kini terpaksa keluar dari sana dan sedang berhadapan dengan gadis yang sombong itu. Tanpa mau memandangnya ia tetap berteriak memanggil pemilik toko kue itu.
"Hei ... kalian bersembunyi di mana sih?" ucapnya kesal.
Terlihat sekali jika gadis itu sudah kesal. Sementara itu Milley masih mengambil hati Dylan.
"Masih tidak mau mengatakan apapun?" tanya Milley sedikit manja.
Akhirnya dengan sikap Milley yang begitu lembut, akhirnya Dylan pun luluh dan mengatakan kegundahan hatinya.
"Maaf, aku tidak bisa melihat kamu bersama dengan lelaki lain, meskipun itu adalah Rain."
Niat hati Milley ingin memberikan hadiah untuk kejujuran suaminya, justru Dylan yang berinisiatif lebih dulu. Tanpa aba-aba, Dylan menarik tangan Milley hingga ia jatuh terduduk di pangkuannya.
"Ah, Mas ...."
Semburat merah terlihat jelas di wajah Milley, ia pun menunduk. Tentu saja Milley menjadi malu-malu saat Dylan menaruh wajahnya di ceruk leher Milley. Namun, tidak dengan Dylan yang semakin gencar mengungkapkan kerinduannya terhadap istrinya.
"Kenapa kau tampak malu-malu?" tanya Dylan dengan nada setengah mend-esah.
"Apakah aku tidak boleh malu? Bukankah itu lebih baik untuk kita?" ucap Milley kebingungan.
"Baik apanya? Bukankah kita seharusnya bisa kembali seperti dulu dan memperbaiki semuanya. Aku mau memulai lagi dari awal."
Milley tertegun dengan ucapan suaminya barusan, tetapi ia sangat suka dengan ajakan Dylan kali ini. Sudah lama ia menantikan kehadiran suaminya dan akhirnya Tuhan mengabulkan doa Milley.
Dylan tampak ingin sekali memperbaiki hubungannya dengan istrinya, tetapi ia tidak bisa secara langsung membawanya kembali. Pasti asumsi publik akan berpikiran hal lain. Apalagi Milley dan Jord sudah lama menghilang dari kehidupan Dylan.
Akan tetapi, saat ini ia hanya ingin membayar semua waktu yang telah hilang darinya selama lima tahun ini. Terlebih saat ini, putranya sangat tampan dan lincah. Toko kue milik istrinya pun tampaknya sedang berkembang dengan pesat. Ia pasti sudah membangunnya dengan kerja keras.
__ADS_1
Saat Dylan mencoba berpikir, Laura si gadis sombong itu berhasil masuk ke ruangan mereka. Melihat pemilik toko sedang dalam pangkuan laki-laki tampan yang mencuri hatinya Laura merasa marah.
"Apa-apaan ini! Kenapa kalian bermesraan tidak tahu tempat?" pekiknya kesal.
Tidak lama kemudian, Laura mendekati mereka dan menarik paksa Milley agar bangkit. Tentu saja Milley terkejut.
"Hei beraninya kau mendekati calon tunanganku?" ucap Laura dengan tidak tahu diri.
Bukannya marah, Dylan justru tersenyum senang. Ia menertawakan kenarsisan sang gadis, karena berani bermain dengannya. Akhirnya Dylan bangkit dan menatap tajam ke arah gadis tersebut.
"Sebaiknya Nona mengaca terlebih dahulu, apa Nona tidak malu pada kami yang sudah menikah dan punya anak," ucap Dylan dengan penuh kata penekanan.
"Kami adalah sepasang suami istri yang sah di mata hukum dan agama. Sehingga tidak ada larangan buat kami bermesraan di manapun kami mau! Cam, 'kan itu!"
Tentu saja Lura terkejut dan merasa tidak terima akan ucapan Dylan barusan. Bahkan ia berani menyimpulkan sebuah persepsi sendiri, di mana kebenaran ada di pihaknya.
"Jangan bercanda, kau adalah Dylan Joshua, aku sungguh mengenalmu. Jadi apa yang akan kamu barusan adalah bohong!" ucapnya tidak terima.
Namun dengan anggunnya, Milley berjalan mendekati suaminya lali meletakkan tangannya ke bahu Dylan. Ia justru membantu suaminya berakting dan menguatkan status mereka.
"Nona, apa untungnya bagi kami berbohong. Lagi pula kami memang sudah menikah jadi sebaiknya jaga ucapan Nona!" ujar Milley dengan anggun.
"Sebuah pernikahan yang aku dambakan memang tidak seharusnya menjadi konsumsi publik, jadi untuk apa aku mengumbarnya. Justru ketika aku mengumumkan ke hadapan publik, mereka akan menyakiti istri dan anakku! Bukankah begitu, Nona?"
Laura mengepalkan tangannya karena geram.
Ia masih saja tidak terima, bahkan Laura justru membuat alasan lain yang bisa menutupi ambisinya.
"Sejak dulu, apa yang aku inginkan akan selalu menjadi milikku, mau kalian setuju atau tidak maka dia ...."
Laura menunjuk ke arah Dylan.
"Maka dia akan menjadi pasanganku!" ucapnya dengan sungguh-sungguh.
Setelah merasa kalah, Laura memilih untuk segera pergi meninggalkan toko kue milik Milley. Dirinya sudah cukup dipermalukan saat ini. Sementara itu Dylan mengecup kening Milley dan mengucapkan terima kasih padanya.
"Terima kasih, Sayang. Aku sangat mencintaimu."
Bersambung
__ADS_1