
"Mas sebenarnya aku mau jujur satu hal sama kamu." Ucap amora saat mereka sudah berada di dalam kamar.
"Mau jujur tentang apa sayang?" Tanya Miko sambil mengelus rambut istrinya itu.
"Tapi janji ya jangan marah." Pinta Amora.
"Iya sayang janji, lagian mana bisa sih mas marah sama istri cantik mas ini." Jawab Miko sambil mencubit gemas pipi istri nya itu.
"Sebenarnya kemaren saat aku shopping sama pak Rudi aku bertemu dengan seorang perempuan bernama ayu "lalu Amora menjelaskan semua yang terjadi saat bertemu ayu dan keberadaan ayu sekarang."
"Kenapa kamu menutupi hal seperti ini dari mas sayang? Bagaimana kalau wanita yang bernama ayu itu punya niat jahat untuk kamu hah?" Cerca Miko yang langsung cemas.
"Kan kan tadi udah janji lho ga marah."
"Mas bukan marah sayang, mas hanya khawatir saja." Jawab Miko.
"Percaya sama aku mas, ayu itu orang baik aku melihat ketulusan di mata nya. Nanti deh kamu ketemu orang nya." Amora mencoba meyakinkan suami nya itu.
"Iya iya sayang mas percaya, lalu sekarang kamu mau bagaimana? Apa kamu akan terus membiarkan ayu tinggal di apartemen mu sayang?" Tanya Miko saat mendengarkan semua penjelasan istrinya itu.
"Nah itu mas masalahnya,kasihan juga ayu tinggal di sana sendiri an." Jawab Amora.
"Lalu bagaimana rencana kamu selanjutnya?"
"Aku mau nanya mas di kantor ada ga kerjaan buat ayu ya kerja apa aja deh mas seperti nya dia orang baik." Tanya Amora.
"Di kantor ada sih sayang, tapi menurut mas lebih baik dia bekerja di rumah ini saja lumayan bantu-bantu kamu dan mama apalagi kamu lagi hamil begini kan. Mama juga sering pergi-pergi biar kamu ada teman nya juga di rumah atau kalau mau pergi kemana-mana. Masalahnya sekarang kamu yakin sayang dia orang baik? Takutnya ada niat terselubung di balik kepolosan nya." Jelas Miko panjang lebar.
"Wahh ide bagus itu mas, tapi percayalah mas Filing aku dia orang baik mas, tapi untuk masalah ini kita tanya mama dan papa dulu mas manatau mereka tidak setuju."
"Iya sayang benar kata kamu, yasudah nanti saja saat makan malam kita bahas ini ke mama dan papa setuju atau tidak nya mereka besok pagi kita temui ayu." Ucap Miko.
"Terimakasih ya mas sudah selalu berpihak sama aku dan selalu percaya sama aku walaupun tidak ada satu orang pun di dunia ini lagi yang mempercayai kata-kata ku." Ucap Amora sambil memeluk Miko.
"Iya sayang ku, itu memang sudah kewajiban mas sebagai suami kok, tapi ehemm...ehemm kamu boleh membayarnya dengan..." Belum selesai Miko bicara Langsung di potong oleh Amora.
"Kan kan dasar kamu ya mas, sudah yok mas mandi ini sudah sore." Ajak Amora yang melepaskan pelukannya lalu bangkit dari duduk nya kemudian mengambil handuk mereka berdua.
"Ya kan namanya juga usaha sayang syukur-syukur di kasih hehehhe." Jawab Miko cengengesan.
"Nih handuk kamu." Amora melemparkan handuk Miko ke wajah nya lalu berjalan menuju kamar mandi dan kemudian di ikuti oleh Miko dari belakang.
Akhirnya pasutri itu pun mandi sore bersama seperti biasa, hal itu sudah menjadi rutinitas mereka.
.
.
.
Sementara di kantor pasangan yang baru saja sah berpacaran bersiap-siap pulang kantor karena sudah sore dan pekerjaan juga sudah selesai.
"Ehemm...pak kalau di luar kantor boleh ga saya panggil bapak dengan sebutan sayang?" Tanya Kanaya yang memulai pembicaraan di antara mereka.
"Hah... Sayang.. boleh kok." Jawab Ravi gugup.
"Iya sayang, tapi kamu juga harus panggil aku sayang ya jangan cuman aku doang." Pinta Kanaya yang langsung merangkul lengan Ravi sambil tersenyum manis.
"I...iya Kanaya tapi ini masih di kantor." Jelas Ravi yang sedikit gugup dengan semua ini.
__ADS_1
"Tapi kan jam kerja sudah habis, sekarang kamu bukan atasan aku tapi pacar aku." Jelas Kanaya.
"Iya tapi jangan di sini Kanaya, tidak enak kalau ada karyawan atau siapapun yang melihat kita seperti ini terlebih lagi ruangan ini di pasang cctv." Jelas Ravi yang mencoba Coll padahal jantung nya rasanya sudah hampir copot.
"Hmm yaudah deh, demi profesionalitas tapi balik dari kantor kita ke rumah bapak ya aku mau ketemu Tante sovi aku Rindu." Pinta Kanaya yang langsung melepas pelukannya.
"Tapi Kanaya..."
"Tidak ada tapi-tapian, kalau tidak mau cukup tau aja berarti bapak tidak sayang sama saya dan saya bisa kok datang sendiri." Potong Kanaya.
"Hmmm yasudah iya iya." Jawab Ravi mengalah.
"Hahaha rasain kamu Ravi biasanya kan kamu yang ngatur-ngatur aku sekarang kamu harus tau bagaimana rasanya suka duka nya pacaran." Batin Kanaya tersenyum bahagia.
Mereka berdua pun keluar dari ruangan itu dan kemudian ke lift dan sampai ke lantai dasar. Memang semenjak Ravi mengaku bahwa Kanaya adalah pacara nya kepada mama nya Kanaya mereka memang pulang pergi ke kantor selalu bersama.
Sesampainya di parkiran mereka berdua pun masuk ke dalam mobil ravi. Mobil pun melaju meninggalkan kantor itu. Di perjalanan Kanaya mulai mengoceh tentang banyak hal, namun Ravi jadi kebanyakan diam dia merasa agak aneh sekarang dan rada tidak percaya bahwa kini Kanaya adalah pacarnya.
"Sayang kamu dengar aku cerita ga sih?" Tanya Kanaya saat menyadari Ravi tidak fokus mendengar kan ceritanya.
"Kenapa Kanaya...maaf maaf." Ucap Ravi yang baru tersadar dari lamunannya.
"Kamu melamun? Kamu lagi nyetir lho sayang bagaimana kalau kita kecelakaan, dan kamu memanggil ku Kanaya? Kan tadi kita sudah deal panggilan kita sayang kalau di luar kantor ihh kamu." Ucap Kanaya sebal.
"Iya sayang, maaf." Dengan berat hati terpaksa Ravi mengeluarkan kata-kata itu daripada dia mendengar kan ocehan Kanaya yang panjang kali lebar.
"Kok bilang sayang nya kek ga ikhlas begitu sih?" Kini wajah Kanaya semakin cemberut.
"Maaf, aku masih merasa canggung memang nya kamu tidak canggung ya biasanya panggil pak sekalinya panggil sayang?" Tanya Ravi lagi.
"Lho ngapain canggung, kan kamu pacar aku Ravi sayang, wajar sih kamu canggung kan ini pertama kalinya buat kamu semangat sayang nanti lama kelamaan juga biasa kok." Ucap Kanaya tersenyum menyemangati Ravi.
"Ehh sayang nanti kita berhenti di toko roti yang di depan ya." Ucap Kanaya sambil menunjuk sebuah toko roti.
"Mau ngapain?" Tanya Ravi.
"Mau beli oleh-oleh buat calon mertua." Ucap Kanaya sambil cengengesan.
"Baru pacaran sehari, udah bilang calon mertua aja nih si Kanaya." Batin Ravi yang memang tetap menuruti kata-kata Kanaya.
Akhirnya setelah mobil parkir di depan toko roti itu, Kanaya pun membuka seat belt.
"Kamu tunggu di sini saja ya sayang, aku mau beli oleh-oleh dulu buat camer dan calon kakak ipar aku." Pamit Kanaya sambil mengecup pipi Ravi.
Ravi hanya mengaga tidak percaya.
"Hahaha nikmati semuanya sayang ku, kau akan mendapatkan lebih banyak lagi setelah ini." Ucap Kanaya sambil tersenyum dan meninggal kan Ravi di mobil sendiri.
"Sebagai pacar yang baik, aku memang harus membimbing pacar ku agar lebih pro berpacaran." Batin Kanaya sambil tersenyum dan melengok masuk ke dalam toko roti itu.
"Apa katanya, lebih banyak lagi setelah ini? Dia mau ngapain lagi setelah ini?" Batin Ravi yang masih mengumpulkan kesadaran nya.
Beberapa menit kemudian Kanaya pun keluar dari toko roti itu sambil membawa tentengan, lalu dia masuk ke dalam mobil.
"Sudah yuk sayang." Ajak Kanaya.
"Maksud nya apa tadi? Akan lebih banyak lagi setelah tadi?" Tanya Ravi memperjelas kata-kata Kanaya.
"Sudah lah nanti kau juga akan tau sendiri kok." Jawab Kanaya enteng.
__ADS_1
"Ini benar-benar dunia sudah terbalik deh sepertinya, jika biasanya dimana-mana laki-laki yang agresif ini kenapa hubungan ku berbeda kenapa pacar ku yang begitu agresif? Ya Tuhan lindungilah hamba mu ini dari serangan fajar." Batin Ravi.
"Heh pasti lagi mikirin yang jelek-jelek tentang aku kan?" Ucap Kanaya yang menepuk pundak Ravi dan menatap nya dalam-dalam.
"Ihh mana ada, suudzon aja." Elak Ravi.
"Ini filing sayang, dan aku yakin filing aku ga pernah salah." Kini Kanaya sok dramatis.
"Filing?" Ravi mengulang kata-kata Kanaya.
"Hmmm, dulu aja saat pertama kita ketemu entah kenapa aku filing kalau kita bakal berjodoh dan benar saja kita sekarang pacaran kan." Jelas Kanaya dengan bangga.
Ravi hanya manggut-manggut karena malas berdebat dengan Kanaya.
"Pasti kamu tidak percaya kan?" Tanya Kanaya.
"Percaya kok."
"Ekspresi wajah kamu menunjukkan kalau kamu sedang berbohong Sayang."
"Sudah sudah ayo turun kita sudah sampai." Ajak Ravi yang memang tanpa terasa mobil sudah sampai di halaman rumah keluarga Wijaya.
"Hmm cepat juga ya sampai nya." Ucap Kanaya yang melepaskan seat belt nya
Kemudian turun dari mobil tak lupa membawakan oleh-oleh nya.
Dia berjalan melenggang seakan dia adalah penghuni rumah itu.
"Lho ada tamu." Ucap sovi yang memang sedang ingin ke luar dan melihat Kanaya yang sudah berada di depan pintu dan ingin memberikan salam.
"Selamat malam Tante, iya Tan Kanaya rindu sama Tante jadi tadi minta ikut sama pak Ravi."jelas Kanaya sambil menyalim sovi.
"Sama sayang, Tante juga rindu Kanaya." Ucap sovi yang memeluk Kanaya sambil cipika cipiki.
"Udah yuk masuk." Ajak sovi
"Iya Tan hehehe." Kanaya pun ikut masuk bersama sovi.
"Ohh ini Tan Kanaya ada bawa kue untuk Tante dan semua nya." Ucap kanaya sambil menyerahkan paper bag nya.
"Wahh tidak perlu repot-repot Kanaya, kamu main ke rumah ini saja bagi Tante sudah lebih dari cukup kok sayang."ucap sovi sambil menerima paper bag dari Kanaya.
"Tidak apa-apa Tan kan untuk camer." Jawab Kanaya sambil cengengesan.
"Kamu ngomong apa tadi Kanaya?" Tanya sovi yang memang mendengar samar-samar kata-kata Kanaya.
"Ehh keceplosan, hehehe engga kok Tan, kak Amora mana?" Tanya Kanaya mengalihkan pembicaraan.
"Ohh Amora sama Miko masih di kamar mereka mungkin sebentar lagi juga turun." Jelas sovi.
Sementara Ravi yang baru saja memarkirkan mobil berjalan masuk ke rumah menuju kamar nya.
"Ma." Ucap Ravi sambil menyalim mama nya itu.
"Ravi mandi dulu ya ma." Pamit Ravi.
"Iya nak, mandi yang bersih ya." Ucap sovi.
Ravi pun berjalan menuju kamar nya dan kemudian mandi, sementara Kanaya dan sovi mulai mengobrol banyak hal di ruang tamu.
__ADS_1