Partner Diatas Ranjang

Partner Diatas Ranjang
Gagal


__ADS_3

"Mau makan siang bareng?" Tanya Kanaya saat jam makan siang tiba.


"Hah... Tidak duluan saja, saya masih banyak kerjaan." Jawab Ravi yang langsung sok fokus ke dokumen yang ada di tangan nya.


"Kalau pak Ravi memiliki banyak pekerjaan bisa di bagi ke saya pak. Jangan mempersulit diri sendiri." Tawar Kanaya sambil berjalan menuju meja Ravi.


"Tidak Kanaya, kamu makan siang duluan saja." Ravi memalingkan wajahnya saat tatapan mata mereka bertemu.


"Ohh tentu tidak bisa pak, kalau atasan saya saja belum makan siang maka saya juga tidak boleh makan siang. Justru karena itu saya mau membantu pekerjaan bapak agar cepat selesai dan kita makan siang bareng." Jawab Kanaya.


"Tapi saya memberi kamu izin untuk makan siang Kanaya pergi lah."


"Saya akan pergi jika pak Ravi juga ikut ke bawah."


"Saya puasa." Jawab Ravi asal.


"Hmm baiklah kalau begitu saya juga akan ikut puasa pak."


"Terserah kamu!" Ravi benar-benar tidak habis pikir kenapa Kanaya bisa berubah drastis hari ini.


"Kanaya saya tidak tau ya kamu salah makan apa tadi, atau mungkin otak kamu kebentur kali ya tadi pagi. Sehingga aneh begini. Mana muka kamu tebal banget lagi super percaya diri padahal kamu sudah melakukan hal mesum tadi pagi." Ucap Ravi tidak dapat lagi mengontrol kata-katanya.


"Deg.. kata-kata Ravi menusuk di hati Kanaya namun seakan tidak habis akal Kanaya masih bisa bersikap santai sambil tersenyum.


"Ohh jadi pak Ravi tidak nyaman dengan sikap saya? Dan iya pak saya kan cantik, baik, tidak sombong, pintar, Suka menabung, dan pintar nyebrang jadi wajar dong saya percaya diri. Hmm satu lagi muka saya agak ketebalan ya pak mungkin tadi saya kasih bedak kebanyakan deh besok saya bedakan sedikit aja deh pak." Jawab Kanaya sambil cengengesan.


"Kanaya kamu benar-benar sakit,kamu kemasukan roh percaya diri sampai se PD ini." Ucap Ravi nyaris tidak percaya dengan Kanaya.


"Bapak mau Kemana?" Tanya Kanaya saat Ravi berdiri dari duduknya dan segera berjalan menuju pintu keluar.


"Mau makan."


"Lah katanya tadi puasa."


"Udah kamu batalin sejak pagi, karena first kiss sialan itu." Jawab Ravi yang membuka pintu.


"Ikut ..." Teriak Kanaya yang mengekori Ravi dari belakang.


Ravi pun hanya pasrah dengan kegilaan Kanaya hari ini. Mereka berdua pun masuk ke dalam lift menuju lantai dasar.


"Gila sih ide nya si Kevin, nyuruh ngelakuin ini semua awalnya aku risih juga dengan ke over percaya diri an ini. Namun lama-kelamaan enak juga ya ngerjain pak Ravi begini." Batin Kanaya sambil tersenyum kecil sambil menatap Ravi yang berdiri sok cool.


Memang tadi malam Kanaya sempat cerita ke sahabat nya Kevin soal Ravi. Kevin pun menyarankan semua yang Kanaya lakukan hari ini agar dapat mengetahui perasaan Ravi kepada Kanaya. Awalnya Kanaya menolak namun setelah di beri penjelasan oleh Kevin akhirnya Kanaya pun setuju melakukan semua saran Kevin. Namun tanpa di sadari Kanaya akhirnya menikmati permainan nya sendiri.


"Kamu mau jadi penunggu lift?" Suara Ravi menyadarkan Kanaya dari lamunan nya.


"Hah kenapa pak?" Tanya Kanaya.


"Ayo keluar, ini sudah di lantai dasar, kamu lagi ngelamunin apa, pasti yang mesum-mesum kan?" Cerca Ravi sambil menahan pintu lift dengan kaki nya.


"Idih suudzon aja jadi orang." Jawab Kanaya yang keluar dari lift.


Mereka berdua pun menuju kantin kantor dan makan siang bersama. Sedangkan beberapa karyawan kantor mulai menggosipi mereka.


Setelah selesai makan siang kedua nya yang lagi malas berdebat pun langsung ke lift dan menuju ruangan mereka.


Sesampainya di ruangan Kanaya yang merasa kenyang hanya duduk di kursi kerja nya dan mulai menyibukkan diri dengan tugas-tugas nya. Sementara Ravi hanya ikut mood Kanaya saja.


.


.


.


waktu pun terus berlalu tidak terasa kini sudah sore, Miko yang sudah menyelesaikan semua pekerjaan nya langsung bergegas keluar dari ruangan nya dan turun ke bawah, dia benar-benar tidak sabar ingin bertemu istrinya untuk menagih jatah nya.


Sesampainya di bawah Miko dan pak Paijo langsung masuk ke dalam mobil dan mobil pun melaju menuju rumah. Sementara Kanaya dan Ravi harus sedikit lembur karena drama mereka tadi pagi jadi mau tidak mau waktu mereka banyak tersita.


Sesampainya di rumah Miko Langsung turun dari mobil dan bergegas memasuki rumah nya. Menaiki tangga menuju kamar nya.


"Cklek..." Miko membuka pintu kamar dan nampak lah Amora yang baru saja selesai mandi dan keramas sedang menyisir rambut nya di depan cermin.

__ADS_1


"Ehh kamu sudah pulang mas?" Ucap Amora yang langsung bergegas menghampiri suaminya itu dan menyalim nya.


"Iya sayang, kenapa sih istri mas ini makin hari makin cantik saja. Mana wangi banget lagi mas jadi ga sabar nih." Ucap Miko sambil memainkan mata genit nya.


"Dasar mesum, ihh sana mandi dulu mas kamu bau keringat tau." Olok Amora.


"Iya iya sayang, tapi sehabis mandi jatah ya." Ucap Miko yang membuka jas nya sambil cengengesan.


"Hmmm jatah aja langsung cepat kamu mas mas."


"Ehh ingat sayang dosa lho menolak suami."


"Iya iya sudah sana mas mandi dulu, ini sudah sore bahkan sudah hampir malam. Aku siapkan baju dulu ya."


"Okay sayang ku." Ucap Miko sambil mengecup kening Amora kembali.


"Sayang Mandiin dong" ucap Miko memasang wajah sok manjanya di depan kamar mandi.


"Dasar mesum,Sudah sana mandi." Ucap Amora sambil melempar bantal ke suaminya itu.


"Mesum sama istri sendiri ga apa-apa kali weee." Ledek Miko.


"Ohh kamu mau ga aku kasih jatah mas?" Ancam Amora.


"Ehh iya iya sayang, aku mandi sekarang." Jawab Miko yang langsung takut.


Miko pun langsung masuk ke kamar mandi sementara Amora hanya tersenyum sambil mempersiapkan baju untuk Miko.


.


.


.


Hari sudah mulai gelap sedangkan pekerjaan Ravi dan Kanaya baru saja selesai. Mereka pun mencoba meregangkan otot-otot masing-masing karena merasa lelah bekerja hampir separuh hari.


" Ehh pak mau kemana?" Tanya Kanaya saat Ravi berdiri dari duduknya dan menenteng jas nya.


"Mau pulang lah " jawab Ravi ketus.


"Ya kamu juga boleh balik sekarang, kan semua pekerjaan sudah selesai." Jawab Ravi dengan polosnya.


"Lah bapak bagaimana sih? Kan tadi ke kantor bareng bapak masa saya balik nya sendiri? Apa kata mama saya coba?" Tanya Kanaya.


"Aduhh oh iya maaf Kanaya saya lupa." Jawab Ravi sambil menepuk jidatnya.


"Hmmm belum tua saja sudah pelupa bagemana kalau udah tua beneran ya bisa-bisa dia amnesia." Guman Kanaya.


"Saya tauy kamu sedang ngatain saya kan, dasar kang gibah. Sudah kamu mau saya antar pulang tidak? Sudah nebeng malah dia yang di tungguin." Tegas Ravi dengan tatapan kesal kepada Kanaya.


"Ohh iya iya pak." Jawab Kanaya membereskan barang-barang nya.


Mereka berdua pun keluar dari ruangan itu,lalu masuk ke dalam lift dan menuju parkiran.


Sesampainya di parkiran mereka berdua pun masuk ke dalam mobil dan mobil pun melaju meninggalkan kantor.


"Pak saya tidak usah di antar ke rumah ya saya mau main ke rumah bapak dulu." Pinta Kanaya membuka obrolan di antara mereka.


"Lho kenapa Kanaya? Lagian kamu mau main apa di rumah saya, mama juga lagi di luar negeri kok." Tanya Ravi yang masih fokus menyetir.


"Siapa bilang aku mau ketemu Tante sovi orang aku mau ketemu kak Amora kok." Jawab Kanaya.


"Lho ngapain kamu mau ketemu kak Amora, memang nya kalian kenal?" Tanya Ravi yang semakin kebingungan.


"Kenal sih iya tapi ga dekat makanya aku mau ketemu dia aku mau semakin dekat sama dia." Jawab Amora cengengesan.


"Ahh tidak-tidak aku akan mengantarmu pulang." Tolak Ravi.


"Yah pak, hanya sebentar saja sembari menunggu mama pulang, mama sedang arisan di rumah teman nya sedangkan papa masih dinas di luar kota. Aku tidak berani di Rumah sendirian. Bapak tega kalau terjadi sesuatu pada saya dan bapak mau tanggung jawab hah?" Cerca Kanaya.


"Lho kok jadi saya?"

__ADS_1


"Iya iya lah, kan tadi yang jemput saya ke rumah pak Ravi, maka setau mama yang antar saya sampai selamat ke rumah juga pak Ravi. Lagian kan setau mama kita pacaran kalau terjadi apa-apa kepada saya nantinya mama pasti akan menuntut pak Ravi." Kanaya semakin memperdalam alasan nya.


"Yaudah deh iya iya, tapi nanti yang antar kamu pulang pak Paijo ya saya Malas nyetir malam-malam." Akhirnya Ravi mengalah.


"Santai pak kalau masalah itu biar mama yang jemput aku ke rumah bapak nantinya setelah pulang arisan." Jawab Kanaya cengengesan.


"Yasudah terserah kamu saja." Jawab Ravi pasrah.


"Hmm aku harus mendekati kak Amora dan mengorek semua informasi tentang pernikahan nya dengan kak Miko. Entah kenapa aku merasa pernikahan mereka masih terasa janggal." Batin Kanaya sambil tersenyum.


.


.


.


sementara di rumah keluarga Wijaya Miko yang baru saja selesai mandi dan keluar dwir kamar mandi yang melihat istrinya sedang asyik bermain ponsel sambil senderan di ranjang langsung mendekati Amora.


Miko langsung menarik kaki Amora sehingga Amora jadi terlentang di atas ranjang.


"Mas apaan sih?" Tanya Amora kaget.


Tanpa banyak kata Miko langsung menaiki ranjang dan kini Amora berada di bawah Kungkungan Miko.


"Mas badan kamu aja masih basah lho." Ucap Amora mengingat kan suaminya itu.


"Sudah lah sayang mas sudah menunggu momen Ini sedari tadi siang." Ucap Miko sambil melepaskan handuk yang melilit di pinggang nya.


Setelah nya Miko dengan hoby nya merobek daster milik istrinya itu dengan sekali tarik daster tipis itu sudah terbagi dua.


"Mas lama-lama habis daster ku kalau begini terus." Protes Amora.


Namun bukan nya menjawab pertanyaan Amora Miko langsung menghajar bibir mungil Amora dengan cuman panas nya. Amora saja sedikit kaget dengan suaminya itu namun akhirnya Amora dapat mengimbangi nya. Permainan pun terus berlanjut kini tangan keduanya sudah mulai ikut bekerja menjelajahi satu sama lain untuk memberikan kenikmatan untuk satu sama lain.


"Sayang, berikan suami mu kepuasan yang lebih malam ini." Ucap Miko yang sudah tidak sabar menikmati tubuh Amora.


"Iya mas, mari kita capai puncak kenikmatan kita bersama." Jawab Amora setelah beberapa menit dan mereka siap melakukan penyatuan.


"Tok..tok.." kak Amora ada Kanaya dia bawah katanya mau ketemu sama kakak." Tiba-tiba Ravi mengetuk pintu kamar sambil sedikit Teriak Ravi dari balik pintu kamar.


"Sialan si Ravi, arghhh,." Umpat Miko kesal karena Ravi telah menggalakkan ritual nya dengan Amora.


Sementara Amora yang juga merasa kaget dan kentang sama kecewanya dengan Miko.


"Ravi, apa kau tidak tahu waktu yang tepat hah?" Tanya Miko saat pintu kamar sudah di buka karena sedari tadi Ravi terus mengetuk pintu dan berteriak.


"Kak, Ada Kanaya di bawah katanya kamu ketemu kak Amora. Aku juga mau mandi tidak mungkin membiarkan dia sendiri di bawah kan. Dan kenapa kakak terlihat kesal dan kenapa masih memakai handuk dan tidak berpakaian?" Tanya Ravi saat melihat Miko hanya menggunakan handuk di pinggang nya.


"Kakak kesal karena kamu Ravi, mau kakak cincang rasanya kamu, dan ini Bukan urusan kamu!." Ucap Miko yang langsung mengepalkan telapak tangan nya menahan amarah kepada Ravi.


" Ya maaf kak, tapi kan aku ga salah." Jawab Ravi polos.


"Kamu salah, salah besar dan lagian ngapain kamu bawa Kanaya ke rumah ini hah?" Ucap Miko yang masih menahan kesal nya.


"Panjang kak ceritanya, sudah sekarang kak Amora nya mana? Kanaya mau ketemu sama dia. Nanti si Kanaya ngadu lho ke mama." Jelas Ravi.


"Aduh iya iya, sudah nanti Amora turun." Jawab Miko yang malas berdebat karena sedari tadi Ravi seakan ingin tau apa yang terjadi di dalam kamar mereka.


"Okay kak jangan lama-lama ya, kasihan Kanaya." Ucap Ravi lagi.


" Iya terus Kamu masih ngapain di sini? Sana turun." Perintah Miko saat Ravi masih berdiri di depan kamar Miko dan seakan terus menatap ke dalam kamar.


"Iya kak,." Jawab Ravi yang langsung turun ke bawah.


"Sialan si Ravi,karna dia hancur semuanya, khayalan ku sederi siang di hancurkan oleh anak sialan itu." Gerut Miko kesal setelah dia menutup pintu kamar.


"Sudah lah mas, nanti malam kan bisa di lanjut, aku ke bawah dulu ya ketemu Kanaya. Kamu juga kalau sudah selesai berpakaian turun lah ke bawah kita makan malam." Ucap Amora yang sudah selesai berpakaian dan bersiap untuk turun menemui Kanaya.


"Terus si Joni bagaimana dong sayang, mas masih kepingin nih." Rengek Miko sambil memasang wajah memelas.


"Nanti aja lho sayang, tahan dulu ya." Ucap Amora yang berjalan meninggalkan suaminya itu.

__ADS_1


"Tapi nanti kamu harus bayar tiga kali lipat ya sayang, pokoknya pantang berhenti sebelum puas, dan jangan harap bisa lepas lagi dari malam ini sayang ku." Ucap Miko saat Amora membuka pintu kamar.


"Okaya sayang." Amora mengancungkan jempol nya.


__ADS_2