
Beberapa menit kemudian mereka pun sampai di Cafe dekat kampus mereka.
"Yu di sini." Vivi melambaikan tangan.
Ayu yang datang nya terakhir pun Langsung berjalan bergegas menemui kedua sahabat nya itu.
"Yu kamu baik-baik saja kan?" Tanya sita saat melihat mata Ayu yang sembab.
"Baik kok guys." Ayu memberikan senyum palsu nya.
"Mau pesan apa guys?" Vivi mencoba mengalihkan perhatian Ayu yang terlihat begitu terbebani dengan masalah nya.
"Umm, aku cappucino sama kentang goreng aja Vi," jawab sita.
"Kamu mau apa yu?" Kini Vivi menatap Ayu.
"Samain aja sama punya sita Vi" Jawab Ayu.
Vivi pun memesan makanan untuk mereka bertiga.
"Yu kok kamu ga pernah cerita sih sama kita, soal perasaan sama hubungan kamu sama kak Ravi." Tanya sita yang memang kenal sama Ravi karena Ravi sering mengantar Ayu ke kampus.
Namun setiap di tanya kedua sahabat nya soal hubungan Ayu dan ravi kenapa Ravi se baik dan seperhatian itu kepada Ayu. Ayu akan selalu menjawab hubungan mereka hanya sebatas kakak dan adik, Ravi menganggap Ayu sebagi adik nya karena Ravi tidak punya adik perempuan.
Itu lah alasan Ayu, bahkan beberapa kali Vivi minta untuk di comblangi dengan Ravi jika memang Ayu tidak memiliki hubungan atau perasaan spesial kepada Ravi.
Namun Ayu selalu bilang kalau Ravi sudah punya pacar, dan dia selalu menjelaskan kriteria Kanaya yang memang membuat dirinya sendiri inseciure.
"Maafin guys, aku sudah berbohong kepada kalian. Tapi memang aku dan kak Ravi tidak pacaran." Ayu menunduk.
"Tapi saling cinta kan?" Timpal Vivi dengan raut wajah kecewa.
"Itu lah salah ku Vi, harus nya dari awal aku sadar diri bukan nya malah terbawa perasaan seperti ini, karena ke bodohan ku akhiri nya banyak orang yang tersakiti." Jawab Ayu dengan wajah penuh rasa bersalah.
"Yu, ini bukan sepenuhnya salah kamu. Dan satu lagi yang berlalu biarlah berlalu sekarang kita pikirkan solusi nya untuk masa depan agar tidak ada lagi yang tersakiti." Kata Sita.
"Hmmm, iya yu benar kata Sita walaupun aku sedikit kecewa sama kamu karena aku harus juga bersaing bersama sahabat ku demi mendapatkan pujaan hati ku, tapi kita harus memikirkan solusi nya untuk masa depan." Ungkap Vivi yang selalu mendukung kondisi sahabat nya itu.
"Ehhh, genting air ini bukan waktu nya bahas perasan," sita memukul tangan Vivi yang duduk di sebelah nya.
"Jahat kamu ya sit, tega banget bilang aku gentong air." Vivi memanyunkan bibirnya.
__ADS_1
"Iya guys benar aku memang harus keluar dari zona nyaman ini. Lagian seperti nya mama Sovi benar-benar kecewa sama aku. Dan aku yakin mbak Amora juga bakal kecewa banget sama aku. Aku jahat banget ya kebaikan mereka aku balas dengan menghancurkan pertunangan kak Ravi." Ucap Ayu.
"Uda lah yu, ga usah merasa bersalah begitu, ini juga bukan sepenuhnya salah kamu." Vivi mengelus lengan Ayu menenangkan Ayu.
"Hmmm, bagaimana kalau kamu pindah saja dari rumah itu yu, lagian kalau kondisi nya sudah seperti ini percaya lah kamu tidak akan bisa sehangat dulu sama keluarga itu. Pasti bakal ada jarak, lagian mau sampai kapan kamu tinggal di sana yu." Sita memberikan saran kepada Ayu.
"Tapi aku mau tinggal di mana sit? Terus bagaimana pekerjaan dan kuliah ku?" Tanya Ayu yang memang merasa buntu.
"Iya kan kamu bisa kerja sambil kuliah, ya walaupun nanti gaji nya tidak akan sebesar gaji di keluarga Wijaya, tapi aku yakin kok banyak pekerjaan paruh waktu yang bisa kamu kerjakan Yu." Sambung Sita.
"Iya benar kata Sita, karena kini suasana beda kamu bakal kena mental di rumah itu. Belum tentu juga Tante sovi itu dan yang lain bisa seperti dulu kepada kamu." Timpal Vivi yang setuju dengan ucapan Sita.
"Orang seperti aku ini yang tidak punya keahlian apa-apa mau kerja di mana guys?" Tanya Ayu yang merasa dia tidak punya kemampuan apa-apa.
"Halo selamat sore Anak-anak." Tiba-tiba steven berdiri di sebelah meja mereka.
Ketiga nya pun Langsung serentak menoleh ke sumber suara.
"Lho pak Steven, kok bisa ada di sini?" Tanya Vivi sedikit gugup.
"Iya Vi, tadi ada urusan ke kampus jadi mampir sebentar ke cafe ini." Jawab Steven.
"Hah demi apa, pak Steven tau nama aku." Batin Vivi yang langsung syok dan rasanya ingin terbang ke udara saat dosen tampan di kampus nya tau nama nya tanpa berkenalan dulu.
"Silahkan duduk pak." Tawar sita saat melihat Steven masih berdiri.
"Terimakasih sita." Ucap Steven lagi sambil duduk di kursi sebelah Ayu.
"Apa, pak Steven tau nama ku, ahh kenapa romantis begini sih." Batin Sita yang tidak kalah bagai dengan Vivi.
Ayu yang masih merasa canggung membuang muka saat Steven memandang nya.
"Maaf kalau saya ikut campur, kebetulan tadi saya tidak sengaja dengar katanya Ayu mau cari kerja sampingan ya?" Lanjut Steven.
"Hehehe iya pak." Jawab Vivi dan sita serentak sambil cengengesan.
"Nahh kebetulan sekali, cafe punya saya dan kakak saya lagi butuh seorang waitress." Sambung nya lagi.
"Wahh benar kah pak, tapi kan Amora harus kuliah pak." Timpal Vivi.
"Kalau masalah itu kalian tenang saja, Ayu bisa bekerja paruh waktu dari jam 6 sore sampai jam 11 malam. Saya rasa jam 6 sore tidak ada kuliah lagi ya, jadi tidak menganggu proses perkuliahan nya Ayu." Ucap Steven.
__ADS_1
"Bagaimana yu, itu tuh udah pekerjaan bagus paling bagus tau." Kini sita menatap Ayu dan minta jawaban Ayu.
Karna ini demi kepentingan Ayu, dan pak Steven pun sudah berniat baik untuk menolong dia sehingga Ayu menoleh ke Steven dan mencoba memperjelas penawaran Steven ini.
"Lokasi nya di mana pak?" Tanya Ayu.
"Ohh tidak jauh kok dari sini yu, kalau kamu pernah baca cafe toka-toka." Jawab Steven.
"Wahh itu punya bapak, itu mah dekat dari kos saya, jalan kaki juga sampai." Ucap Vivi.
Memang Steven sengaja membangun cafe di dekat kampus karena target nya para mahasiswa yang hobi nongkrong. Di datang ke cafe ini karena tidak sengaja melihat Ayu ke sini tadi. Dia penasaran kenapa Ayu datang ke cafe ini hari Minggu begini dengan wajah murung.
Steven yang baru keluar dari kampus mencoba mengikuti Ayu ke dalam. Mungkin karena terlalu serius mereka sampai tidak Sadar ada Steven yang duduk di sebelah mereka. Dan setelah mendengar kan obrolan mereka tiba-tiba ide ini muncul di otak Steven.
Dengan begini dia bisa tembak satu dapat dua, bisa lebih dekat dengan Ayu dan membantu Ayu.
"Udah yu, ambil Aja tawaran nya pak Steven, ini kesempatan emas. Untuk sementara waktu kamu bisa satu kos sama aku untuk menghemat biaya. Karna dari kos aku kamu bisa jalan kaki ke tempat kerja. Kalau ke kampus nanti kita bisa naik motor aku atau di jemput sama sita." Perintah Vivi.
"Iya bagaimana yu? Jangan sampai posisi ini keburu di isi orang." Steven mulai mendesak Ayu.
"Iya pak saya mau," jawab Ayu dengan mantap setelah beberapa menit bergelut dengan pikirannya.
"Yaudah besok sepulang kuliah bapak tunggu ya di sana. Jangan lupa bawa berkas pendukung nya." Ucap Steven yang sok cool padahal dia sangat bahagia.
"Baik pak, terimakasih banyak ya pak." Jawab Ayu.
"Sama-sama yu, yasudah kalian lanjut saja dulu ngobrol nya. Saya mau ke kampus lagi masih ada urusan." Pamit Steven.
"Iya pak, terimay banyak ya pak, hati-hati di jalan." Jawab sita dan Vivi bersamaan saat Steven beranjak dari duduk nya dan pergi.
"Wahh selamat ya yu, memang Tuhan selalu buka jalan, ibarat kata pepatah pasti ada pelangi sehabis hujan." Ucap Vivi.
"Widih tumben bijak Vi." Goda Sita.
"Dari dulu kali Wee." Jawab Vivi tidak mau kalah.
" Heheheh iya makasih banyak ya guys, sayang kalian banyak-banyak deh." Jawab Ayu sambil tersenyum haru.
"Sayang kamu juga " jawab mereka yang langsung berpelukan bertiga.
Mereka pun tertawa bersama, lalu menikmati pesanan mereka. Setelah nya mereka pun mengobrol ringan dan tak terasa sudah sore. Mereka pun akhirnya berpisah dan pulang ke rumah masing-masing.
__ADS_1
Sementara di mobil Ayu mulai merangkai kata untuk pamit pindah dari rumah keluarga Wijaya.
"Ya Allah, semoga ini keputusan terbaik berikan hamba kebijakan dari padamu untuk menentukan arah ya Allah." Batin Ayu.