
"Yu kok dari tadi kamu diam saja sih?" Tanya Ravi saat dirinya dan Ayu sudah di halaman belakang untuk melatih Ravi berjalan.
"Tidak apa-apa kok kak." Jawab Ayu sembari membuang pandangannya.
"Seriusan yu, kalau kakak ada salah kamu ngomong dong, jangan bad mood begin." Pinta Ravi karena Ayu diam saja sedari tadi.
"Ohh jadi kakak tidak merasa bersalah ya sudah berbohong kepada kami semua?" Ujar Ayu yang tidak bisa menahan lagi.
"Bohong soal apa Ayu cantik? Soal ingatan kakak?" Tanya Ravi.
"Hmmm." Jawab Ayu.
"Ya ampun Yu, kakak melakukan itu juga terpaksa, tapi kan ada hikmah di balik itu semua akhirnya mama tau siapa Kanaya. Dan mama juga kini menyadari ketelusan kamu bahkan kini merestui hubungan kita." Jelas Ravi lagi.
"Ah tapi tapi Ayu masih kesal sama kakak, Kenapa harus membuat Kami khawatir dan berbohong. "Ujar Ayu yang memang masih merasa kesal kepada Ravi.
"Maaf ya Ayu cantik, kakak tidak berniat membohongi kalian. Kakak hanya ingin yang terbaik untuk kita. "Raffi mencoba menenangkan Ayu.
"Iya iya tahu, tapi kan tidak harus berbohong begini Kak apalagi akan sampai bohongi ibu sovi , Kak Miko dan Kak Amora juga." Ucap Ayu.
"Ya udah, Kakak memang benar-benar merasa bersalah jadi apa hukuman Kakak biar Ayu tidak marah lagi kepada kakak. " Tanya rapi sambil menatap Ayu.
"Nggak tahu, Ayu juga bingung. "Jawab Ayu yang sebenarnya bingung juga kenapa dirinya harus marah padahal kan bener kata ravi dengan begini sovi bisa melihat ketulusan dirinya dan akhirnya merestui hubungan mereka.
"Tapi terlepas dari itu Kakak mau nanya hal serius sama kamu yuk. "Ujar api yang menatap Ayu dengan penuh serius.
"Bagaimana perasaan kamu saat mama akhirnya menerima kamu sebagai calon menantu nya yu?" tanya ravi penasaran.
"Apaan sih kak, yang pasti bahagia lah." jawab Ayu dengan pipi bersemu merah.
"Terus kakak mau tanya lagi yu." sambung Ravi
"Mau nanya apa lagi kak?" Ayu balik bertanya.
__ADS_1
"Apa jawaban kamu untuk pertanyaan mama tadi malam yu?" Tanya Ravi.
"Pertanyaan yang mana kak?" Ayu pura-pura polos dan lupa semua nya.
"Itu Soal melamar kamu." Sambung Ravi.
Ayu hanya diam saja,pipinya tiba-tiba memerah, entah kenapa ada rasa dag Dig dug di hati nya saat mengingat kejadian tadi malam.
"Memangnya ibu sovi serius ya Kak menanyakan soal itu. " Kini ayo balik bertanya bukan malah menjawab pertanyaan ravi.
"Ayu kok kamu nanya begitu kamu kan tahu sendiri Mama bukan tipe orang yang suka bercanda apalagi masalah begituan, jadi ayu merasa pertanyaan Mama tadi malam adalah candaan ya? " Tanya ravi yang merasa jawaban Ayu tidak sesuai dengan ekspektasinya.
"Bukan, bukan begitu kak hanya saja Ayu merasa tidak pantas jika bersanding dengan kakak. Kakak orang kaya sedangkan Ayu hanyalah anak kampung yang tidak sederajat dengan kakak. " Jelas Ayu dengan tatapan sedih nya.
"Sudah ya jangan ngomong begitu, kita semua sama kok dan satu lagi Ayu pantas dan sama pantas bersanding dengan kakak"jelas ravi.
"Tidak sama kak, kita beda." kekeh Ayu.
"cinta." jawab Ayu dengan cepat.
"kalau memang cinta tidak ada alasan untuk menolak niat baik kakak kan?" tanya Ravi lagi.
"Tapi Kak.... "Belum sempet Ayu melanjutkan kata-katanya sudah dipotong oleh Ravi.
"Tapi apa yu, apa jangan-jangan sebenarnya Ayu yang tidak mau bersanding dengan kakak. Mungkin Ayu punya pria lain yang dicintai atau atau tidak mau karena kondisi kakak yang sudah lumpuh begini. " Kini ravi membalikan pembicaraan.
"Bukan Kak ayo mau kok mau banget marah cuman Ayu belum percaya diri dengan kondisi Ayu dan kondisi keluarga Ayu." Tutur Ayu.
"Oh Ayu mau juga ya sudah kalau begitu kita langsung saja ke rumah Ayu buat melamar Ayu nanti kakak bicara sama mama sama papa. "Tutur Ravi yang langsung bersemangat mendengar jawaban itu.
"Ya nggak secepat ini juga dong Kak Ayu kan masih kuliah bahkan sebentar lagi mau ujian semester Lagian kakak juga masih proses pemulihan. "Jelas Ayu.
"Ohh iya juga ya yu, tapi kalau di suruh nunggu kamu sampai tamat kuliah jujur kakak tidak sanggup yu, bisa-bisa kakak lepas kendali nanti. Bagaimana kalau kita menikah setelah kakak bisa jalan nanti nya dan sudah pulih betul. Lagian. Kakak tidak mau berpacaran yang ada nanti nambah dosa yu." Ujar Ravi lagi.
__ADS_1
"Hah, setelah kakak bisa jalan?" ayu mengulangi kata-kata Ravi.
"Hmmm, tenang yu kakak ini anak nya Sean Wijaya bisa di pastikan masa depan kamu aman lah." jawab Ravi.
"Bukan masalah itu kak, kalau soal itu mah tidak masalah bagi ayu, tapi bagaimana dengan kuliah ayu kalau kita menikah?" Tanya ayu.
"Tenang yu, kakak adalah calon suami yang bertanggung jawab, jadi kamu boleh melanjutkan kuliah kamu bahkan sampai s 2 atau S3 bakal kakak dukung." Ujar Ravi.
"Kakak yakin sama Ayu?" Tanya Ayu memastikan kembali perasaan Ravi kepada dirinya.
"Yakin dong, ayu meragukan kakak? Atau meragukan diri ayu sendiri?" Ravi Balik bertanya.
"Bukan kak, hanya saja rasanya ini semua terlalu cepat, coba di pikir-pikir dulu lagi kak." Ayu mencoba memberikan keterangan.
"Kakak sudah memikirkan nya matang-matang yu, dan kakak yakin dan siap. Asal ayu yakin dan siap juga." Jelas Ravi.
"Ayu kalau soal yakin sih yakin kak, tapi kalau siap seperti nya belum kak." Jujur ayu.
"Lho kenapa yu?" Tanya Ravi yang mengerutkan kening nya.
"Soalnya ayu belum siap kak, nanti pas kuliah terus hamil." Jelas Ayu jujur tentang kekhawatiran nya.
"Ohh soal itu, kamu tenang saja yu, kita bisa menunda kehamilan dulu kok sampai kamu sudah siap. Lagian Kakak juga tidak akan memaksa." Jawab Ravi mantap.
"Ahh entah lah kak, Kenapa bahasa. Kita sejauh ini sih..kita fokus kesembuhan kaki kakak saja dulu yuk." Ayu mengalihkan topik pembicaraan, karena dia merasa malu dengan topik tadi.
"Heheheh iya yu benar kata kamu fokus ke kesembuhan dulu ya, biar bisa gendong kamu nanti pas malam pertama." Goda Ravi.
"Apaan sih ka." Pipi Ayu memerah.
Akhirnya mereka berdua pun berlatih berjalan walaupun Ayu tidak berani menatap wajah Ravi dan hal itu membuat Ravi merasa gemes dengan Ayu.
Ravi hanya tersenyum melihat ayu yang salah tingkah, bahkan untuk menggandeng tangan Ravi untuk latihan jalan ayu terlihat grogi dan salah tingkah. Sovi dan Amora yang mengintip dari jendela rumah hanya senyum-senyum melihat dua bucin itu.
__ADS_1