
Melihat Milley sudah sendirian berada di dalam kamar, Rebecca mulai mendekatinya. Dengan alih-alih mendekatkan diri dengan calon menantu, ia mulai bersiap untuk menyerang Milley.
"Permisi."
Rebecca berbasa-basi pada Milley. Sepertinya cara mendekatinya yang lebih mudah adalah dengan berbuat baik kepadanya.
"Masuk, Nyonya."
Milley bangkit dari tempat duduknya. Ia berusaha bersikap sopan terhadap Ibu Dylan.
"Bagaimana keadaan kamu, Milley?"
"Sudah mendingan, Nyonya."
"Jangan panggil Nyonya, panggil saja Ibu atau Mama seperti Dylan memanggilku."
"Eh, iya."
"Oh, ya, maaf ya jika Mama ganggu waktu istirahatmu. Mama hanya ingin mengenalmu lebih dalam saja."
"He he he, iya."
.
.
Saat Rebbeca mendekati Milley, tanpa sengaja Nanni mendengar percakapan mereka.
"Gawat, Nyonya Rebbeca mendekati Nona Milley, aku harus lapor pada Jo," ucapnya dalam hati.
Merasa situasi aman, ia segera berlari ke belakang.
🍂Halaman belakang.
Tuan Chryst, Andreas, Dylan sedang duduk di sebuah gazebo di tengah taman. Sepertinya pembicaraan mereka cukup serius kali ini. Saat melihat kedatangan Michael pembicaraan mereka terhenti.
"Apa kedatanganku mengganggu, Uncle Jo? Kenapa semua diam?"
"Bukan Tuan, hanya saja mereka menghormati Anda."
"Baiklah kalau begitu."
Setelah Michael sampai ia segera menyapa mereka semua.
"Selamat siang."
"Siang, silakan duduk!" ajak Tuan Chryst.
"Terima kasih, Kek," ucap Michael.
Kehadiran Michael sepertinya tidak diharapkan oleh Dylan. Terlihat dari cara dan sikapnya saja sudah bisa ditebak.
"Kenapa ada dia, Kek?" ucap Dylan sinis.
"Karena proyek kali ini kita memerlukan orang di belakang layar seperti Michael."
"Apa tidak ada kandidat lain?"
Tuan Andreas sepertinya tidak suka dengan Michael seperti putranya.
"Kalau kau mempunyai kandidat lain, maka pertemukan denganku sekarang!" ucap Tuan Chryst tegas.
Michael masih membaca situasi. Lagi pula Tuan Chryst sudah berjanji akan menjaga rahasia di antara mereka. Michael masih memegang janji tersebut sampai saat ini.
"Kenapa diam? Tidak ada bukan? Proyek ini merupakan proyek sangat penting untuk perusahaan kita. Jadi orang yang terlibat di dalamnya juga merupakan orang-orang pilihan."
__ADS_1
Ucapan Tuan Chryst ada benarnya, ke empat orang itu terdiam untuk seketika. Selama itu pula Michael bisa berkomentar dengan jelas dan padat.
"Mungkin bukan kapasitas saya berbicara di sini, tetapi saya hanya membantu Tuan Chryst dan menjaga agar proyek ini berjalan semestinya."
"Jadi ia tidak berhubungan secara langsung dengan proyek kita?"
"Benar, karena ia hanya bertindak sebagai pengawas di sini," ucap Tuan Chryst tegas.
"Baiklah, karena saya tidak mempunyai kandidat lain, maka aku setuju melibatkan dia."
Dylan yang awalnya tidak setuju, kini sependapat dengan kakeknya. Sementara itu Tuan Andreas tidak bisa berbuat banyak. Niatnya untuk memasukkan mata-mata dalam proyek ini seketika gagal total.
Padahal proyek ini digadang-gadangkan akan menghasilkan omset milyaran. Namun, demi menyelamatkan nama baiknya, ia lebih memilih untuk setuju.
"Kenapa diam Andreas? Bukankah tadi kau bilang kenapa harus Michael?"
"Itu artinya engkau memiliki orang lain yang kau rekomendasikan dalam proyek ini, bukan?"
"Tidak, Ayah. Aku tidak mempunyai kandidat yang tepat dalam proyek besar kali ini."
"Kalau begitu, kamu setuju, bukan?"
"Ya, aku setuju."
"Baiklah, kita putuskan untuk memasukkan Michael dalam proyek ini, meskipun secara diam-diam."
Semuanya mengangguk. Kalau boleh memilih, Michael sama sekali tidak ingin terlibat di sini. Hanya karena ingin lebih dekat dengan Milley, maka ia menerima keputusan sepihak itu.
Sesekali Michael mengedarkan pandangannya. Terlihat sebuah kamar yang terbuka kaca jendelanya.
"Mungkin, kah itu kamar Milley?"
Melihat Michael memandang ke arah kamar Milley membuat hati Dylan memanas.
"Uhuk!"
"Ups," Michael seolah tersentil akan ucapan kakek barusan.
Bukankah memang saat ini dia berstatus jomblo, tetapi tidak ngenes-ngenes amat, batinnya.
"Oh, iya. Bukankah kau berstatus dosen? Apa Dylan juga merupakan anak didikmu?" tanya kakek tiba-tiba.
"Iya, Tuan. Dylan dan Milley kebetulan merupakan anak didik saya."
"Sungguh kebetulan sekali kalau begitu, aku ingin kamu juga mengawasi skripsi Dylan. Kalau Milley kamu bisa mengajarinya pelan-pelan?"
"Boleh, Tuan, jika Dylan tidak keberatan, saya bersedia."
Tuan Chryst memandang ke arah Dylan lalu Andreas.
"Kami tidak keberatan. Apapun yang kakek rencanakan pasti sudah melewati pemikiran yang matang."
"Syukurlah kalau kalian setuju."
Tidak lama kemudian datanglah Nanni dengan keberanian penuh. Sebenarnya ia tidak berani, tetapi demi keselamatan Milley, Nanni mendekati Jo. Melihat kedatangan Nanni, Jo meninggalkan gazebo.
"Ada apa?"
"Itu ... Nyonya Rebbeca berada di dalam kamar Nona Milley saat ini."
Jo menghela nafasnya perlahan. Lalu mulai berbicara kembali.
"Kamu awasi dia saat ini, kalau ada hal mendesak kamu bisa berteriak atau menelpon saya."
"Baik, Tuan. Kalau begitu saya permisi."
__ADS_1
"Hm."
.
.
🍂 Kamar tidur Milley.
"Apa yang kamu sukai dari Dylan, bukankah kalian sebelumnya tidak saling mengenal?"
Rupanya Nyonya Rebbeca tidak ingin berpura-pura lebih lama lagi. Apa yang ingin ia ketahui harus terjawab saat ini juga.
"Iya, kami tidak pernah saling mengenal satu sama lain, hanya saja takdir yang mempertemukan kami."
Ucapan Milley yang singkat, padat dan jelas membungkam mulut Rebecca seketika. Namun, ia tidak kehilangan akal saat ini. Daripada membuat mereka saling mengenal satu sama lain, lebih baik ia menyuruh Milley untuk pergi.
"Apa, Nyonya tidak suka dengan saya?"
"Benar, kalau kamu tahu, harusnya kamu menolak perjodohan ini!"
"Maaf, saya memang miskin, tetapi saya tidak akan mengambil harta yang bukan milik saya, Nyonya."
"Jadi, jangan khawatir, jika hal tersebut menganggu Anda, lebih baik Anda membujuk Kakek saja untuk membatalkannya."
"Ka-kamu!"
Rebbeca hanya bisa mengepalkan tangannya karena kalah dalam omongan. Ia tidak bisa menindas Milley karena ternyata Milley seorang wanita tegas dan berpendirian kuat.
"Maafkan saya Nyonya, saya tidak mudah ditindas oleh siapa pun. Lagi pula saya tidak pernah menyinggung Anda, bukan?" ucap Milley tegas.
Rebbeca yang sudah melangkah keluar, sempat menghentikan langkahnya saat ini karena ucapan Milley barusan, tetapi ia terus melangkah pergi dan tidak mau menoleh untuk saat ini.
"Kamu memang menang untuk saat ini, tetapi tidak untuk lain kali!" gumam Rebbeca melenggang pergi.
Selepas kepergian Rebbeca, Milley menghembuskan nafas lega.
"Akhirnya nenek sihir itu pergi!"
Milley mengusap dadanya perlahan. Namun ia terkejut ketika Nanni tiba-tiba menyelonong masuk. Terlihat sekali kalau ia sedang cemas saat ini.
Sampai di tempat tidur Milley, nafas Nanni masih terdengar belum teratur.
"Ambil nafas dulu!"
"He he he ... iya."
"Oh, ya. Nona Milley tidak apa-apa, kan?"
"Nggak apa-apa, kok Nanni."
"Untunglah, saya benar-benar khawatir akan hal ini, Nona."
"Ah, Nanni, kau seperti tidak mengenalku saja. Kalau soal seperti tadi, saya sudah biasa menghadapinya. Santai saja, oke."
"Oke, Nona. Kalau begitu saya permisi dulu, mau lanjut bekerja."
"Iya."
Nanni lalu membungkuk hormat kepada Milley lalu bergegas pergi.
.
.
...🌹Bersambung🌹...
__ADS_1
Sebenarnya kenapa semua orang tidak suka akan kehadiran Rebbeca ya, apakah memang keberadaannya sangat mengganggu? Wkwkwk kita simak di update selanjutnya ya.