
"Ayu kok kamu baik banget sih sama saya, nyuapin nya juga lembut sekali." Tanya Ravi saat Ayu menyuapkan satu demi satu sendok bubur tersebut kepada Ravi.
"Kan memang tanggung jawab Ayu kak buat nge rawat kakak." Jawab Ayu sambil terus melanjutkan aktivitas nya.
"Yu cerita dong kenapa malam itu saya bisa kecelakaan, apa saya ada masalah ya?" Ravi mencoba mengorek informasi.
"Ummm, kalau tidak salah ya kak Ravi pas balik dari kantor terus kecelakaan pun terjadi dan tidak bisa di elakkan." Ayu langsung memikirkan jawab dan berbohong kepada Ravi.
"Ohh begitu." Ravi hanya manggut-manggut.
"Saya kira ada masalah, mungkin saya berantam sama mama, papa, kak Miko atau Kanaya." Sambung Ravi lagi.
"Sepertinya sih tidak kak." Ayu masih konsisten dengan jawaban nya.
"Ohh iya yu, saya mau tanya sesuatu boleh?" Lanjut Ravi.
"Mau tanya apa kak?" Jawab ayu dengan sabar.
"Kok pacar saya tidak pernah ya jenguk saya." Lanjut Ravi.
"Ohh mungkin mbak Kanaya nya lagi sibuk kak, jadi dia belum bisa jenguk kak Ravi." Jawab Ayu asal.
"Udah -udah yu saya sudah kenyang." Ravi menolak suapan terakhir Ayu.
"Kak ini yang terakhir Yuk aaaa kak biar cepat sembuh." Ayu menyodorkan sesendok bubur terakhir kepada Ravi.
Akhirnya Ravi pun membuka mulut nya dan tetap memakan bubur itu. Setelah nya Ravi meminum air putih dan minum obat.
"Yasudah kak Ravi istirahat ya, Ayu mau ngantar ini dulu ke dapur." Ucap Ayu setelah dia merapikan semua nya.
"Yu sebentar." Ravi menahan tangan Ayu.
"Iya kak?" Ayu menatap Ravi dalam.
"Aduhh yu jangan tatap gitu dong, aku jadi dag Dig dug nih." Batin Ravi.
"Boleh temenin saya sebentar setidaknya sampai saya tidur?" Tanya Ravi sambil memalingkan pandangannya.
"Umm anu kak..."belum sempat Ayu melanjutkan kata-katanya sudah di potong oleh Ravi.
"Ohh ayu tidak bisa ya, yaudah deh." Ravi melepaskan genggaman nya.
"Bisa kok kak bisa." Jawab Ayu yang merasa tidak enak menolak permintaan Ravi.
"Gitu dong yu, kakak kan rindu sama kamu dan kakak juga yakin pasti kamu rindu juga sama kakak kan. Hanya gengsi saja, sabar ya sayang biarkan semua nya mengalir sampai mama tau bahwa kamu adalah yang terbaik untuk kakak." Batin Ravi yang sebenarnya bahagia mendapatkan jawaban Ayu.
" Ta... Tapi ngapain Ayu sampai kakak tidur?" Tanya Ayu yang bingung mau ngapain di kamar Ravi.
"Ohh iya yu, seingat kakak dulu mama sering banget bacain cerita ke kakak dan kak Miko sebelum tidur. Sambil kepala di elus-elus begini sampai ketiduran, Ayu mau tidak melakukan nya untuk kakak?" Tanya Ravi yang pengen di manja.
"Hah..?" Ekspresi kaget ayu mendengar kan permintaan Ravi.
__ADS_1
"Yahh Ayu tidak mau ya." Ravi memanyunkan bibirnya seperti anak kecil.
"Mau kok kak.." jawab Ayu yang tidak bisa menolak permintaan Ravi.
"Tapi kan kak kepala kakak baru di Operasi, mana rambut nya baru di cukur habis lagi bagaimana ayu ngelus nya?" Tanya ayu dengan polosnya.
"Iya elus aja seperti ngelus kepala bayi yu, ya yuu ya please" Sambung Ravi dengan tatapan memohon.
"Ini bocah emang benar-benar amnesia deh kek nya jadi balik bocah beneran." Batin Ayu yang merasa lucu melihat seorang Ravi yang biasanya cool jadi kek bocah begini.
"Bukan nya kakak amnesia ya, kok bisa sih ingat kalau dulu waktu kecil di ceritain sama ibu sovi?" Tanya ayu lagi dengan polos.
"Kakak kan amnesia tidak seluruh ingatan kakak yang hilang yu hanya sebagian ya artinya masih bisa ingat sebagian lagi." Jelas Ravi yang ngeles.
"Yaudah deh, tapi mau cerita apa kak, emang kakak punya buku cerita?" Sambung Ayu lagi.
"Cerita apa saja deh yu, yang penting cerita." Jawab Ravi yang memejamkan mata nya dan menarik tangan Ayu dan menempelkan nya di kepala nya.
Awalnya Ayu merasa canggung namun akhirnya dia perlahan mulai mengelus lembut kepala Ravi dan menceritakan dongeng yang pernah dia baca semasa sekolah dulu.
"Kalau di sayang, sayang sama Ayu begini aku ikhlas deh sakit terus." Batin Ravi yang merasa bahagia dengan perlakuan Ayu itu.
Ravi pun menikmati cerita Ayu sambil memejamkan matanya, tiba-tiba di teringat kejadian satu Minggu lalu di rumah sakit.
#flashback on....
Sovi yang terlihat sudah kelelahan menjaga Ravi akhirnya tepar juga, sedangkan Ayu sedang pergi sholat subuh.
"Nak kamu sudah sadar?" Tanya Sean yang melihat Ravi masih mengumpulkan kesadaran nya.
"Pa..." Hanya itu yang mampu Ravi ucapkan air mata nya jatuh setelah mengingat semua kejadian yang menimpanya.
"Sudah jangan menangis, anggap ini semua ujian dari yang di Atas." Sean mencoba menenangkan Ravi.
"Mama mana pa?" Tanya Ravi.
"Baru saja papa pindahkan ke sofa ruang tamu itu, kasihan mama mu dari tadi nungguin kamu terus." Jelas Sean.
"Lalu kak Miko dan kak Amora di mana pa?" Tanya nya lagi.
"Mereka pulang, kasihan keponakan mu kalau sampai bermalam di rumah sakit ini." Jelas Sean.
"Ayu?" Tanya Ravi.
"Hmmm Ayu, dia sedang sholat subuh nak, dia memang perempuan yang baik sesuai seperti namanya Ayu wajah dan hati nya. Bahkan andai kau tau dia lah malaikat penolong mu dia yang sudah mendonorkan darah untuk mu karena tadi kamu kehabisan darah dan rumah sakit tidak punya stok golongan darah kamu. Kamu kan tahu sendiri tidak ada golongan darah yang sama dengan kamu di rumah kita, dan ternyata Ayu memiliki golongan darah yang sama dengan kamu, dan tanpa pikir panjang dia langsung bersedia mendonorkan darah nya untuk mu nak." Jelas Sean dengan binar air mata.
"Benarkah pa?" Tanya Ravi terharu.
"Iya sayang, tapi nak ada satu hal yang harus kamu ketahui, papa harap kamu kuat ya nak menjalani nya." Jelas Sean sambil menatap Ravi dalam.
"Apa itu pa?" Tanya Ravi dengan tatapan pemasaran.
__ADS_1
"Tadi papa sudah berbincang dengan dokter kata dokter kemungkinan karena cidera kepala, leher, atau tulang belakang kamu akibat kecelakaan itu menyebabkan lumpuh di bagian kaki kamu nak. Tapi dengan pengobatan kemungkinan akan sembuh dalam beberapa waktu kedepan nya." Jelas Sean yang menahan air mata nya agar tidak tumpah.
"Apa pa, jadi Ravi lumpuh?" Tanya Ravi sambil berderai air mata.
"Hanya sementara sayang, papa mohon jangan menangis sayang, papa yakin kok anak papa pasti kuat." Sean mencoba menguatkan Ravi.
"Tapi pa, Ravi akan tidak berharga lagi pa, udah Ravi lumpuh lalu besok Ayu juga akan pindah Ravi merasa hidup Ravi benar-benar hancur pa." Ungkap Ravi.
"Sebenarnya papa punya rencana sih nak." Sambung Sean.
"Rencana apa pa?" Tanya Ravi lagi.
"Kamu mau kan di urus sama Ayu, tapi ayu tidak merasa canggung sama kamu dan mama kamu juga tidak membatasi ruang kamu dengan Ayu. Dan satu lagi agar kita juga tau sifat asli Kanaya, bahkan sifat asli nya Ayu." Sambung Sean.
"Mau pa, memang rencana papa apa?" Tanya Ravi penasaran.
Sean pun membisikkan sesuatu kepada Ravi.
"Apa pa, pura-pura amnesia?" Ulang Ravi dengan mata melotot.
" Heh jangan keras-keras ngomong nya nanti mama kamu kebangun dan ada yang dengar." Sean menempel kan jari telunjuk nya di bibir agar Ravi berbicara pelan.
"Tapi pa..."
"Udah tidak usah tapi-tapian, ikutin aja rencana papa, kamu tidak mau kehilangan Ayu kan dan ingin tau juga kan siapa yang tulus sayang sama kamu. Dan masalah dokter biar papa yang tanganin." Ucap Sean.
"Papa yakin rencana ini akan berhasil?" Tanya Ravi yang masih ragu.
"Ya selama kamu profesional papa sih yakin bisa berhasil. Lagian dengan cara ini biar mama mu tidak marah-marah dan lebih memikirkan perasaan orang lain." Sambung Sean lagi.
"Yasudah deh pa, kalau itu untuk kebaikan bersama Ravi ngikut saja." Jawab Ravi.
"Nah gitu dong, papa juga lakuin ini untuk kamu nak, manatau dengan cara begini mata mama kamu bisa lebih terbuka untuk melihat siapa yang tulus sama kamu." Ucap Sean.
"Iya pa, papa benar." Jawab Ravi.
"Yasudah kamu istirahat saja lagi, sebentar lagi ayu ke sini jangan buat dia curiga, papa mau nemuin dokter dulu mau ngajak kerjasama." Titah Sean.
"Baik pa." Ravi hanya menurut.
#flashback off.....
Ravi pun tersenyum kecil, lalu dia menikmati cerita Ayu dan elusan Ayu. Dia sangat nyaman berada di sebelah wanita yang di cintai nya itu.
"Tunggu aku sembuh total yu, akan ku perjuangkan cinta ku padamu siapapun tidak ada yang bisa menghalanginya. Karena aku sudah berutang nyawa kepadamu maka akan ku bahagia kan kau nanti, itu janji ku." Batin Ravi penuh dengan tekad.
Karena terlalu nyaman dengan elusan Ayu akhirnya Ravi pun tertidur. Dan saat Ayu sudah selesai menceritakan cerita nya dan melihat Ravi sudah tertidur pulas ayu pun merapikan selimut Ravi.
"Selamat tidur sayang ku, semoga lekas membaik ya, dan segera mengingat semua nya, aku mencintaimu." Ucap Ayu sambil mengecup kening Ravi dengan lembut.
Lalu Ayu pun membawa nampan piring kosong tadi lalu keluar dari kamar Ravi secara perlahan agar Ravi tidak terbangun.
__ADS_1
Sesampainya di dapur ayu merapikan piring, lalu makan malam. Setelah nya dia masuk ke kamar nya dan membersihkan diri lalu bersiap untuk tidur.