
Sesampainya di super market Ravi langsung menarik troli belanjaan.
"Lho kok pake troli kak? Emang kita belanjaan nya banyak ya?" Tanya Ayu yang sedikit keheranan.
"Belum tau, kan belum belanja." Jawab Ravi.
Ravi pun berjalan masuk ke supermarket dan kemudian di ikuti oleh Ayu dari belakang. Mereka pun segera menuju tempat perlengkapan alat-alat mandi. Dan mulai membeli apa saja yang di butuhkan oleh Ravi.
"Ayu tidak ada yang mau di beli?" Tanya Ravi saat Ravi merasa semua kebutuhan nya sudah di beli.
"Tidak kak."jawab ayu tersenyum.
"Ayu bisa buat bolu tidak?" Tanya Ravi tiba-tiba.
"Bisa kak." Jawab ayu polos.
"Kita buat bolu yuk, sekalian belanja bahan-bahan nya sekarang." Ajak Ravi.
Tanpa menunggu jawaban dari Ayu Ravi langsung menarik tangan Ayu dan memuju tempat bahan-bahan membuat kue.
"Ayu ayo beli apa saja bahan-bahan yang di butuhkan membuat bolu." Titah Ravi.
"I...iya kak." Jawab ayu yang mulai mengambil telur, tepung, mentega dan lain sebagainya.
Ravi hanya tersenyum melihat ayu akhirnya sibuk dengan bahan-bahan di hadapan nya. Entah kenapa Ravi bahagia melakukan hal ini. Berbelanja bersama seperti pasangan suami istri. Ravi pun diam-diam mengambil foto ayu yang sedang sibuk memilih telur.
Setelah membeli bermacam-macam bahan masakan mereka pun ke kasir untuk membayar nya. Setelah selesai membayar belanjaan mereka berdua pun ke mobil dan ingin segera pulang.
"Ayu mau ice cream tidak?" Tanya Ravi saat semua barang belanjaan sudah di masukkan ke dalam mobil.
"Mau kak." Ayu antusias dengan bola mata berbinar.
Ravi pun membelikan dua ice cream untuk mereka berdua. Kemudian menikmati ice cream nya di dalam mobil yang masih berada di parkiran super market.
"Ayu kakak boleh cicip rasa ice cream punya ayu tidak?" Tanya Ravi sambil menatap ayu.
"Bo...boleh kak." Jawab ayu gugup sambil menyerahkan ice cream milik nya.
Ravi pun langsung mendekatkan bibir nya ke ice cream ayu lalu menjilat nya.
"Kak, kenapa tidak pegang ice cream nya aja?" Protes Ayu dengan tangan sedikit gemetar.
"Kakak lebih suka seperti ini yu." Jawab Ravi yang akhirnya menatap ayu lebih dalam kemudian mendekati wajah Ayu.
"Kak mau ngapain?" Tanya Ayu yang memundurkan kepalanya sampai mentok ke sandaran kursi mobil.
Tapi Ravi tidak menjawab nya dan terus mendekati wajah ayu, sampai wajah mereka hanya berjarak beberapa centimeter. Jantung ayu semakin tidak terkontrol akhirnya Ayu hanya memejamkan matanya dan menunggu dengan pasrah apapun yang akan Ravi lakukan kepada nya.
"Makan nya jangan belepotan begini dong ayu cantik." Ucap Ravi sambil ngelap ujung bibir ayu yang ketempelan ice cream Dengan ibu jarinya.
"Ha..." Ayu membuka matanya saat dia rasa deru nafas Ravi sudah menjauh. Seketika juga pipinya memerah karena merasa malu dengan pikirannya.
"Kenapa tutup mata yu?" Tanya Ravi saat dia sudah kembali ke posisinya.
"Ahh...anu kak, mata ayu tiba-tiba kelilipan iya kelilipan." Bohong Ayu.
"Ohh iya yang mana yang kelilipan, sini Kakak tiupin." Ravi refleks mendekati ayu lagi.
__ADS_1
"Udah kok kak udah." Ayu langsung gugup.
"Hahaha, Ayu ayu, katanya sudah pernah berpacaran. Masa karna begitu saja pipi mu langsung seperti kepiting rebus sih. Kamu pikir kakak mau cium kamu?, Makanya langsung spontan tutup mata?" Ledek Ravi.
"Bu..bukan kok kak, memang benar mata Ayu kelilipan." Ayu masih kekeh dengan kebohongan nya walaupun itu terlihat konyol.
"Cup..." Tiba-tiba Ravi mengecup pipi ayu." Ini deh kecupan biar kamu tidak kepunan." Ujar Ravi.
"Kak." Ayu tidak melanjutkan kata-katanya.
Dia benar-benar tidak tau manusia seperti apa Ravi. Bagaimana perasaan Ravi kepadanya. Dan apa artinya dia di mata Ravi. Namun satu yang pasti ayu sangat menikmati setiap waktu yang di lalui oleh mereka berdua.
"Kenapa yu? Tidak boleh ya? Maaf ya soalnya kamu gemes banget jadi kakak refleks deh." Jawab Ravi dengan santai.
Sementara Ayu, hanya diam jantung nya rasanya hampir copot.
"Apa kamu masih ingin ke sesuatu tempat, atau masih ada yang ingin di beli?" Tanya Ravi dengan santai.
"Ti....tidak kok kak, sudah semua nya." Jawab Ayu.
"Kalau begitu kita pulang nih?" Tanya Ravi.
"Iya kak, pulang saja." Jawab Ayu.
Ravi pun mulai menyetir mobil dan mobil pun melaju meninggalkan supermarket itu.
"Kak." Ayu mulai membuka percaya saat mereka sudah di perjalanan menuju ke rumah.
"Hmmm." Jawab Ravi yang masih fokus menyetir.
"Menurut kakak ayu ini apa sih?" Tanya Ayu yang merasa ini perlu.
"Iya, maaf ya kak, bukan nya ayu ke geer an
Ayu juga sadar diri kok ayu siapa dan kak Ravi siapa. Hanya saja ayu merasa kadang-kadang perlakuan kak Ravi kepada ayu melebihi hubungan antara majikan dan asisten rumah tangga." Jelas Ayu.
"Heh, siapa yang asisiten siapa yang majikan yu? Kamu itu bukan asisten rumah tangga, tapi kalau asisten hidup aku sih boleh-boleh aja." Ujar Ravi.
"Kak, ayu serius." Ujar Ayu dengan raut wajah serius.
"Memang kamu mau hubungan yang seperti apa yu?"kini Ravi balik bertanya.
"Ihh kak, kan ayu nanya malah di tanya balik." Protes Ayu.
"Huhhh..." Ravi membuang nafas nya berat.
"Yu, maaf ya kalau mungkin perlakuan kakak ke kamu selama kita kenal membuat kamu kurang nyaman. Tapi kakak jujur yu itu semua refleks. Kalau untuk apa posisi kamu di hidup kakak, kakak juga tidak bisa mendefinisikan nya. Yang pasti sekarang kamu adalah orang yang selalu hadir di pikiran kakak, kamu orang yang paling kakak rindukan saat kita berjauhan. Dan jika dekat kamu kakak merasa nyaman." Jelas Ravi.
"Kak apakah..."
"Kakak juga ga tau ini cinta atau apa namanya yu, tapi bisa kah kita jalanin saja dulu? Sampai kita benar-benar yakin bahwa kita sama-sama saling mencintai. Kakak juga mau kamu fokus dulu ke kuliah kamu agar kamu bisa meraih cita-cita dan mimpi kamu." Ravi memotong kata-kata Ayu.
"Hmmmm." Ayu membuang nafas nya kasar, entah lah apa yang dia rasakan saat ini. Di dadanya terasa sesak. Ingin rasanya dia menanyakan apakah Ravi mencintai nya namun Ravi sudah langsung mematahkan teori itu dengan menolak nya secara halus. Jika ingin pergi pun dia tidak bisa terlalu banyak hal yang perlu di pertimbangkan.
"Ayu baik-baik saja kan?" Tanya Ravi saat melihat Ayu memandang ke luar jendela.
"Iya kak, ayu ga apa-apa kok." Jawab Ayu.
__ADS_1
"Kak, Ayu boleh nanya satu hal?" Tanya ayu lagi.
"Boleh Ayu mau nanya apa?" Tanya Ravi.
"Kalau kakak lagi bersama kak Kanaya, apa rasanya sama dengan saat bersama Ayu?" Tanya Ayu yang spontan memikirkan pertanyaan itu di otak nya.
"Hmmmm."
"Tring...tring...tring..." Belum sempat Ravi menjawab pertanyaan Ayu ponsel Ravi sudah berdering.
"Sebentar ya yu, ada telepon dari Kanaya." Ucap Ravi sambil mengangkat panggilan itu.
Ayu hanya mengangguk, kemudian kembali menatap ke luar jendela mobil. Sembari mendengar Ravi berbucin Ria dengan Kanaya. Hati ayu terasa sakit.
"Barusan dia tanya apa? Apa aku baik-baik saja? Wanita mana yang baik-baik saja, saat di terbangkan ke langit kemudian di jatuh kan sejauh-jauhnya. Tadi katanya nyaman bersama ku, tapi dia menolak ku secara terang-terangan. Bahkan kini berbucin ria dengan pacar nya di depan ku." Batin Ayu.
"Yu sadar yu, kamu siapa dan kak Ravi siapa? Ingat tujuan kamu hanya ingin bekerja dan meraih cita-cita mu. Selebihnya lupakan dan jangan pernah berharap tentang apapun." Kini dia menguatkan dirinya sendiri. Namun tanpa sadar air matanya membasahi kedua pipinya.
Nangis tanpa suara membuat dada nya terasa sesak, semakin di pikirkan dan semakin dia mendengar kan pembicaraan Ravi semakin terasa sakit.
Ayu pun memalingkan wajah sambil menarik tissue yang ada di sebelah nya. Namun tiba-tiba tangan nya di tarik oleh Ravi. Di genggam nya sambil di cium oleh Ravi.
Tentu saja Ayu kaget, dan ayu pun akhirnya menatap Ravi dengan kedua pipi nya sudah basah.
Ravi yang masih fokus menyetir dan berbicara di telepon dengan Kanya akhirnya mengakhiri panggilan nya dengan Kanaya. Kemudian mengentikan mobil nya di pinggir jalan.
Tanpa banyak bicara Ravi langsung memeluk Ayu. Dan ayu pun menangis sejadi-jadinya di pelukan Ravi.
"Maafin kakak yu, maafin kakak, kakak tidak pernah berniat untuk menyakiti kamu apalagi sampai membuat mu menangis seperti ini." Ravi mengelus rambut Ayu dan mencium pucuk rambut nya.
"Tapi kenapa kak Ravi begitu jahat kepada Ayu? Kalau memang kak Ravi tidak menyukai Ayu kenapa kak Ravi seolah-olah menyukai ayu dan memberikan perhatian kepada ayu? Kenapa hah?" Ayu menangis sesenggukan di pelukan Ravi.
"Siapa bilang kakak tidak menyukai mu yu? Kakak menyukai mu, sangat menyukai mu." Ucap Ravi meyakinkan Ayu.
"Tapi kenapa kakak melakukan ini kepada Ayu? Apa karna kasta kita berbeda apa karena ayu tidak pantas untuk kakak?" Tanya Ayu lagi.
"Ayu jangan pernah berpikiran seperti itu. Kakak tidak pernah memikirkan kasta dan lain sebagainya." Jelas Ravi.
"Lalu kenapa kakak menolak ayu mentah-mentah?" Tanya Ayu lagi.
"Ayu ada satu hal yang belum bisa kakak cerita kan kepada kamu. Alasan kakak masih bertahan dengan Kanya sampai detik ini. Dan kakak tidak mau menyakiti kamu dan Kanaya. Tunggu waktu nya tiba ya kakak akan menyelesaikan semua nya dan mengungkapkan perasaan kakak kepada mu." Jelas Ravi.
"Jadi kakak pikir dengan begini kakak tidak menyakiti ayu?" Tanya ayu lagi.
"Kakak sadar sekarang pun sebenarnya kakak sudah menyakiti kamu. Tapi kakak tidak punya pilihan lain yu."jawab Ravi.
"Kak Ravi egois tau ga sih." Ayu melepaskan pelukan mereka.
"Maafin kakak yu, kasih kakak waktu sedikit lagi saja." Pinta Ravi dengan Tatapan benar-benar memelas.
"Sudah lah kak, kita pulang saja nanti di cariin sama yang lain. Lupakan masalah ini. atur saja bagaimana baik nya." Ucap Ayu sambil menyeka air matanya.
"Tapi yu."
"Kakak mau pulang atau Ayu turun dan pulang sendiri?" Ancam ayu.
"Yaudah iya iya kita pulang." Jawab Ravi.
__ADS_1
Mobil pun kembali melaju. Karena kebetulan tempat berhenti mereka tadi sudah tidak jauh lagi dari rumah. Jadi beberapa menit kemudian mereka sudah sampai di rumah. Tanpa banyak bicara ayu langsung turun dari mobil dan segera masuk ke dalam rumah tanpa memperdulikan Ravi. Karena rumah memang sudah sepi karena sudah larut malam akhirnya ayu Langsung masuk ke kamar nya dan menumpahkan kekesalan dan sakit hatinya dengan menangis sejadi-jadinya di kamar mandi kamar nya.
Sementara Ravi hanya bisa mengacak rambutnya frustasi karena tidak tahu harus berbuat apa. Dia pun akhirnya ikut masuk ke dalam rumah dan masuk ke kamar nya.