
Lena akhirnya memaafkan Andreas, tetapi ia tidak mengijinkan jika sampai Andreas menyakiti Milley. Lena telah menyetujui tentang rencana pengobatan yang diusulkan oleh Andreas.
"Terima kasih karena telah memaafkan aku, Lena. Aku berharap kamu juga tidak pantang menyerah dalam mencari kesembuhan."
Andreas memegang kedua tangan Lena lalu menatapnya dengan lembut.
"Percayalah, jika kesembuhan itu pasti akan kamu dapatkan. Untuk suamimu, aku pastikan ia akan mendapatkan balasannya yang setimpal."
Andreas dan Lena sama-sama tersenyum dan lega, karena kesalah pahaman yang sempat terjadi kini sudah berhasil mereka selesaikan.
.
.
Saat ini, Robby masih terbaring lemah di atas brankar. Beberapa hari yang lalu, ia ditemukan di jalan dengan kondisi mengenaskan. Tubuhnya babak belur dengan beberapa bekas tusukan di tubuhnya. Banyak yang mengira ia sudah meninggal ketika dipanggilkan ambulance, tetapi dugaan mereka salah.
Meskipun kritis, ia tetap dibawa ke Rumah Sakit terdekat, yaitu Rumah Sakit yang sama dengan Lena di rawat. Bedanya ia berada di ruang perawatan kelas tiga. Sementara Lena berada di ruangan VIP.
Keadaan Robby saat itu benar-benar kritis, berkat kebaikan salah seorang warga ia dibawa ke Rumah Sakit dan diberikan biaya pengobatan secara gratis.
"Bagaimana kondisi pasien?"
"Sudah berhasil melewati masa kritis, dokter. Bekas operasinya juga sudah mengering."
"Baguslah kalau begitu, ya sudah ayo kita keluar."
__ADS_1
Saat dokter dan suster sudah keluar dari ruang rawat Robby, kini ia membuka mata.
"Di-di mana aku saat ini?" ucap Robby sambil menahan rasa sakitnya.
Rupanya tusukan di perutnya lumayan membuat ia harus dioperasi. Robby bisa merasakan jika tubuhnya merasa sakit di beberapa tempat. Lalu, ia mulai mengingat sesuatu.
FLASH BACK ON
"Mau kemana kau!"
"Ka-kalian siapa?" ucap Robby ketakutan.
Di hadapannya saat ini banyak orang yang bertubuh besar sedang mengepungnya. Mereka juga membawa senjata. Tanpa menunggu lama, mereka langsung menyerang Robby tanpa ampun. Tentu saja Robby kewalahan, apalagi ia dalam kondisi mabuk, sehingga ia tidak bisa mengatasi serangan yang bertubi-tubi itu.
Entah kenapa, kondisi jalanan di tempat Robby di diserang, sangatlah sepi. Sehingga mereka bebas menyiksa Robby. Setelah puas melihat ia terluka, mereka segera meninggalkannya. Seketika Robby pingsan di tempat. Beruntung, malam itu ada orang baik yang lewat tempat itu dan menolongnya.
Sedangkan saat ini, kekasih gelapnya sudah mendapatkan mangsa yang baru dan melepaskan Robby setelah ia masuk penjara. Saat penggerebekan, ia memang ditangkap, tetapi tidak ada bukti yang memberatkannya. Akhirnya malam itu juga ia dibebaskan. Sementara itu kasus yang menjerat Robby tetap berjalan.
"Semua karena wanita itu!" ucap Robby geram.
Malam itu ia memang mendatangi kekasih gelapnya. Ia mengira jika wanita itu masih menunggunya kembali, karena sebelum terpisah Robby telah berjanji untuk segera menikahinya.
Namun, seolah karma sedang menjalankan tugasnya. Saat Robby datang, wanita itu sedang memadu kasih dengan laki-laki baru. Tentu saja Robby marah dan menghajar pasangannya.
Melihat hal tersebut, kekasihnya barunya itu segera menelpon beberapa preman untuk menghajar Robby. Tanpa menunggu lama, sepulang dari rumah kekasih gelapnya, Robby langsung dihadang beberapa preman dan akhirnya berujung di Rumah Sakit.
__ADS_1
.
.
Sementara itu, melihat Andreas dan ibunya bersama membuat Milley takut. Ia begitu takut jika Andreas kembali menyakiti ibunya.
"Beri kesempatan untuk mereka Milley. Sebuah masa lalu memang harus diselesaikan dengan cepat. Lebih cepat lebih baik."
Michael yang mengetahui hal itu, tidak pernah berhenti dalam memberikan support pada Milley.
"Ta-tapi aku takut, Kak."
"Milley, aku tahu ketakutanmu saat itu, hanya saja ada hal yang kita tidak tahu, kenapa mereka harus dipertemukan oleh takdir saat ini, jadi sebaiknya kamu ikhlas."
Milley mengangguk, orang yang selalu memberikan support di setiap waktunya hanyalah Michael. Meskipun begitu ada saatnya ia merasakan kerinduan pada Dylan.
"Dylan, bagaimana kabar kamu di sana?" gumam Milley.
Seorang lelaki dengan selang infus di salah satu tangannya kini sudah siuman. Sejak beberapa hari di rawat ia belum juga membuka mata. Namun, sebuah keajaiban kini telah hadir. Dylan siuman.
"Milley ... kamu di mana?" ucap Dylan saat pertama kali siuman.
.
.
__ADS_1
Bersambung