
Sudah larut namun keduanya belu juga tidur, Ravi masih nyaman di posisinya membelakangi Ayu, sedangkan Ayu memeluk Ravi dari belakang.
Ayu mencoba memilah-milah semuanya lagi namun dia benar-benar belum siap jadi ibu di waktu yang secepat itu. Karena merasa tidak tenang akhirnya Ayu memilih untuk sholat untuk menenangkan pikiran nya. Dan setelah selesai sholat baru lah Ayu bisa tertidur di sebelah suaminya.
Saat Ravi merasakan deru nafas istrinya yang teratur itu dia pun perlahan membalikkan tubuhnya. Dan kini tidur berhadapan dengan Ayu. Dia menatap wajah tenang istrinya itu. Dia terlihat sudah pulas di tidurnya.
Ravi menyelipkan anak rambut Ayu yang menutupi wajah nya. Lalu menatap istrinya itu dalam, perlahan senyum kecut terlukis di wajah Ravi.
“Aku tidak pernah menyangka bahwa kini gadis kecil ini sudah sah menjadi istriku.” Batin nya tersenyum kilas.
Ravi mulai mengingat bagaimana pertemuan mereka dulu dan akhirnya menjadi sepasang suami istri seperti sekarang ini. Wanita yang tidak pernah di bayangkan nya menjadi pendamping hidupnya namun cinta bisa datang kapan pun dan itu lah yang terjadi di antara keduanya.
Ravi mengingat semua kenangan-kenangan manis nya bersama Ayu dulu, sampai pada akhirnya Ravi mantap menetapkan hatinya kepada Ayu namun senyum indah yang terlukis di wajah Ravi itu tiba-tiba sirna saat dia mengingat penjelasan Ayu tadi. Entah kenapa hati kecilnya terasa begitu sakit namun dia juga tidak punya pilihan lain.
Bayang-bayang Sovi tiba-tiba ada di pikiran Ravi dia tidak tau se kecewa apa mama nya kalau tau ternyata menantunya menunda kehamilan mengingat Sovi begitu excited ingin segera memiliki cucu dari Ravi dan Ayu.
“Maafin Ravi mah.” Batin Ravi merasa bersalah kepada sovi.
Dia pun hanya bisa mengelus pipi mulus Ayu, karena sekarang Ravi juga tidak tau mau ambil pilihan apa. Dan akhirnya Ravi juga memilih untuk menyusul Ayu ke dunia mimpinya.
.
.
.
Waktu pun terus berjalan dan Kini Alarm ponsel Ayu membangunkan nya untuk sholat subuh, dengan sedikit malas karena dingin Ayu pun bangun dari tidurnya mengumpulkan kesadaran nya. Dia melihat Ravi yang masih tidur dan kini Ravi tidur berhadapan dengan nya dengan tangan memeluk perut Ayu.
“Maafin aku mas.” Guman Ayu menatap wajah tenang suaminya itu dengan rasa bersalah.
“Aku sangat mencintai kamu sayang.” Ayu mengecup hidung mancung Ravi.
Lalu perlahan dia membangunkan Ravi dengan lembut agar mereka sholat subuh, awalnya Ravi masih merasa mengantuk dan malas bangun akhirnya karena bujukan Ayu akhirnya Ravi bangun juga. Mereka pun segera ke kamar mandi lalu setelah nya sholat subuh. Setelah selesai sholat keduanya merasa tidak mengantuk lagi dan akhirnya Ravi memilih mengajak istrinya itu untuk joging pagi. Karena udara pagi di sini pasti sangat sejuk.
Tentu Ayu langsung setuju dengan ajakan Ravi itu, kedua nya pun berganti pakaian dan segera keluar dari Villa untuk olahraga bersama. Mereka berdua pun joging santai sembari menikmati angin pagi hari. Dan waktu pun terus berjala dan kini matahari sudah sepenuhnya menerangi bumi.
“Mas istirahat dulu yuk, capek.” Ajak Ayu yang memang sudah berkeringat.
__ADS_1
“Iya sayang.” Jawab Ravi yang ikut duduk bersama istrinya di sebuah kursi taman.
“Mau minum tidak sayang?” tanya Ravi saat mereka berdua duduk di kursi taman itu.
“Boleh deh mas.” Jawab Ayu.
Karena di dekat sana memang ada penjual minuman Ravi pun segera membelikan dua botol air mineral dingin untuk nya dan istrinya itu.
“Ini sayang.” Ravi menyerahkan sebotol minuman untuk Ayu.
“Terimakasih mas.” Ujar Ayu.
“sama-sama sayang.” Jawab Ravi sambil meneguk air mineral itu.
Mereka pun beristirahat sebentar sebelum akhirnya kembali ke villa untuk mandu dan sarapan. Setelah di rasa tenaganya sudah kembali lagi keduanya memutuskan untuk kembali ke villa. Namun di tengah perjalanan Ayu merasa perutnya keram.
“Awww...” pekik Ayu.
“Kenapa sayang?” Tanya Ravi saat mendengar suara istrinya itu.
“Gak tau mas, tiba-tiba perut aku rasanya keram banget.” Jawab Ayu memegangi perut nya.
“Tidak-tidak mas, mungkin karna belum sarapan saja kali.” Jawab Ayu.
Akhirnya Ravi pun memutuskan untuk menelepon pihak Villa agar menjemput mereka karena dia melihat sepertinya istrinya menahan sakit. Beberapa menit kemudian pihak Villa pun datang menjemput keduanya dan mereka pun kembali ke villa.
Sesampainya di kamar Ayu langsung ke kamar mandi dan ternyata dugaan nya benar. Karena rasa nyeri ini hampir setiap bulan dia rasakan setiap hari pertama datang tamu bulanan, apalagi karena tadi minum air dingin jadi rasa keram di perutnya semakin terasa.
Namun karena kemarin packing barang-barang nya lumayan buru-buru dan Ayu juga tidak terlalu melihat tanggal dai lupa membelikan pembalut.
“Mas...” ujar Ayu yang menongolkan kepalanya di balik daun pintu kamar mandi.
“Iya sayang?” Tanya Ravi yang langsung menghampiri Ayu ke kamar mandi.
“Boleh minta tolong tidak?” Tanya Ayu.
“Minta tolong apa sayang?” Tanya Ravi.
__ADS_1
“Tolong beliin pembalut dong mas kemaren kelupaan bawa nya soalnya buru-buru beres-beres koper, dekat sini ada minimarket sepertinya.” Ujar Ayu dengan tatapan memohon nya.
“Pembalut? Kamu lagi kedatangan tamu bulanan sayang?” Tanya Ravi.
“Hooh.” Ayu mengangguk.
Mendengar itu ekspresi wajah Ravi langsung lesu, namun dia juga tidak dapat berbuat apa-apa.
“Boleh tidak mas?” tanya Ayu lagi.
“Hmm, boleh boleh sayang, mau di belikan merek apa?” tanya Ravi yang harus tetap terlhat baik-baik saja di depan istrinya itu.
“Ohh boleh minta tolong ambilkan ponselku mas?” tanya Ayu lagi.
Ravi pun berjalan ke arah nakas di samping ranjang dan segera mengambil ponsel milik istrinya itu dan menyerahkan nya kepada ayu. Ayu pun menerima ponsel itu dan segera mencari merek pembalut yang biasa dia gunakan di google lalu mengirimkan gambar nya kepada Ravi.
“Yang seperti itu mas.” Ucap Ayu.
Ravi pun membuka ponselnya dan melihat pesan yang di kirimkan oleh istrinya itu,
“Okay sayang, masih ada yang lain yang ingin di beli?” sambung Ravi.
“Sepertinya tidak ada mas, itu saja.” Jawab Ayu.
“Okay sayang, mas beli dulu ya.” Ujar Ravi.
“Iya mas, hati-hati ya terimakasih.” Ucap Ayu.
“Iya sayang ku sama-sama.” Akhirnya Ravi pamit dan keluar dari kamar Villa itu.
Sembari menunggu Ravi datang Ayu pun memilih untuk mandi dulu, dan dia tiba-tiba tersenyum kecil.
“Aku datang bulan pagi ini, ahh kenapa kamu datang di saat yang tepat sih.” Guman nya tersenyum kecil.
Ayu merasa bahagia Itu artinya penyatuan yang mereka lakukan kemaren tidak berhasil dan selama empat hari kedepan dia dan ravi juga tidak bisa melakukan ibadah.
“Ah..”senyum indah itu terlukis di wajah Ayu.
__ADS_1
“Pokoknya setelah datang tamu bulanan aku harus rutin minum pil Kb.” Batin nya sedikit bersemangat.
Akhirnya Ayu pun memutuskan untuk mandi dengan riang, bahkan sangking bahagianya rasa nyeri di perutnya pun hilang.