NOTA HUTANG DI ATAS PERNIKAHAN

NOTA HUTANG DI ATAS PERNIKAHAN
EPISODE 53. RENCANA KEDUA


__ADS_3

Urusan bisnis benar-benar menyita waktu dan pikiran Dylan saat ini. Kehidupan yang dulunya baik-baik saja terpaksa harus berubah demi mendapatkan Milley.


"Apa ayah dulu bekerja keras seperti ini? Akh, tidak! Dilihat dari hubugan ayah dan ibu sepertinya yang kerja keras selama ini hanyalah kakek."


Dylan kembali membolak-balikan map di depannya. Setelah berhasil mengerjakan tugas-tugas kantornya ia baru berani pulang. Tidak seperti bulan-bulan sebelumnya, ia sekarang lebih serius dalam mengerjakan tanggung jawabnya sebagai calon CEO.


Ucapan kakek yang mengatakan, jika sebagai laki-laki harus menjaga kehormatan wanita dan jangan pernah membuatnya kesulitan hidup, kini menjadi motivasi Dylan dalam mengerjakan proyek penting tersebut. Satu proyek yang dibebankan kepadanya akhirnya berhasil ia kerjakan dengan baik, tanpa adanya kesulitan yang berarti.


Malam ini adalah perayaan keberhasilan proyek Dylan untuk pertama kalinya. Oleh karena itu, Tuan Chryst mengadakan pesta untuk keberhasilan tersebut. Seperti biasanya, Michael juga mendapatkan undangan.


Penampilan memukau dari Michael sepertinya mampu menarik atensi dari kaum hawa yang datang ke tempat tersebut.


"Wah, penampilan Tuan Michael memang tidak pernah terkalahkan," bisik para tamu undangan.


Padahal saat itu ia baru saja sampai. Setelah kehadirannya, maka kini giliran Tuan Chryst dengan diikuti Milley dan Dylan masuk ke dalam balroom.


"Wah tenyata penerus Anggara Group juga tampil mempesona kali ini."


"Syukurlah, tunangannya sudah tidak apa-apa."


"Betul."


Suara sanjungan dari beberapa tamu mengiringi langkah mereka menuju podium. Milley tampak memukau dengan gaun berwarna biru laut yang senada dengan hiasan rambutnya.


Setelah hadirin berkumpul semua, maka Tuan Chryst segera memberikan sambutan. Setelahnya baru di susul oleh Dylan. Saat Dylan sedang berpidato, maka Milley lebih memilih untuk di bawah panggung saja. Beruntung ada Michael yang menemaninya.


"Kenapa dia dekat-dekat dengan Michael lagi? Apa kharismaku kurang meyakinkan?"


Saat asyik melamunkan Milley, Tuan Chryst mendekatinya. Ia mengulurkan tangannya untuk memberikan selamat pada cucu kebanggaannya itu.


"Good job, Dylan. Inilah cucuku yang aku dambakan sejak dulu. Kakek bangga padamu."


"Terima kasih kakek. Apa pun yang kakek berikan padaku selama ini, aku pastikan tidak akan mengecewakanmu lagi."


"Ya sudah, karena semuanya sudah berhasil dan skripsimu tinggal menunggu kelulusan. Maka bersiaplah untuk mengerjakan proyek selanjutnya."


"Siap, Kek."


"Di mana Milley?" tanya Kakek sambil mengamati sekitar.


Ternyata kali ini ia sudah berpindah tempat. Milley berbaur dengan ibu-ibu sosialita. Meskipun canggung, ia tetap berusaha untuk membiarkan hal tersebut agar tidak memalukan Dylan dan Tuan Chryst.


Dengan langkah pongah, Dylan berjalan di antara para tamu undangan. Kini tujuannya menuju kepada sebuah kerumunan wanita kelas atas. Salah satu wanita yang akan menjadi calon istrinya kini sedang berada di sana. Ya, Milley pun sudah mulai membaurkan diri bersama kalangan atas.

__ADS_1


"Wah, kau rupanya sudah menyesuaikan diri," gumam Dylan.


"Kalau bukan karena permintaan dari Kakek, mana mungkin aku mau berada dengan barisan wanita ini," gerutu Milley dalam hati.


Selama mereka bergosip, Milley hanya menanggapinya dengan tersenyum. Kebiasaan seperti ini sungguh diluar keinginannya. Hanya karena mempertahankan image, ia harus merelakan egonya.


Entah sejak kapan, tiba-tiba Dylan sudah merangkul pinggang ramping milik Milley. Tentu hal tersebut membuat Milley kaget. Sementara itu sang pelaku hanya tersenyum manis.


"Maaf, ibu-ibu, bolehkah pinjam tunangan saya terlebih dahulu."


Ibu-ibu yang sedang asyik bergosip serentak menoleh ke arah sumber suara.


"Tentu saja boleh Tuan Dylan, terima kasih untuk jamuan makan malamnya."


"Sama-sama, silakan dilanjutkan obrolannya, saya permisi."


Dylan dan Milley sama-sama tersenyum ke arah mereka. Lalu setelahnya sepasang remaja itu pergi ke salah satu sudut ruangan.


"Kenapa kau menarikku buru-buru?"


"Eh, memangnya tidak boleh?"


"Boleh, sih.


Milley yang lelah menurut saja dengan tingkah Dylan. Sementara itu Michael masih mengamatinya dari kejauhan.


"Eh, mau ngapain?"


"Mau menyuapi calon istriku," kekeh Dylan.


Sontak Milley menyentil kening Dylan. "Sadar woi!"


"Lah kamu kira aku bohongan, bukankah calon suami harus memperlakukan calon istrinya dengan lembut?"


"Iya sih, tapi nggak usah di depan umum kayak gini, dong!" protes Milley.


Tentu saja Milley malu dilihat orang-orang, apalagi ada Michael di antara para tamu undangan. Meskipun begitu, Dylan tidak putus asa. Ia tetap berusaha untuk menyuapi Milley.


Awalnya sih menolak, tetapi karena Dylan terus memaksa, pada akhirnya ia pun menurut. Bahkan dengan tidak tau malu, Dylan juga menyuapi dirinya sendiri. Untuk beberapa saat, Milley merona, malu akan tingkah Dylan yang mencoba romantis.


"Kalau kamu kayak gini, bisa jadi aku bakal suka. Nggak, nggak boleh. Setelah Dylan berubah menjadi baik, maka aku akan pergi.


Entah kenapa feeling Milley mengatakan begitu. Saat asyik disuapi, ternyata Milley kebelet. Milley pun meringis ke arah Dylan.

__ADS_1


"Aku ijin ke toilet sebentar, boleh?"


"Boleh, sayang."


Milley bergidik ketika sebutan sayang disematkan kepadanya.


"Kenapa?"


"Geli, wkwkwk ...."


Dengan malu-malu, Milley meninggalkan Dylan ke toilet. Ternyata kepergian Milley sudah diperhatikan oleh salah satu pengunjung. Ia bahkan sampai mengikutinya ke toilet.


Milley segera menuntaskan hajatnya di kamar mandi. Lalu setelahnya segera keluar agar Dylan tidak terlalu lama menunggu.


Namun sayang, ketika ia melangkahkan kaki keluar ada seseorang yang membekapnya dari arah belakang. Milley belum sempat membela dirinya, akhirnya pingsan akibat obat tersebut.


Kebetulan Michael baru saja dari kamar mandi. Melihat gaun yang sama dengan milik Milley membuatnya berlari mengejar beberapa orang tadi. Perkelahian sempat terjadi di area parkir. Sayangnya, leher Michael berhasil di pukul dari arah belakang hingga membuatnya pingsan.


"Good job, dua-duanya langsung dengan mudah masuk perangkap."


Para penculik itu tertawa senang, takut aksi mereka kepergok, tubuh Milley dan Michael segera diangkat dan dimasukkan ke dalam mobil. Lalu mereka melajukan mobilnya keluar dari hotel.


Sementara itu Dylan cemas karena Milley tidak kunjung kembali. Lea yang ditugaskan untuk mengawal Milley juga belum kembali. Sampai akhirnya Leo mendekati Dylan.


"Gawat, Tuan. Nona Milley diculik!"


"Apa!"


Gigi Dylan gemertak menahan amarah, kedua tangannya mengepal penuh.


"Lakukan penyisiran ke seluruh area hotel dan jangan sampai membuat tamu cemas!" titah Dylan kepada semua pengawal.


.


.


...🌹Bersambung🌹...


.


.


Nah, nah, kecolongan lagi, kan? Hayo beri dukungan untuk Dylan agar ia bisa menyelamatkan Milley. Jangan lupa rate, fav dan kembangnya ya🌹

__ADS_1


Sambil nunggu crazy up silakan mampir di karya teman Fany ini ya😘



__ADS_2