Partner Diatas Ranjang

Partner Diatas Ranjang
Mau jadi pacar pura-pura


__ADS_3

"Apa itu tadi, kenapa jantung ku berdegup cukup kencang saat Kanaya mengajak ku berpacaran pura-pura. Ahh hayo Ravi ada apa dengan kamu jangan bilang kamu baper dan mulai memiliki perasaan kepada Kanaya, tapi masa sih se cepat ini." Batin Ravi yang baru saja masuk ke dalam lift karena merasa jantung nya tidak kuat saat Kanaya mengajak nya berpacaran pura-pura.


"Ahhh sadar Ravi, Kanaya hanya memanfaatkan mu untuk menghindari keserakahan mama nya, kenapa kamu harus baper sih ah.pokonya kamu harus teguh pada pendirian kamu Ravi jangan lemah karena di ajak pacaran sama Kanaya." Ocehnya kepada dirinya sendiri.


"Tapi tunggu dulu, ada ya mama seperti Tante Mesya tega menyuruh putri nya jadi pelakor. Hmmm aku memang tidak menyukai Tante Mesya sejak dulu. Tapi rumah tangga siapa ya yang ingin di rusak Kanaya." Tanya nya kepada dirinya sendiri.


"Ahh bodo amat deh, aku mau makan siang dulu lah." Ucapnya sambil keluar dari lift karena sekarang dia sudah berada di lantai dasar.


.


.


.


"Ahhh kenapa aku merasa malu ya dengan pemikiran dan tingkah konyol ku tadi, menyesal aku meminta tolong kepada kak Ravi, mana di tolak lagi ahhh Kanaya sekarang kamu tidak ada harganya lagi di mata nya kak Ravi." Oceh Kanaya sambil merobek kertas yang ada di tangan nya karena dia merasa malu dan kesal.


"Bagaimana aku bisa bertatapan dengan kak Ravi nanti nya, ahh mau di taruh di mana wajah cantik paripurna ku ini." Sambung Kanaya sambil memegangi pipi memerah nya.


"Tapi masa sih firasat ku salah, kenapa kemaren pas dinner di rumah nya aku merasa dari tatapan kak Ravi memiliki perasaan kepada aku ya, tapi tadi aku di tolak, picek kali mata nya ya sampai ga bisa melihat kecantikan ku yang paripurna juga."


"Ahhh Kanaya kenapa otak kecil mu ini bisa memikirkan ide konyol begini sih, ini namanya kamu membuka aib sendiri dan mempermalukan diri sendiri oon." Teriak Kanaya sambil mengacak rambut nya frustasi.


"Tring.... tring..." Tiba-tiba ponsel Kanya berdering di dalam tas nya.


"Ahh siap sih yang nelpon ganggu aja deh siang-siang begini, ga tau apa orang lagi kesal." Gerutuk nya sambil mengambil ponsel nya dari tas nya.


"Hah...ngapain pak Ravi nelpon aku sih." Teriak nya sambil membulat kan matanya.


"Ha...halo pak." Ucap Kanaya dengan nada gugup setelah dia mengusap tombol hijau pada ponsel nya.


"Kamu dimana Kanaya?"


"Masih di ruangan pak."

__ADS_1


"Apa kamu tidak makan siang? Sebentar lagi jam istirahat habis lho."


"Apa ini, kenapa dia sok perhatian kepada ku dasar manusia aneh sudah menolak ku mentah-mentah sekarang sok peduli kepada ku." Batin Kanaya.


"Hey Kanaya kamu masih di sana?"


"Ehh iya pak, saya lagi tidak mood makan siang pak."


"Lho kok begitu kalau sampai kamu nanti sakit bagaimana?"


"Apa urusan nya sama bapak kalau nanti saya sakit, memang nya bapak perduli?" Tanya kanaya dengan nada sedikit meninggi karena dia merasa kesal dengan Ravi yang sok perhatian tapi mengabaikan nya.


"Lho kok kamu marah Kanaya, kan saya hanya perduli karena kamu sekretaris saya. Kalau nanti kamu sampai sakit siapa yang akan mengerjakan pekerjaan kamu hah, saya tidak mau di repotkan dengan pekerjaan kamu yang tertunda karena kamu tidak masuk kantor.


"Ohh jadi di mata bapak saya hanya seorang sekretaris tidak lebih ya?" Tanya kanaya yang tidak dapat mengontrol kata-katanya lagi.


"Lalu? Kami berharap saya menganggap kamu apa Kanya?" Ravi balik bertanya.


"Ahh sudah lah pak, terserah deh saya mau lanjut bekerja lagi. Sudah ya saya tutup telepon nya."


"Ohh silahkan, atau perlu hari ini saya resign pak?"


"Ehh Kanaya saya hanya..."


"Hanya apa hanya bercanda atau bapak tidak nyaman bekerja dengan saya, baiklah pak hari ini juga saya membuat surat pengunduran diri. Saya tutup telepon nya assalamualaikum." Ucap Kanaya sambil menutup ponsel nya secara sepihak.


"Dia kira siapa dia hah? Berani sekali dia mengancam ku. Ingat ya sebelum aku di ganti aku bisa lebih dulu resign dari sini. Andai kau tau pak Ravi terhormat aku juga tidak suka bekerja di kantor ini, ini karena paksaan mama apalagi punya bos dingin seperti ciuhh menyebalkan." Oceh Kanaya membohongi dirinya sendiri.


.


.


.

__ADS_1


"Lho kenapa dia? Hanya perkara makan siang dia marah bahkan sampai ingin resign." Guman Ravi yang masih kaget dengan perlakuan Kanaya.


"Tapi tunggu dulu, apa aku salah ngomong tadi ya, atau ini semua karena masalah pacar pura-pura tadi? Aduh Ravi kenapa sih kamu selalu gengsian orang nya. Ingat kata Amora jangan sampai kamu kehilangan orangyang kamu sayang karena gengsi." Batin nya lagi setelah menyadari kesalahannya.


Ravi pun bangkit dari duduk nya dan memesan se porsi makanan untuk Kanaya dan minta tolong di antar ke ruangan nya pada penjaga kantin kantor. Sementara dirinya langsung ke lift dan menuju ruangan nya.


"Kanaya maafkan aku, aku terlalu pengecut untuk mengakui perasaan ku. Aku tidak masalah jika jadi pacar pura-pura mu dan selama itu juga aku akan membuat mu jatuh cinta kepada ku sehingga aku bisa menjadi pacar sungguhan mu." Batin nya.


Sesampainya di depan ruangan nya Ravi pun langsung bergegas keluar dari lift dan langsung masuk ke dalam ruangan, terlihat Kanaya sedang menyusun semua barang-barang nya.


"Kanaya maafin saya, saya tidak berniat mengatakan itu semua kepada kamu." Ucap Ravi yang spontan memeluk Kanaya.


"Hah pak.. kenapa?"


"Saya mau kok jadi pacar pura-pura kamu, dan saya tidak mau kalau sampai kamu resign dan di ganti orang lain saya sudah nyaman dengan kamu Kanaya. Jadi tolong jangan pernah pergi ya." Potong Ravi.


"Ini orang kesambet apa yak, cepat banget berubah nya kek bunglon." Batin Kanaya masih diam.


"Kanaya maafin saya ya." Ucap Ravi.


"Iya iya pak, ngapain bapak minta maaf bapak kan tidak salah. Tapi saya boleh minta tolong tidak pak?"


"Minta tolong apa Kanaya?"


"Boleh lepaskan pelukan nya saya sesak pak."


"Ohh iya iya maaf Kanaya." Ucap Ravi sambil melepaskan pelukan mereka.


"Kamu makan ya, saya sudah pesan kan makan siang untuk kamu, saya tidak mau kalau sampai kamu sakit kanaya."


"Iya pak."


"Yasudah Saya lanjut kerja dulu ya." Ucap Ravi gugup.

__ADS_1


"Ohh iya pak."


Akhirnya Ravi kembali ke meja nya karena merasa malu dan konyol dengan sikap nya barusan. Sementara Kanaya hanya tersenyum melihat ekspresi Ravi.


__ADS_2