
"Tok...Tok..tok..." tiba-tiba pintu kamar mereka di ketuk dari luar.
Miko yang masih berdandan ala-ala artis Hollywood pun langsung bangkit berdiri dari atas ranjang. sementara Amora juga jadi ikut panik.
Miko menarik handuk nya dan masuk ke kamar mandi. sementara Amora terpaksa membuka kan pintu kamar.
"Ehh ma ada apa?" tanya Amora bersikap seolah semua nya baik-baik saja.
"Mana Miko?" tanya sovi dengan nada dingin nya.
"Anu ma, mas Miko lagi mandi."
"Mandi ? ohh yasudah kalau dia sudah selesai mandi kalian turun ke bawah Kita makan malam sekalian ada yang ingin di bicarakan." titah sovi.
"Baik ma."
Sovi pun langsung berlalu meninggalkan kamar Amora dan Miko dan menuruni anak tangga.
"Mas sini bersihin wajah kamu dulu." panggil Amora saat dia sudah menutup pintu kamar dan kembali ke kamar.
"Mas cuci wajah saja sayang." jawab Miko dari dalam kamar mandi.
Setelah beberapa menit kemudian Miko pun keluar dari kamar mandi dengan wajah yang sudah bersih dari makeup namun masih memakai daster milik istrinya.
"Ini mas baju tidur kamu." ucap Amora yang memang sudah menyiapkan pakaian untuk suaminya itu.
"Terimakasih sayang, mama bilang apa tadi?" tanya Miko sembari memakai pakaian nya.
"Ohh mama menyuruh kita buat makan malam ke bawah, sekalian mau ada yang ingin di obrolin katanya." jawab Amora.
"Hmmm gitu ya."
"Hooh."
Setelah Miko selesai memakai pakaian nya mereka berdua pun keluar dari kamar dan segera menuruni anak tangga karena anggota keluarga yang lain sudah menunggu mereka di meja makan.
"Malam pa, ma, Ravi." Sapa Miko saat mereka sudah sampai di meja makan.
"Malam Miko." jawab Sean, sedangkan sovi seperti nya asyik menyiapkan makanan untuk suaminya.
Amora juga ingin melayani suaminya, namun di cegah oleh Miko. Miko menarik kursi dan mempersilahkan istri nya itu untuk duduk. walau merasa tidak enak hati Amora tetap menuruti kemauan suaminya itu.
Mereka pun makan malam bersama dalam diam, hanya denting an sendok dan piring lah yang menjadi alunan musik di rumah megah itu.
Beberapa menit pub berlalu dan mereka sudah selesai makan, sang pelayan di rumah itu pun dengan sigap membersihkan meja makan dan piring-piring kotor.
__ADS_1
"Mau bicarain soal apa pa?" tanya Miko membuka pembicaraan di antara mereka.
"Hmmm ini Miko, setelah mama dan papa berkonsultasi akhirnya kami memutuskan untuk balik ke Amerika Minggu depan untuk menyelesaikan beberapa pekerja an di sana. sebelum akhirnya kami akan menetap kembali di Tanah air." jelas Sean.
"Hmmm itu sih terserah mama dan papa saja, Miko mah setuju-setuju saja." jawab Miko.
"Belum selesai Miko."
"Ohh belum selesai ya pa."
"Hmm lanjut, jadi setelah kami pulang dari luar negeri mama dan papa ingin mengumumkan pernikahan kalian kepada semua orang. dan kita akan melakukan resepsi pernikahan mewah untuk kalian. ya selain nanti nya kehamilan istri kamu semakin membesar dan semua orang bisa salah persepsi tentang kalian, lagian dia juga nanti nya tidak kuat berdiri seharian di pelaminan." sambung sean.
"Miko sih ngikut aja pa, ma apapun yang terbaik menurut kalian dan selagi Amora tidak keberatan bagi Miko tidak ada masalah."
"Yasudah kalau begitu kita tentukan tanggal dan hari baik nya. sisa nya biar mama mu yang mengurus semuanya."
"Untuk undangan mama tidak mau ya kalau ada satupun keluarga Amora yang di undang. mama ga mau keluarga nya membocorkan masa lalu dia dan akan mencoreng nama nama baik keluarga Wijaya." tiba-tiba sovi membuka suara.
"Ma..." baru saja Miko memulai kata-kata nya.
"Mama tenang saja, Amora sebatang kara kok jadi tidak punya keluarga atau kerabat." potong Amora dengan cepat.
"Ma kamu apaan sih?" tanya Sean.
"tapi ma.."
"Sudah pa, tidak apa-apa kok kata mama ada benar nya juga." jawab Amora
"Yasudah kalau begitu kamu list saja siapa-siapa yang akan kamu udang ya miko."
"Iya pa." jawab Miko.
"Baiklah kamu bagaimana Ravi, hari pertama bekerja dengan Kanaya apa ada masalah?" tanya Sean kepada Ravi yang sedari tadi hanya jadi pendengar saja.
"Hah tidak ada yang istimewa kok pa." jawab Miko asal.
"Ravi Kanaya cantik kan?" tanya sovi tiba-tiba kepada putra bungsu nya itu.
"Cantik ma, kan dia perempuan ya pasti cantik lah." jawab Ravi cuek karena sudah tau kemana alur kata-kata mama nya sebentar lagi.
"Tapi cantik nya Kanaya beda Ravi, dia wanita cantik luar dalam. Mana dari keluarga terpandang lagi. udah gitu berpendidikan tinggi dan pintar. ahh perfect, Kanya menantu idaman mama banget deh. andai mama punya menantu seperti Kanaya pasti mama akan jadi mertua paling beruntung di dunia." ucap sovi sambil tersenyum sumringah.
Amora tau sovi sedang menyindir dirinya namun dia tersenyum seperti tadi seakan dirinya tidak tersindir dengan kata-kata pedas dari ibu mertua nya.
"Ahh tidak juga kok ma, perempuan cantik dan berpendidikan tinggi tidak menjamin attitude nya bagus semua tergantung pribadi orang nya." jawab Ravi.
__ADS_1
"Tapi 90 persen perempuan yang seperti Kanaya pasti memang wanita terbaik nak."
"Sudah lah ma, Ravi sedang tidak ingin membahas wanita. Ravi masih mau fokus ke kerjaan."
"Ravi, mama tidak memaksa kamu berpacaran dengan Kanaya sekarang, hanya saja mama mau kamu mendekatkan diri ke kanaya saja."
"Buat apa sih ma? sudah lah Ravi mau ke ruang kerja dulu masih ada beberapa berkas yang harus di selesaikan." ucap Ravi sambil berdiri dari duduk nya.
"Kenapa sih pa anak kita makin hari makin pada menentang keinginan kita." gerut sovi.
"Bukan menentang ma, itu artinya mereka sudah mulai dewasa mereka sudah mulai mengerti mana yang baik dan tidak untuk diri mereka. jangan terlalu di paksa ma ikuti saja kemauan mereka." ucap Sean.
"Papa sih bela mereka terus, yang ada jadi melunjak anak-anak mu pa."
"Miko dan Amora juga pamit ke kamar dulu ya ma pa." pamit Miko yang langsung memotong pembicaraan kedua orang tua nya karena dia tau Amora sebenarnya sudah tidak nyaman dengan kata-kata sovi.
"Miko kok kamu akhir-akhir ini seperti nya hoby banget di kamar ya." goda Sean.
"Ahh papa ini seperti tidak pernah muda saja. kami duluan ya ma pa, ayok sayang." ajak Miko kepada istrinya itu.
"Ma, pa Kita duluan ya." pamit Amora.
mereka berdua pun segera ke kamar nya, sedangkan sovi hanya diam saja.
"Ayok ma kita ke kamar juga, biar bisa seperti Amora sama Miko." ajak Sean dengan senyum genit nya.
"Idih ingat umur la sudah tua." tolak sovi yang langsung berlalu meninggalkan Sean. namun Sean malah mengejar istrinya itu dari belakang.
.
.
.
Sementara Ravi yang sedari tadi masih asyik dengan lamunannya hanya bisa membayangkan wajah Amora dan Kanaya secara bergantian.
"Kenapa sih mencintai bisa hanya dalam hitungan menit namun melupakan harus se susah ini? aku sadar dia sudah jadi milik kakak ku tapi kenapa perasaan ku untuk nya tidak kunjung berubah?" batin Ravi yang mulai kesal dengan perasaan nya.
"Ayo Ravi sadar, Amora itu kakak ipar mu dia sudah menikah dengan kakak mu Miko. lupakan dia."
"Apa benar kata mama kalau Kanaya adalah perempuan yang jauh lebih baik di segala hal daripada Amora. tapi kenapa rasa cinta ku kepada Amora tidak bisa hadir saat aku menatap Kanaya?"
"Ayok Ravi bisa yok, lupakan Amora dan mulai lah mencintai wanita lain."
"Ahhh cinta-cintaan ini membuat ku bingung." ucap nya sambil mengusap rambut nya frustasi.
__ADS_1