
Hari yang ditunggu telah tiba, banyak tamu undangan dan kolega bisnis dari Tuan Chryst telah datang memenuhi ballroom. Balutan gaun cantik dan tatanan rambut ala princess sudah mengubah Milley menjadi seorang barbie.
"Bagaimana persiapan Milley?"
"Sudah siap, Tuan."
"Baiklah, segera pergi jemput dia!"
"Baik, Tuan. Saya permisi."
Jo memang bertugas untuk menjemput Milley saat ini. Sementara itu, secara diam-diam, Lena juga ikut hadir di tengah para tamu undangan dengan pengawalan yang ketat. Sebenarnya tidak ada celah dalam penyamarannya. Hanya saja Lena terlalu sensitif, sehingga mudah diketahui identitasnya.
Kini ia telah berbaur dengan para tamu undangan yang lain. Dekorasi yang apik membuatnya flash back ke beberapa tahun yang lalu. Sebuah pesta pertunangan yang harusnya ia rasakan harus terenggut dengan kehadiran Rebecca.
"Semoga ini jalan terbaik yang ditunjukkan Tuhan untuk kita, Nak. Aamiin." Doa Lena dalam hati.
Tentu saja keinginan kecilnya adalah, tidak ada yang merusak moment penting hari ini. Meskipun kedatangannya kali ini tidak diketahui Milley, tetapi ia amat bahagia sudah diperbolehkan Tuan Chryst untuk datang ke tempat tersebut.
Matanya tampak menyisir ke seluruh ruangan, hingga akhirnya pandangannya beralih pada sepasang suami istri yaitu Rebecca dan Andreas. Dada Lena tiba-tiba saja menjadi bergemuruh dan sakit, tetapi menahannya demi melihat putri tercinta mendapatkan kebahagiaannya.
"Asal kamu bahagia, Ibu akan menahan luka ini untukmu, Nak."
Sementara itu seorang gadis, tanpa cantik dan sempurna di salah satu ruangan. Dialah Virgo Valencia Amerta atau sekarang sudah berganti nama dengan Chamomile Milley.
Hidung mancung, mata emerald, bibir mungil yang sudah dimiliki Virgo atau Milley sejak lahir, ternyata mampu menyihir kaum Adam dalam sekali pandang. Make up yang dipoleskan ke wajahnya hanya untuk menyempurnakan penampilannya saja.
Saat ini ia masih berada di dalam sebuah ruangan dan belum menemui Dylan di ballroom. Karena semuanya sudah diatur sedemikian rupa untuk melindungi Milley. Sampai waktu pertunangan tiba, akhirnya ia baru dijemput oleh Jo, assisten Tuan Chryst. Milley mulai keluar dan menuju ballroom dengan pengawalan yang cukup ketat pula.
Saat ia mulai masuk, sorot lampu utama mengarah padanya. Hingga membuat semua mata hadirin dapat menikmati kecantikan Milley seutuhnya. Sesuai prediksi, semua terpukau dan kagum akan sosok Milley yang selama ini disembunyikan.
Bahkan teman satu kelas Dylan dan Milley tidak ada yang mengetahui jika Milley yang biasa bersamanya di kampus adalah benar-benar calon tunangan Dylan. Mereka mengira itu hanya gimmick yang diciptakan oleh Dylan saat putus dengan Rose, tetapi ternyata prediksi mereka salah.
Meskipun detak jantungnya berdetak tidak karuan, tetapi ia mampu tampil sempurna malam itu. Dylan yang sudah mulai mencintainya semakin mengagumi sosok Milley.
"Cantik!" gumam Dylan.
Suara bisik-bisik dari semua tamu undangan seolah terbungkam sempurna ketika Dylan sudah menyematkan cincin pertunangan di jari manis milik Milley. Standing aplaus dari para tamu undangan terdengar memenuhi ballroom.
"Pasangan yang cocok dan serasi sekali," ucap mereka.
__ADS_1
Meskipun begitu, Rose yang juga diundang oleh Rebecca secara khusus hanya bisa mengepalkan tangannya. Belum juga ia masuk, niatnya sudah dipatahkan oleh keputusan sepihak dari Tuan Chryst juga tindakan Dylan barusan. Celah untuk merusak hubungan Milley dan Dylan tertutup sudah.
"Dylan, bisa nggak sih nggak usah sok kecakepan gitu, mana tangannya nggak mau lepas lagi!" bisik Milley sambil tersenyum canggung ke para tamu undangan.
Sementara Dylan memang sengaja terus mengapit salah satu tangan Milley. Apalagi setelah bertukar cincin dengan tidak ragu, ia membawa Milley berkeliling menyalami tamu undangan. Hal itu pula yang membuat Milley tidak bisa bergerak bebas saat ini. Di sisi lain, Lena tersenyum geli melihat putrinya tidak nyaman di dalam acara tersebut.
"Baik-baik ya, Sayang. Lama-lama kamu juga akan terbiasa kok," gumamnya.
Setelah acara inti selesai, maka acara selanjutnya adalah pengumuman calon penerus Perusahaan Anggara Group. Semua hadirin sudah memprediksi bahwa hal itu akan diberikan pada Dylan.
Pada saat Dylan akan naik ke podium, tiba-tiba saja ada suara tembakan dari luar yang mengarah ke Dylan. Milley yang masih berada di samping Dylan segera menjadi tameng untuknya. Tamu-tamu undangan yang hadir juga turut meneriaki mereka.
"A-awas!"
"Tuan Muda!"
Namun, peluru tersebut sudah berhasil melukai lengan sebelah kanan milik Milley. Melihat banyaknya darah yang keluar dari lengan Milley, Dylan segera meninggalkan tempat tersebut untuk melarikan Milley ke Rumah Sakit.
"Milley!" ucap Lena sambil menutup mulutnya.
Air matanya tidak terbendung lagi saat itu. Melihat putrinya terluka sama saja membunuhnya secara perlahan. Melihat Lena yang kacau, Tuan Chryst segera menyuruh pengawal untuk membawanya kembali ke tempat persembunyian.
"Siap, Tuan."
Situasi ballroom menjadi tidak terkendali saat ini. Semua tampak panik dan tidak terkondisikan dengan baik. Lena segera diamankan dari lokasi, begitu pula dengan Tuan Chryst. Upaya pengamanan yang seharusnya sukses menjadi rusak karena ulah salah seorang dari tamu undangan.
"Rasakan wanita sialan! Kamu yang mulai maka kamu juga yang akan sengsara!" ucapnya penuh amarah.
Rose yang sudah hilang akal memang sengaja menyusun rencana ini. Ia mengutus manager butik kapan hari untuk menarik pelatuk pistol dan menembak Dylan malam itu Sayang, tembakannya meleset dan mengenai Milley. Tidak mau tindakannya diketahui orang ia segera menyuruhnya untuk melarikan diri.
"Bagaimana ini Nona?" tanya manager tersebut.
"Bawa uang ini pergi dan jangan kembali ke Ibu Kota!"
"Baik Nona, terima kasih."
Manager tersebut segera pergi meninggalkan lokasi. Meskipun cara ini salah, tetapi ia tidak bisa memilih jalan lain. Apalagi ia baru saja dipecat dari butik. Sementara itu orang tuanya sedang sakit keras di kampung. Kalau bukan karena uang, ia tidak mau mengambil resiko.
Dalam perjalanan kembali, mantan manager butik tersebut mengingat kembali di mana ia bisa terjebak dalam situasi sulit seperti ini.
__ADS_1
"Nona, kenapa Anda menyekap saya?" tanya manager tersebut.
"Kamu butuh uang banyak, bukan? Jadi ikuti permainan dariku!"
"Ke-kenapa Anda bisa tahu?"
"Kau menyelamatkan gaunku, bukankah aku wajib menolongmu?"
Manager butik tersebut menunduk pasrah. Baru beberapa bulan bekerja, tetapi ia malah tertimpa masalah seperti ini.
"Lalu apa yang harus saya lakukan, Nona?"
"Bunuh seseorang untukku!"
"A-apa, membunuh?"
"Ya, kenapa? Kamu takut?"
"Saya tidak berani!"
"Kalau begitu, lukai dia dan aku akan membayarmu seratus juta rupiah."
"Se-seratus juta?"
"Iya, kenapa? Kurang?"
"Enggak, saya bersedia."
"Oke, maka turuti saja perintahku!"
"Mungkinkah ini jalan dari Tuhan untukku?" ucapnya perih.
Ia mengusap air matanya lalu menguatkan hatinya, agar nanti saat bertemu dengan orang tuanya, mereka tidak akan curiga.
Lalu bagaimanakah keadaan Milley yang terluka saat ini?
.
.
__ADS_1
...🌹Bersambung🌹...