
Sesampainya di rumah gress dengan sigap Tama dan Elsa langsung keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah gress mereka takut kalah cepat dari Miko.
Namun sayang seribu sayang dugaan mereka benar mereka kalah cepat dari anak buah Miko.
"Sial, arghhh." Tama mengacak rambutnya frustasi saat menendang pintu dan melihat Gress yang sudah duduk terikat di atas sofa.
"Kau apa kau memberikan semua bukti kepada mereka hah?" Tanya Tama kepada Gress saat dia melepaskan ikatan Gress.
"Gress hanya mengangguk."
"Sial, kenapa kau memberikan nya hah? Aku kan sudah membayar mahal untuk itu." Bentak Tama.
"Mereka mengancam nyawaku, kau pikir aku mau mati sia-sia hanya karena kepentingan mu hah?" Kini Gress balik membentak Tama.
"Kalau begitu kembalikan semua uang ku." Pinta Tama.
"Enak saja, uang yang sudah di berikan tidak boleh di minta lagi, lagian kan aku sudah memberikan semua bukti nya kepadamu. Harus nya kau yang ganti rugi karena demi kepentingan mu aku hampir saja kehilangan nyawaku." Protes Gress.
"Plak.....kau, berani kau bermain-main dengan Tama ya."satu tamparan mendarat di pipi Gress.
"Tama sudah, kendalikan emosi mu." Kini Elsa mencoba menenangkan Tama.
"Kau masih anak kemaren sore berani menamparku hah? Kau bisa ku tuntut." Kini Gress terpancing emosi sambil memegangi pipinya yang terasa panas.
"Hah tuntut? Silahkan kau kira aku takut tuntut saja kau belum tau siapa aku ya, aku bahkan bisa menghancurkan hidup mu se hancur-hancur nya." Tantang Tama.
"Dasar manusia kurang ajar, keluar kalian berdua dari rumah ku jangan sampai aku berteriak dan kalian di Hajar massa." Usir Gress.
"Kau mengusir ku hah? Kembalikan dulu uang ku."
"Enak saja, itu uang ku keluar kalian atau aku akan berteriak minta tolong ha" ancam Gress.
"Tama sudah ayo kita keluar saja, kamu mau nambah masalah hah." Ajak Elsa saat Gress sudah mulai melakukan aksi nya.
"Tapi dia telah menipuku Elsa." Protes Tama.
"Sudah nanti saja kita urus semua nya yok." Elsa pun menarik lengan Tama agar keluar dari rumah gress.
Akhirnya Tama pun menurut dan ikut keluar dari rumah itu kemudian masuk ke mobil dan Melajukan mobil nya meninggalkan rumah gress.
__ADS_1
"Sial sial, kenapa sih semua harus gagal." Tama memukul setir mobil dan tancap gas dengan kecepatan tinggi.
"Tama pelan-pelan dong kamu mau kita mati hah?" Elsa mencoba memperingatkan Tama.
"Ini juga salah mu Elsa." Ucap Tama.
"Lho kok jadi salah ku sih?" Tanya Elsa yang tidak terima dengan pernyataan Tama itu.
"Iya lah kalau seandainya kau tidak heboh menelepon Miko dan memamerkan bukti yang sudah kita dapat dan kalau kau sadar bahwa seseorang telah menempel kan penyadap suara ke pada mu ini semua tidak akan terjadi." Jelas Tama.
"Heh, waktu aku menelepon Miko kau setuju-setuju saja ya, dan kalau soal penyadap suara yang di tempelkan itu bukan salah ku. Kau yang salah masa kau tidak sadar bahwa ponsel mu telah di ambil orang lain. Lagian kan buktinya ada di sana jadi ponsel itu yang paling penting. Dan satu lagi harusnya kau pake otak mu Tama duplikat kek buktinya di laptop atau di mana saja." Ucap Elsa yang tidak mau di salah kan.
"Lho kok kamu jadi nyalahin aku sih?" Protes Tama.
"Emang nyatanya kamu juga salah Tama."
"Yaudah jadi bagaimana ini, solusi nya? Ini bukti kita satu-satunya dan sekarang sudah hangus juga. Bagaimana kita mau balas dendam ke Amora?" Tanya Tama kepada Elsa.
"Entah lah Tama aku juga bingung, tapi aku percaya sih pasti masih ada bukti lain nya tentang Amora." Ucap Elsa.
Mereka berdua pun akhirnya terdiam dengan pikiran buntu.
.
.
.
"Ehem.. kenapa pasangan mertua dan menantu ini kian hari kian kompak ya." Ledek Sean yang baru saja pulang ke rumah.
"Ehh papa sudah pulang." Ucap mereka bersamaan sambil melepas pelukan nya.
"Iya sebegitu Romantis nya kah hubungan di antara kalian sampai-sampai tidak menyadari kehadiran papa?" Ledek Sean lagi sambil berjalan mendekati mereka.
"Apaan sih pa." Sovi langsung menghampiri suaminya dan menyalim nya. Kemudian di lanjut oleh Amora dan Miko.
"Iya nih pa, Miko juga merasa hubungan mereka kian hari kian dekat." Ucap Miko.
"Bagus dong Miko."
__ADS_1
"Iya pa, Miko juga bahagia melihat mereka akur begini.
"Yaudah deh, mumpung kalian juga ada di Disni, Amora mama mau minta maaf ya sayang untuk semua kesalahan mama yang pernah mama perbuat sama kamu, baik perilaku mama atau perkataan mama yang mungkin menyakiti hati Amora." Sovi menggenggam tangan Amora dengan raut wajah yang bersalah.
"Iya ma Amora sudah memaafkan semuanya kok, Amora juga minta maaf ya kalau ada perilaku atau perkataan Amora yang mungkin menyinggung dan membuat mama sakit hati." Ucap Amora.
"Tidak kok sayang, sama sekali tidak ada. Benar kata Miko kita tidak boleh menilai buku dari sampulnya. Bagi mama sekarang kamu adalah menantu mama dan mama tidak perduli lagi apapun masa lalu mu nak. Yang pasti mama percaya kamu adalah perempuan baik dan yang terbaik untuk mendampingi Miko kelak." Ucap sovi sambil mengelus rambut Amora.
"Terimakasih banyak ma." Kini mata Amora berkaca-kaca penuh haru.
"Sama-sama sayang, mama juga berterimakasih kepada kamu sudah hadir di keluarga ini dan memberikan warna untuk keluarga ini khususnya Miko. Dan sebentar lagi juga akan menjadi ibu untuk calon penerus Wijaya grup." Ucap sovi tersenyum.
"Sini peluk dulu dong." Sambung sovi.
Amora pun langsung memeluk sovi, dan di sambut oleh sovi pelukan hangat yang selama ini dia rindu kan dari sosok seorang ibu.
"Ehh kok nangis, jangan nangis dong sayang." Ucap sovi yang mendengar Isak tangis Amora.
"Amora hanya menangis bahagia ma, Amora tidak pernah menyangka akan mendapatkan kehidupan sebahagia ini setelah semua kelakuan Amora di masalalu."
"Cup... cup.. semua orang pantas bahagia sayang mau masalalu nya baik atau buruk dan semua orang juga pantas mendapatkan kesempatan untuk menjadi lebih baik." Sovi mengelus punggung Amora.
"Terimakasih banyak ma." Hanya itu yang mampu Amora ucapkan.
"Aduh kenapa kalian bikin baper sih ah." Goda Sean yang sebenarnya merasakan haru juga melihat ketulusan kedua nya.
"Apa sih pa? Ganggu aja dah." Protes sovi yang melepaskan pelukan nya dari Amora.
"Papa juga kan kepingin di peluk, iya kan Miko." Ucap sean.
"Iya dong pa." Jawab Miko.
"Sudah ah, papa mandi dulu sana bau keringat tau." Titah sovi sambil menutup hidung nya.
"Apaan sih ma, orang papa wangi begini."
"Udah ah ayo sana mandi."
"Siapin baju yuk ma." Ajak Sean sambil tersenyum penuh arti.
__ADS_1
"Dasar si papa udah tua juga." Oceh Sovi yang langsung mengerti maksud perkataan suaminya itu.
Sean hanya cengengesan, dan akhirnya sovi dan Sean pun pamit kepada Miko dan Amora ke kamar mereka. Sementara Miko langsung merangkul istrinya itu dia merasa bahagia karena takdir selalu berpihak kepada istrinya itu.