NOTA HUTANG DI ATAS PERNIKAHAN

NOTA HUTANG DI ATAS PERNIKAHAN
Bab 144. BERTEMU AYAH


__ADS_3

Setelah sekian lama menunggu, akhirnya kesempatan itu datang. Robby setiap hari selalu berdoa di dalam keputusasaan-nya serta meminta ampun untuk semua dosa-dosa yang telah ia lakukan kepada putri dan juga istrinya.


"Seandainya aku bisa memilih, aku selalu berdoa agar Engkau memberikan kesempatan untuk hamba bisa bertemu dengan Lena dan Virgo, Aamiin."


"Banyak dosa yang telah aku perbuat kepada mereka sehingga Engkau ambil mereka dariku, hamba mohon kabulkanlah doa-doaku ya, Robb."


Robby menutup perlengkapan ibadahnya, sebelum beranjak ia mengusap bekas air mata yang berada di pipinya. Merapikan pakaian lalu segera melanjutkan kembali pekerjaannya.


Tidak lupa ia mengenakan penutup kepala agar menutup kepalanya yang masih sedikit botak. Kenangan selama masih mendekam di balik jeruji besi memang masih terekam dengan jelas, belum lagi masa recovery setelah kecelakaan itu setidaknya membuat pengalaman hidupnya semakin bertambah.


Selain itu, ia memang menginginkan agar setidaknya merasakannya nyaman saat bekerja. Sehingga ia telah meminta ijin pada pihak Rumah Sakit agar menyetujui hal tersebut.


"Sebaiknya aku segera bergegas bekerja. Semoga lelahku menjadi berkah dan segera bisa melunasi biaya Rumah Sakit. Aamiin."


Robby segera bergegas melanjutkan pekerjaannya karena penunjuk waktu sudah menunjukkan jam dua siang. Saat inilah ia mulai kembali aktif bekerja.


Saat menyapu halaman belakang Rumah Sakit, secara tidak sengaja ia menemukan bayangan sosok Virgo.


"Apakah itu benar-benar sosok Virgo?" gumamnya.


Ternyata benar, Tuhan mengabulkan doa-doanya. Hari itu Milley (Virgo) datang ke Rumah Sakit untuk memeriksakan kandungannya. Secara takdir, ia memang sudah digariskan untuk bertemu hari itu.


"Bu, sebaiknya kita bergegas, biar nggak terlalu antri nanti."


"Baiklah."


Milley datang bersama Lena, karena keadaan di rumah sudah aman, maka hanya ada Lea dan Leo yang mengikuti Milley untuk memeriksakan kehamilan saat ini.


"Terima kasih, Tuhan, karena sudah memberikan kesempatan untukku kali ini."


Akhirnya Robby berusaha untuk mendekati Milley dan ibunya.


"Virgo, Lena ...."


Robby berusaha untuk memanggil istri dan anaknya tersebut, dan sepertinya panggilannya berhasil.

__ADS_1


"Bu, kenapa sepertinya aku mendengar suara A-ayah?"


Lena mengangguk, seketika tubuhnya gemetar. Milley bisa merasakan ketakutan Lena saat ini. Akan tetapi ia belum sempat menemukan orang yang memanggil mereka tadi.


"Virgo ...."


Suara serak itu hanya dimiliki oleh Robby, ya Virgo amat hafal akan suara tersebut. Beberapa saat kemudian, ia menoleh mencari sumber suara.


"A-ayah?"


Milley menutup mulutnya yang menganga karena terkejut. Lalu sesudahnya ia berjalan mundur, ingin sekali ia menjauh dari sosok tersebut tetapi kaki Milley sudah terkunci.


Robby mendekati Milley dan langsung bersujud di hadapannya.


"Maafkan aku, Nak. Maafkan ayah."


Robby menatap lembut ke arah Lena, ia juga langsung meminta maaf kepadanya.


"Lena, aku juga minta maaf kepadamu."


.


.


Di tempat lain, Michael bersama Viola sedang menghabiskan waktunya di puncak. Saat ini Viola mencoba menyadarkan Michael bahwa dirinya bukan Milley, melainkan Viola dan ia juga bukan kekasih Michael.


"Michael bukalah kedua matamu, aku bukan kekasihmu Milley, namaku Viola!" ucapnya tegas.


"Nggak, kamu milikku."


"Jangan bodoh, aku memang merawatmu tetapi bukan berarti aku menjadi kekasihmu!"


"Buktikan kalau kau memang Viola dan bukan Milley."


"Baiklah, tunggu sebentar."

__ADS_1


Akan tetapi Michael tidak percaya kepadanya, dia berani memastikan jika yang di hadapannya saat ini adalah Milley, bukan Viola lalu sesaat kemudian Viola mengeluarkan beberapa dokumen miliknya.


"Silakan kamu baca dan teliti, jika ada hal yang tidak kamu ketahui silakan bertanya kepadaku."


Ada paspor dan beberapa tanda pengenal miliknya yang digunakan untuk menunjukkan identitas aslinya kepada Michael.


"Baiklah, aku akan memeriksa semua dokumen darimu."


Michael segera mengambil semua data diri tentang Viola dan mempelajarinya. Awal mulanya, Michael tidak percaya dengan semua ucapan Viola, akan tetapi semua identitasnya memang berisi informasi yang sama.


Semua dokumen menyatakan jika ia bernama Viola. Bahkan tanggal lahirnya berbeda dengan Milley. Michael mengamati wajah dan struktur tubuh Viola.


"Apakah aku terlalu bodoh sehingga menganggapnya sebagai Milley?"


"Bahkan struktur wajahnya sampai tidak aku perhatikan."


Saat Michael mencoba mengingat masa lalunya, kepalanya terasa pusing. Lalu sesaat kemudian ia meminta Viola untuk mengambil kan obat miliknya.


Viola yang masih memerankan sebagai Milley tidak sanggup melihat Michael kesakitan, dengan segera ia mengambilkan obat untuk Michael.


"Jika kehadiranku sebagai Milley bisa mengobati lukamu, maka aku rela. Akan tetapi aku tidak mau kau mencintaiku sebagai Milley, melainkan harus mencintaiku sebagai Viola, karena aku bukan dia. Bukan Milley yang selama ini kamu cari."


"Michael sadarlah, ada banyak hal yang harus kau kerjakan saat ini. Jika kau terus tertidur dalam khayalan mu, maka kau tidak akan bisa mendapatkan Milley yang sesungguhnya."


"Aku dan kamu juga tidak akan mendapatkan kebahagiaan sesungguhnya, karena jika nanti ingatanku sudah kembali, maka yang kau terima adalah Viola bukan Milley."


Melihat Michael terlelap, sebelum ia pergi, meskipun dalam keadaan setengah sadar, Michael tetap mendengar semua ucapan dari Viola. Ia memang memejamkan matanya untuk sesaat, karena obatnya sungguh cepat bereaksi.


Lalu sesaat kemudian, Michael mulai sadar dan mungkin apa yang dikatakan Viola benar. Rasa obsesi yang ingin ia tunjukkan kepada Milley akhirnya membuat Milley pergi dan kembali kepada Dylan.


Mungkin ini kenyataan yang harus dihadapi nya saat ini, tetapi Raka tidak habis pikir kenapa ia harus terluka dan terluka lagi karena cinta. Apakah ia tidak berhak jatuh cinta seburuk itukah dirinya hingga Tuhan tidak pernah menunjukkan siapa jodohnya saat ini.


Michael tidak yakin jika hidupnya akan lebih lama lagi, karena ia ingat yang mempunyai sebuah penyakit yang bisa merenggut nyawanya kapan saja. Jika ia tidak bisa membahagiakan kedua orang tuanya untuk apa ia hadir di dunia ini. Setidaknya jika ia nanti akan pergi ada pewaris yang bersiap untuk menggantikan dirinya meskipun itu bukan dari rahim Milley.


Michael lihat tapi sebelum ia menutup mata setidaknya ijinkan dia bertemu dengan Milley. Agar ia tidak mati penasaran. Begitulah pemikiran pendek Michael saat ini. Meskipun ia ikhlas melepas Milley tetapi tidak semudah ucapannya karena sesungguhnya cinta pertama itu tidak akan mudah dilupakan ataupun terhapus oleh waktu.

__ADS_1


Seindah apapun itu ataupun sampai melukai pun tidak akan pernah terhapus dalam ingatan.


__ADS_2