
Beberapa jam kemudian Ravi pun tersadar dari pingsan nya. Dia memegangi kepala nya yang terasa begitu berat dan sakit.
Bagaimana tidak kepalanya kini botak dan ada perban di sana. Perlahan tapi pasti Ravi mencoba mengingat semua kejadian yang terjadi kenapa dia bisa begini.
Ravi mencoba mengingat semua nya kenapa dia bisa ada di sini, namun semakin Ravi mencoba mengingat nya dia semakin merasa kepalanya pusing.
Sovi yang merasa kelelahan dan akhirnya tertidur di sebelah Ravi pun tidak terbangun dan sadar kalau Ravi sudah sadar. Sedangkan Ayu sedang solat subuh.
"Arghhh..." Teriak Ravi yang merasa kepalanya menjadi sakit saat dia memaksa mengingat.
"Ravi sayang kamu sudah bangun nak?" Tanya sovi yang langsung terbangun dan menatap putra nya itu.
"Ma kok Ravi bisa ada di sini? Kenapa kepala Ravi sakit sekali?" Tanya Ravi kepada sovi.
"Kamu baru saja mengalami kecelakaan sayang, dan tadi kamu baru saja selesai menjalani operasi." Jelas Sovi.
"Kecelakaan apa ma, pa? Kok Ravi ga bisa ingat apa-apa ya." Jelas Ravi yang merasa semakin sakit di kepala nya saat mengingat kecelakaan nya.
"Sayang, kamu tidak mengingat kecelakaan yang terjadi sama kamu? Tapi kamu ingat mama sama papa kan?" Tanya sovi yang langsung khawatir.
"Ingat ma, iya ma semakin Ravi memaksa untuk mengingat semakin sakit kepala Ravi." Jelas Ravi.
"Papa kenapa diam saja sih, cepat sana Panggil dokter." Bentak sovi kepada suami nya itu, karena merasa khawatir dengan kondisi putra bungsu nya itu.
"Iya ma, kan tinggal tekan tombol itu?" Jawab Sean yang jadi ikut panik.
Sovi pun langsung menekan tombol nya berulang-ulang kali sampai akhir nya sang dokter datang.
"Dok kok lama banget sih, ini putra saya sudah sadar coba di cek dulu kondisi nya." Perinta sovi.
"Baik pak, buk, tolong yang sedikit." Jawab sang dokter yang menghampiri Ravi dan mencoba nge cek kondisi Ravi.
__ADS_1
"Bagaimana kondisi putra saya dok? Kok bisa dia tidak ingat kecelakaan yang menimpa dirinya?" Tanya sovi yang sudah tidak sabar.
"Boleh kita bicara di ruang keluarga pak, buk? Sembari suster kami Menganti infus pasien?" Tanya sang dokter.
"Boleh dok boleh." Jawab Sean.
Akhirnya mereka pun menjauh dari Ravi, dan duduk di sofa ruang keluarga ruangan Ravi.
"Maaf bapak, ibu pasien mengalami Amnesia Anterograde, di mana pasien mengalami gangguan daya ingat terkait peristiwa masa lalu yang masih melekat pada ingatan nya . Namun hanya sebagian dari masa lalu nya yang hilang artinya pasien masih dapat mengingat peristiwa yang sudah berlalu." Jelas sang dokter.
"Kok bisa dok?" Tanya Sean lagi.
"Penyebabnya adalah karena pasien mengalami cedera pada otak, dan efek samping dari operasi di bagian kepala tadi, sehingga mengakibatkan hilangnya sebagian memori ingatan pasien pak." Jelas sang dokter.
"Lalu apa ingatan putra saya bisa kembali lagi dok?" Tanya sovi yang menangis sesenggukan.
"Bisa Bu, dengan terapi dan obat-obatan, mungkin di butuhkan waktu beberapa bulan ke depan." Sambung sang dokter.
"Ravi sayang," sovi langsung berlari ke arah Ravi.
"Ini kenapa kaki Ravi juga ga bisa di gerakin sih ma?" Tanya Ravi yang sedang berusaha menggerakkan kaki nya namun tetap tidak bisa.
"Dok ini kenapa lagi?" Teriak sovi.
"Maaf pak, harus saya katakan ternyata pasien mengalami kecelakaan yang cukup serius. Selain cedera pada otak pasien juga mengalami lumpuh sementara pada bagian kaki nya." Jelas sang dokter dengan wajah berat.
"Dok, dokter sedang bercanda kan?" Tanya Sean yang merasa ini terlalu berat.
"Saya serius pak." Jawab sang dokter.
"Tapi tidak ada luka di kaki putra saya, kok bisa dia lumpuh juga?" Tanya Sean lagi.
__ADS_1
"Maaf pak, kemungkinan cidera kepala, leher, atau tulang belakang akibat kecelakaan itu menyebabkan lumpuh di bagian kaki pasien. Namun kami perlu melakukan pemeriksaan neurologis menyeluruh serta beberapa tes penunjang, contohnya laboratorium, rontgen, CT scan, MRI, dan sebagainya untuk bisa memastikan penyebab atas kelumpuhan yang di alami oleh pasien." Jawab sang dokter.
"Dok tapi putra saya bisa sembuh kan dok seperti sedia kala?" Tanya Sean yang jadi khawatir dengan kondisi putra nya.
"Lakukan apa saja dok, dan kami akan bayar berapa pun itu untuk kesembuhan putra saya. Kembalikan dia seperti sedia kala." Pinta Sean dengan penuh harap kepada sang dokter.
"Baik pak, kami akan berusaha semaksimal mungkin. Dan besar kok kemungkinan pasien untuk sembuh, yang kami butuh Deri keluarga sekarang hanya support untuk pasien agar kondisinya tidak nge drop lagi." Jelas Sang dokter kepada Sean dan sovi.
Karena tadi Ravi sempat histeris dan tidak terima sehingga dengan terpaksa sang suster menyuntik kan nya dengan obat penenang.
Sovi pun di peluk oleh Sean, karena sovi menangis sesenggukan merasa tidak percaya dengan kondisi putra nya sekarang.
"Maafin mama nak, kalau saja kemarin mama tidak egois dan memberikan kamu kesempatan untuk menentukan pilihan hati kamu mungkin hal ini tidak akan terjadi. mama egois sayang mama salah." ucap Sovi sambil mengelus kening Ravi dia benar-benar merasa bersalah.
"Sudah lah ma, semua nya sudah terjadi kita hanya bisa berdoa dan suport Ravi untuk kesembuhan nya." Sean mencoba menenangkan Sovi.
"kalau sampai terjadi sesuatu hal yang tidak di inginkan kepada Ravi mama tidak akan pernah bisa memanfaatkan diri mama pa." jawab sovi yang semakin menangis di pelukan suaminya itu.
"Jangan bicara seperti itu ma, papa yakin Ravi anak yang kuat dia pasti bisa melalui ini semua. mama harus tetap semangat ya demi Ravi dan demi kita semua." ujar Sean.
sementara Ayu yang baru saja kembali ke ruangan itu sehabis dirinya sholat subuh langsung menghampiri sovi dan Sean yang sedang menangis.
"ibu kenapa ibu menangis?" tanya Ayu kebingungan.
namun bukan menjawab pertanyaan Ayu sovi langsung berhambur ke pelukan Ayu.
"Ayu maafin ibu ya, kalau kemarin ibu egois dan mungkin menyakiti perasaan kamu. ibu mohon jangan pernah pindah dari rumah kami, tetap lah tinggal di sana dan menjadi bagian dari keluarga kami ya nak." pinta sovi sambil memeluk Ayu dengan erat.
"Iya Bu, ayu janji." jawab ayu yang sebenarnya masih kebingungan.
Sean hanya tersenyum melihat istrinya yang perlahan mulai menyadari bahwa ke egoisan nya salah, dan tidak semua yang dia mau harus terjadi.
__ADS_1
"Sudah-sudah jangan menangis lagi, kita doakan saja semoga Ravi cepat pulih dan kita sama-sama mensupport Ravi." ucap Sean setelah pelukan Ayu dan sovi terlepas.