Partner Diatas Ranjang

Partner Diatas Ranjang
kedatangan Ana


__ADS_3

"Sayang apa benar yang tadi itu Tante kamu?" Tanya Miko saat mobil mereka sudah melaju menuju rumah.


"Iya mas, dia Tante mu adik kandung papa ku dan kerabat ku satu-satunya." Jelas Amora masih dengan wajah kesal nya.


"Maaf sayang, bukan nya mas mau sok tau tapi sepertinya kamu masih membenci nya ya?" Tanya Miko hati-hati.


"Tidak apa-apa kok mas, iya mas aku memang sangat membenci Tante Ana. Entah kenapa setiap melihat wajah nya aku teringat masa lalu kelam ku dan kepergian ibu dan rasanya emosi ku selalu muncul saat melihat dia. Apa aku salah mas masih menyimpan akar pahit sampai sekarang?" Tanya Amora pada suaminya itu.


"Sebenarnya menyimpan akar pahit di hati kita itu tidak baik sayang, karena akan jadi bumerang untuk diri kita sendiri. Cuman ya mas tau istri mas ini juga manusia biasa yah memaafkan ga semudah ucapan. Harapan mas semoga seiring berjalannya waktu kamu bisa memaafkan Tante ana ya." Jelas Miko yang masih fokus menyetir mobil.


"Semoga saja mas." Jawab Amora.


"Kalau mas boleh tau apa yang sudah di perlakukan Tante Ana kepada mu sayang? Sampai kamu bisa se benci itu kepada dia?" Tanya Miko yang merasakan kebencian dan kemarahan istrinya itu kepada Ana dari tatapan wajah nya.


Amora pun menarik nafas dalam-dalam, dan mulai membuka lagi lembaran luka lama yang selama ini di coba di lupakan nya. Namun menurut Amora ini perlu dia cerita kan ke Miko agar Miko juga tau kebenaran nya dan agar perasan nya lega. Amora pun mulai menceritakan semua hal-hal yang pernah di lakukan Ana ke keluarga nya dan dirinya.


"Kok aku masih cengeng ya mas, mungkin karna hamil juga ya jadi mudah baper." Ucap Amora yang menyeka air matanya dengan tissue setelah dia selesai bercerita namun air mata itu terus mengalir hati nya masih terasa sakit saat mengingat semua nya.


"Sayang maafin mas, mas ga tau kalau masa lalu kami benar-benar se kelam itu dan Tante Ana bisa se jahat itu kepada kamu. Kamu tidak cengeng kok, itu artinya luka itu masih terlalu dalam menancapkan luka di hati kamu. Kamu boleh kok menangis menangis lah sepuasnya sayang ku." Ucap Miko yang menghentikan mobil di tepi jalan dan memeluk istrinya itu.


Entah kenapa Miko juga merasa sakit saat melihat istrinya itu menangis dan merasakan betapa sakit perasaan Amora mengingat semua masa lalu kelam nya. Sehingga tanpa Miko sadari air matanya juga ikut menetes dari pelupuk matanya dan membasahi kedua pipinya dan rambut Amora.


"Tidak apa-apa kok mas, menurut ku kamu berhak tau ini semua." Jawab Amora yang mengeratkan pelukannya pada Miko.


Setelah beberapa menit Amora sudah selesai menangis dan akhirnya mereka melanjutkan perjalanan pulang ke rumah. Sesampainya di rumah Amora sudah tidak nafsu lagi memakan sate tadi dia terlalu lelah karena terlalu banyak menangis. Akhirnya dia memilih langsung istirahat saja. Sementara Miko tidak bisa memaksakan istrinya itu untuk makan malam dan Miko hanya makan bersama anggota keluarga yang lain di meja makan.


Sovi dan yang lain sempat menanyakan kenapa Amora tidak ikut makan malam. Dan Miko pun menjelaskan kejadian tadi, karena menurut Miko anggota keluarga nya juga perlu tau. Sean dan Ravi begitu kaget mendengar penjelasan miko. Karena mereka benar-benar merasa kasihan pada Amora karena ternyata se sakit itu masa kecil nya Amora. Sementara sovi sok cuek padahal sebenarnya di hatinya dia juga merasa khawatir dengan keadaan Amora.


Setelah mereka selesai makan malam Miko pun membawakan nampan berisi nasi, sate tadi dan susu untuk Amora.


Sesampainya di kamar Miko pun membangunkan Amora dan menyuruh nya makan malam. Dan setelah mereka selesai makan malam mereka pun tidur bersama.


Sementara di rumah nya ana sudah menyiapkan rencana untuk menghancurkan Amora dan mendapatkan uang dari keluarga Wijaya.


"Tunggu saja tanggal main nya besok Amora, aku juga tidak yakin kalau calon mertua dan calon suamimu masih akan menerima mu setelah mengetahui se hina apa dirimu." Batin Ana tersenyum lebar karena saat miko dan Amora pulang tadi Ana mengikuti mereka dari belakang jadi sekarang Ana tau dimana rumah keluarga Wijaya dan tau bahwa sekarang Amora tinggal di sana.


"Memang ya kalau murahan tetap akan murahan, belum menikah saja sudah tinggal satu atap. Tapi tidak apa-apa setidaknya berkat keponakan murahan itu sebentar lagi pundi-pundi uang ku akan datang" sambung Ana sambil tersenyum tidak sabar menunggu hari esok.


..


.

__ADS_1


.


.


Beberapa jam pun berlalu dan kini sudah pagi, Amora yang mood nya masih belum stabil hanya rebahan santai di kasur.


Sementara Miko haru mandi dan siap-siap untuk berangkat ke kantor namun karena hari ini mood istrinya sedang tidak baik Miko pun menyiapkan pakaian dan kebutuhan nya sendiri.


"Tok...tok...,Miko buka pintu nya" titah sovi yang berada di luar kamar.


"Iya ma sebentar." Ucap Miko.


Miko pun membuka pintu kamar dan terlihat lah mama nya yang sedang berdiri dengan kedua tangan sedang memegangi sisi nampan yang berisi dua gelas susu dan beberapa potong sandwich.


"Nih sarapan untuk kalian, mama tidak mau kalau sampai cucu mama tidak mendapatkan nutrisi. Dan kamu harus menemani dia sarapan.


Kalau istrimu masih tidka enak badan bawa dia ke dokter. Hmmm satu lagi yang kanan susu untuk kamu dan yang kiri untuk Amora." Jelas sovi sambil menyerahkan nampan itu kepada Miko.


"Terimakasih banyak ma," ucap Miko sambil menerima nampan itu dan tersenyum sumringah.


"Hmmm ingat sarapannya harus habis, dan kalau istrimu memang lagi tidak enak badan suruh saja dia istirahat dulu." Ucap sovi lagi.


"Siap ma."


Sementara di bawah, Sean, sovi dan Ravi yang sedang asyik sarapan di kaget kan dengan kedatangan seorang tamu tidak di undang.


"Anda siapa, dan ada keperluan apa datang ke sini?" Tanya sovi saat melihat Ana yang datang di tahan oleh sang satpam karena menerobos masuk.


"Saya Tante nya Amora, adik ayah nya begini kah cara keluar Wijaya memperlakukan tamu?" Tanya ana.


"Sudah pak biarkan saja. Lanjutkan saja pekerjaan kamu." Titah sovi.


"Baik nyonya."


"Hmmm kamu ya yang namanya Ana, ada keperluan apa mba ana datang ke rumah kami?" Tanya sovi masih santai.


"Saya tidak mau basa basi, saya datang ke sini ingin membocorkan masa lalu calon menantu kalian."jelas ana dengan penuh percaya diri.


"Hmmm menarik, baiklah mari kita duduk dulu."ajak sovi kepada ana sambil mempersilahkan ana duduk ke kursi ruang tamu.


"Biar mama yang urus, kalian lanjut saja sarapan nya kalau sudah selesai langsung saja berangkat ke kantor." Ucap sovi saat melihat suami dan anak nya terlihat geram melihat ana karena cerita Miko tadi malam.

__ADS_1


Ana pun duduk di sofa ruang tamu keluarga Wijaya itu, sembari menunggu sovi datang ana takjub melihat kemewahan rumah keluarga Wijaya.


"Tak akan ku biarkan kau menjadi ratu di rumah semewah dan semegah ini Amora. Sungguh wanita seperti kau tidak pantas. Tante cantik mu ini akan menyadarkan mu siapa kau sebenarnya dan apa posisi mu." Batin Ana.


"Maaf menunggu lama, mau minum apa Mbak ana?" Tanya sovi beramah tamah.


"Apa saja deh mbak."jawab ana tersenyum manis.


"Baiklah sebentar ya mbak."


"Hmmm apa tadi keperluan nya datang ke sini mbak?" Tanya sovi yang duduk manis di hadapan ana dan menyilangkan kakinya.


"Iya mbak, saya melihat di media sosial katanya anak sulung mbak mau menikah dengan keponakan saya. Tapi satu hal yang perlu mbak dan semuanya tau kalau Amora itu bukan perempuan baik-baik dia memiliki masa lalu yang kelam dan kotor. Jadi kedatangan saya datang ke sini agar membantu keluarga kalian agar tidak salah pilih menantu." Jelas ana langsung ke intinya.


"Hmmm memang nya kenapa dengan masa lalu calon menantu saya? Bisa kah Mbak ana menceritakan nya?"


"Dengan senang hati mbak. Dan ana langsung menceritakan semua masa lalu Amora bahkan memperburuk citra Amora. Sementara sovi hanya tersenyum geli mendengar kan kebohongan-kebohongan ana.


"Hmm tapi setelah mendengar semua cerita mbak seperti nya saya tidak berubah pikiran deh dan akan tetap menjadi kan Amora menjadi menantu dan sepertinya anak saya sepemikiran deh dengan saya. Tapi terimakasih lho mbak udah mau buang-buang waktu ke sini karena sebegitu sayang nya ke Amora." Jelas sovi masih tersenyum manis.


"Ohh iya jika memang tidak ada lagi yang ingin di bicarakan mbak tau kan pintu keluar nya." Tambah Sovi.


"Mbak tidak takut kalau saya membocorkan informasi ini ke media dan semua nya. Dan apa kata orang-orang setelah mengetahui bahwa calon menantu keluarga Wijaya ternyata mantan wanita malam dan simpan om-om. Aduh ga kebayang saya." Ucap Ana.


"Lalu apa yang kamu inginkan?"


"Hmmm saya ke sini hanya minta sedikit uang dari harta kekayaan kalian. Yah setidaknya uang tutup mulut lah." Jelas ana sambil tersenyum.


"Saya pastikan rahasia aman terkendali."


" Berapa yang kamu inginkan?"


"Tidak banyak, saya mau 500 juta. Saya rasa uang segitu tidak ada apa-apa nya untuk keluarga Wijaya."


"Hahahaha iya uang segitu mah kecil, tapi sayangnya jangan kan 500 juta 100 rupiah pun saya tidak Sudi memberikan nya kepadamu. Dan apa tadi mau membocorkan masa lalu Amora? Silahkan saya persilahkan tapi saya rasa anda tidak punya bukti deh. Tapi ingat ya kami keluarga Wijaya dengan uang kami bisa membuat orang yang tidak bersalah menjadi bersalah dan di hukum di penjara. Dan satu lagi mau kau lari ke ujung dunia mana pun maka kau akan tetap bisa kami temukan." Jelas sovi.


"Wajahmu dan perilaku sama, sama-sama busuk apa kau tidak ingat bagaimana dulu kau memperlakukan menantu ku? Dan sekarang kau dengan percaya diri mengaku menjadi kerabatnya benar-benar wanita iblis." Sambung sovi.


Ana hanya terdiam,


"Kau sudah membuang-buang waktu ku, jadi sekarang kau mau keluar sendiri atau perlu di seret keluar dari sini?" Tanya sovi dengan wajah marah nya.

__ADS_1


Ana hanya terdiam lalu berdiri, dia benar-benar kesal karena dia tidak berhasil menghasut sovi.


"Tunggu sebentar, ingat jangan pernah kamu injakan kaki kotor mu itu ke rumah ku dan jangan pernah kau ganggu menantu ku dan keluarga ku jika kau ingin hidup mu dan keluarga mu aman." Tambah Sovi.


__ADS_2