NOTA HUTANG DI ATAS PERNIKAHAN

NOTA HUTANG DI ATAS PERNIKAHAN
Bab 66. TERLUKA


__ADS_3

Suara elektrokardiografi masih setia memenuhi ruangan bercat putih itu. Namun suasana lain lebih terasa menyentuh kalbu saat melihat keadaan Milley.


Sudah seminggu lebih sejak ia dipindahkan ke Paris, kondisi Milley masih tidak ada perubahan. Kedua mata Michael sudah tampak menghitam karena kelelahan. Hampir setiap hari, selalu ia habiskan untuk menemani Milley. Hingga tanpa ia sadari kini ia sudah tertidur pulas dengan kedua tangan masih memegangi tangan Milley.


Kebas, itulah yang dirasakan Milley saat pertama kali menggerakkan jari-jemarinya. Namun, itu sama sekali tidak menyurutkan keinginannya untuk membuka mata.


"A-aku di mana?" ucapnya sambil mengerjap-ngerjabkan matanya.


Rasanya ia begitu asing dengan tempat tersebut.


"Apakah ini Rumah Sakit?" gumam Milley.


Rasa pening seketika sangat terasa di sana, tetapi ketika ia mencoba mengingat sesuatu, rasanya sangat tidak mungkin dan semakin sakit.


Merasa ada pergerakan di tangannya, Michael mulai membuka matanya. Terkejut karena si pemilik mata biru tersebut sudah membuka kedua matanya. Senyum secerah mentari kini sudah terbit menghiasi wajah tampannya.


"Milley, kau sudah siuman?"


"Kak Mich, benarkah itu kamu? Lalu di mana Dylan?"


Deg.


Satu kata pertama yang terucap ternyata mampu membuatnya terluka dalam dan menghempaskannya ke dalam palung terdalam bumi. Niat hati inginkan cintanya bersambut, tetapi Tuhan berkehendak lain.


Haruskah bahagia di sini, sampai kapan ia mampu untuk bertahap. Lelah, itulah kata yang tepat untuknya.


"Dy-Dylan dia ... ada di Indonesia?"

__ADS_1


Milley terkikik geli mendapati jawaban dari Michael.


"Memangnya aku di mana, bukannya aku juga di Indonesia?"


Michael bangkit dari tempat duduknya dan membuka tirai jendela kamar Milley. Dari brankar ia bisa melihat aneka bunga iris yang tumbuh terawat di sana.


"Bunga iris, bu-bukannya it—"


"Bunga iris adalah salah satu bunga nasional negara Perancis."


Milley yang syok menutup mulutnya tidak percaya.


"Aku di Paris, kah?"


Michael mengangguk, "Maafkan aku yang membawamu pergi ke sini. Aku tidak mempunyai cara lain selain membawamu turut serta hidup bersamaku.


Belum sempat keterkejutan itu berhenti, pintu ruang rawat Milley terbuka. Tampillah sosok ibunda tercinta datang bersama seorang wanita cantik blasteran.


Tanpa Milley sadari, buliran bening yang tertahan itu akhirnya luruh juga dari kedua kelopak mata Milley. Sama halnya dengan Lena yang tidak kuasa menahan rasa harunya bisa bertemu kembali dengan putri kesayangannya.


Sepasang ibu dan anak tersebut akhirnya saling berpelukan satu sama lain. Saling melepas kerinduan yang sudah tidak tertahankan lagi.


"Maafkan Ibu, ya sayang, karena ibu, kamu jadi menderita seperti ini. Bersyukur ada Nak Michael yang menolong kita."


"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa semuanya terasa begitu aneh saat ini?"


Lena menoleh ke arah Michael sambil memberi hormat. Lalu kembali mengarahkan pandangannya ke arah Milley.

__ADS_1


"Sayang, kamu apa kabar? Syukurlah kamu selamat. Andai waktu bisa ditukar, maka biarkanlah Ibu yang menanggung semuanya."


"Ibu berkata apa? Aku sama sekali tidak tau apa yang ibu maksud."


"Maafkan Milley, Bu. Saat ini kondisi Milley belum pulih. Jadi maafkan untuk ketidaknyamanannya."


Lena tersenyum, "Maaf, Ibu tidak tahu, Nak."


"Nggak apa-apa, kok Bu. Biarkan semuanya menjadi seperti ini saja. Kalau kamu capek istirahat aja dulu, Ok."


Milley tersenyum tiada henti. Rasanya menikmati senyuman Milley sama saja dengan membuat deru nafasnya kembali seperti dulu. Begitu saja hati Michael sudah menghangat.


"Jika saja Tuhan menghadirkan aku terlebih dahulu, maka sudah pasti aku akan bahagia."


Tidak mau menganggu moment haru itu, Michael dan ibunya melangkah pergi. Kini tinggalah Milley dan ibunya yang sedang melemparkan rindu. Lena juga menceritakan apa saja yang ia alami selama di pengasingan.


Sementara itu di Kediaman Tuan Chryst, Rose sedang menyiapkan pil yang telah ia ganti isinya dengan pil pilihan dari dokter bayarannya. Hal itu ia gunakan agar ingatan Dylan pada Milley tidak bisa disembuhkan kembali saat ini.


"Ternyata kamu sangat pintar Rose. Hal seperti ini saja sampai detail," gumamnya.


Rose menyeringai mengingat wajah Dylan yang sedang bersiap sarapan pagi.


"Dylan sayang, aku harap kamu akan selamanya menjadi milikku."


"Ha ha ha ...."


.

__ADS_1


.


...🌹Bersambung🌹...


__ADS_2