
Beberapa Minggu pun telah berlalu, kini Ravi sudah bisa berjalan dengan normal, tentu saja keberhasilan ini tak lepas dari kerja kerasa Ayu yang begitu sabar merawat dan melatih Ravi untuk berjalan. Walaupun tak lepas dari pengawasan dan batuan dokter.
Bahkan kini Ayu sudah selesai menyelesaikan ujian semester pertama nya dan kini saat nya libur. Ayu sangat bahagia karena sebentar lagi dia bisa pulang kampung dan bertemu dengan orang tua nya.
Ravi yang sudah sembuh total sudah bisa ke kantor seperti biasanya. Dan Ayu sudah beberapa hari libur kuliah.
"Ayu, kamu jadi pulang kampung?" Tanya sovi saat mereka selesai sarapan pagi.
"Rencananya sih jadi Bu, kalau di izinkan." Jawab Ayu.
"Ohh tentu di izinkan dong, memang nya kamu butuh izin dari siapa saja yu? Kalau ibu sama bapak sih izin-izin saja, ga tau deh si Ravi, iya ga pa." Ujar sovi sambil menatap suaminya.
"Umm Ravi juga izin-izin aja kok ma, lagian apa alasan Ravi tidak kasih izin Ayu pulang kampung?" Jawab Ravi cepat.
"Mama kira kamu mau ikut pulang kampung sama Ayu, sekalian kenalan sama camer." Goda sovi.
"Iya Ravi, atau kamu tidak punya nyali? Perlu di temanin sama mama dan papa kah?" Timpal Sean.
"Iya kalau boleh sih langsung di temani papa sama Mama lah, biar sekalian melamar Ayu." Jawab Ravi tanpa sungkan.
"Kak..." Ayu menatap Ravi dan kini pipi nya memerah karena Ravi kini begitu berani.
"Wahh anak papa sudah ada perubahan ya, sudah berani terang-terangan. Benar-benar cinta mendewasakan mu nak." Ucap Sean yang sedikit bangga karena Ravi memang sudah banyak berubah semenjak mengenal Ayu.
"Iya lah pa, kan sekarang Ravi udah jadi bucin, jadi dia akan melakukan apapun demi orang yang dia cintai. kini Ravi sudah punya mental pa." Timpal Miko.
"Sama seperti kamu kan Miko, memang ya Adek nya bakal nurunin sifat kakak nya." Ledek sovi.
"Yeee, yang penting bucin Miko ada hasilnya ma, nih lihat Miko kasih mama sama papa cucu yang tampan dan imut, ini masih satu lho masih ada sepuluh lagi yang akan segera menyusul." Ujar Miko.
"Mas..." Kini giliran Amora yang merasa canggung dengan kata-kata suaminya.
"Lho sayang, kan sesuai perjanjian, anak kita harus 11 biar seperti team sepak bola." Jawab Miko.
"Hahaha miko-miko, biar seperti pepatah ya banyak anak banyak rezeki." Sean malah mendukung ucapan putra nya itu.
"Iya dong pa." Jawab Miko lagi.
"Papa sih setuju banget ini, kalau boleh nanti anak Miko sebelas, anak Ravi juga sebelas. Jadi cucu-cucu papa nanti main bola nya tidak perlu nambah orang lagi, biar papa jadi juri nya sama mama kalian Adi wasit." Sean malah mendukung Miko.
"Sudah-sudah ini kok pembahasan jadi kemana-mana sih." Sovi mencoba mengakhiri pembahasan yang mulai melenceng itu.
"Dan untuk kamu Ravi, Iya kalau papa dan mama sih sebenarnya tidak masalah langsung ikut ke rumah Ayu buat lamar Ayu sekarang pun tak apa, tapi kan alangkah baiknya kamu kenalan dulu sama calon mertua kamu. Dan mencoba membicarakan nya baik-baik. Manatau calon mertua kamu tidak setuju punya menantu seperti kamu." Ujar sovi lagi.
"Nahh kalau ini papa setuju dengan mama, karena kan posisi nya Ayu juga masih kuliah, jangan asal main lamar-lamar atuh Ravi. Harus di bicarakan dulu sama orang tua nya Ayu." Tambah Sean.
Sementara Ayu hanya diam saja, dia tidak tau ini mimpi atau nyata. Rasanya dia antara sadar dan tidak sadar kalau Keluarga ini sedang bahas soal pertunangan. Entah lah hati Ayu rasanya campur aduk dia tidak tau dia harus bahagia apa sedih sekarang.
"Iya sih Ravi, kalau Ayu mau nih ya bawa kamu ke kampung nya, coba aja dulu pdkt sama keluarga Ayu. Manatau bapak ibu nya Ayu sudah punya calon untuk anak gadis nya." Sambung Miko lagi.
"Ehh ngomong-ngomong memang nya nak Ayu mau sama anak bapak?" Tanya Sean sembari menatap Ayu.
"Ehh Anu pak, kalau ada orang sudah niat baik kenapa harus di tolak." Jawab Ayu sambil cengengesan.
"Yaudah kamu ikut saja Ayu pulang kampung Ravi, biar tau juga kehidupan di kampung bagaimana." Titah sovi.
__ADS_1
"Tapi Bu, bapak Ayu galak takut nanti kak Ravi tidak betah di rumah Ayu." Jelas ayu dengan wajah tidak enak.
"Wahh bagus itu yu, kalau boleh si Ravi di latih di sana biar kuat mental dia." Sean malah tersenyum bahagia.
"Iya yu tidak apa-apa, tapi kamu konfirmasi dulu boleh tidak kamu bawa Ravi pulang serta bersama kamu ke kampung ke orang tua kamu, ya kalau tidak boleh juga tidak apa-apa." Ucap Sovi.
"Baik bu." Jawab Ayu sambil mengangguk.
"Yasudah, sana kalian ke kantor ini sudah jam berapa, jangan karna keasikan ngobrol sampai lupa kerjaan." Titah sovi kepada para pria tampan di rumah nya itu.
"Ohh iya benar kata mama, yaudah kita ke kantor dulu ya." Jawab Miko yang baru menyadari ini sudah telat ke kantor.
Miko pun berdiri dari duduk nya dan segera ke kamar untuk menemui Amora, karena tadi Amora pamit ke kamar karena baby syyaid terbangun dan menangis.
Sementara Sean yang memang kini sudah tidak ke kantor lagi duduk santai saja di sebelah istrinya. Dan Ravi segera memakai kan jas nya sembari menunggu Miko keluar dari kamar nya.
Setelah berpamitan kepada semua nya mereka pun segera berangkat ke kantor.
Sementara Ayu mulai membereskan meja makan dan merapikan semua nya. Sovi dan Sean pun pindah ke Sofa ruang tamu untuk sekedar mengobrol dan bermain dengan cucu mereka.
Setelah selesai membereskan meja makan Ayu pun segera menelepon ke orang tua nya untuk mengutarakan niat nya yang ingin membawa Ravi pulang beserta dirinya. Setelah orang tua nya mendengar penjelasan Ayu orang tua nya malah senang dan setuju kalau Ravi ikut Ayu pulang kampung.
"Ya ampun ini beneran aku bakal bawa kak Ravi pulang ke kampung. Kalau bapak galak-galak sama kak Ravi terus kak Ravi tidak nyaman dan pulang ke sini bagaimana?" Batin Ayu yang merasa bimbang.
"Terus nanti kak Ravi ngadu lagi sama pak Sean dan Bu sovi kalau dia tidak di perlakukan dengan baik di rumah. Sementara aku sangat di perlakukan baik di sini, bisa-bisa mereka jadi ilfil sama aku." Sambung batin Ayu lagi.
"Belum lagi rumah kami yang kecil dan sangat sederhana tak se luas dan semegah rumah ini. Pasti kak Ravi tidak akan nyaman tinggal di sana." Ayu semakin khawatir.
"Ahh tapi biar lah, kalau memang begitu adanya nanti aku bisa bilang apa. Lagian jodoh sudah di atur sama yang di atas biar waktu saja yang menjawab." Batin Ayu lagi setelah lelah berkelahi dengan pikirannya.
"Ahh Ayu Jangan langsung ke PD an deh, mungkin saja kak Ravi bercanda. Lagian kan niat nya kak Ravi cuman mau bertamu ke rumah kamu bukan nya mau ngajak nikah." Ayu mencoba menyadarkan dirinya sendiri.
Karena lelah berdebat dengan pikiran nya sendiri akhirnya Ayu memilih melanjutkan pekerjaannya dan membereskan rumah.
Waktu pun terus berlalu, dan kini sudah sore Ayu yang sudah selesai mandi dan sholat kini sedang menyiapkan makan malam. Sebenarnya ini bukan pekerjaan Ayu namun karena Ayu senang memasak dan masakan nya sudah pas di lidah keluarga Wijaya jadi memasak jadi rutinitas Ayu di rumah itu.
Saat sedang asyik memasak Ravi dan Miko pun pulang dari kantor, Miko yang langsung mencari istrinya langsung masuk ke kamar sedangkan Ravi langsung menemui Ayu di dapur.
"Masak apa sayang, kok wanginya enak banget jadi lapar." Tanya Ravi sambil mendekati Ayu.
"Hah?" Ayu menatap Ravi mencoba memperjelas pendengaran nya karena tadi kalau dia tidak salah dengar ada kata-kata sayang di ucapan Ravi.
"Maksudnya masak apa yu, wanginya enak banget bikin jadi lapar." Ravi meralat kata-katanya.
"Ohh ini kak, lagi masak Ayam goreng." Jawab Ayu salah tingkah.
"Ohh Ayam goreng, benar-benar deh Ayu ini istri idaman kakak, benar-benar paket lengkap." Puji Ravi.
Ayu yang mendapat pujian dari Ravi hanya menanggapinya dengan senyuman santai. Walaupun hatinya berbunga-bunga.
"Yasudah sana gih kak, mandi, pasti seharin capek kan kerja." Ujar Ayu.
"Okay yu, kakak juga sudah lapar jadi habis mandi bisa langsung maka masakan kamu." Jawab Ravi yang akhirnya ke kamar nya.
"Kak Ravi kak Ravi ada-ada saja." Ucap ayu sambil tersenyum kecil.
__ADS_1
Dia pun menumis sayuran nya, dan setelah tumisan nya selesai Ayu kembali ke kamar nya. Karena dirinya berbau asap akhirnya Ayu mandi lagi dan setelah selesai mandi dia pun menyiapkan makan malam di meja makan.
Beberapa menit kemudian mereka sekeluarga keluar dari kamar masing-masing dan berkumpul di meja makan karena memang ini sudah waktunya jam makan malam.
Semua nya menikmati masakan Ayu, tidak ada obrolan di sana, hanya ada suara dentingan garpu dan sendok yang saling beradu.
Setelah beberapa menit kemudian mereka pun selesai makan malam, Ayu yang ingin membereskan piring kotor di hentikan oleh sovi.
"Yu sudah telepon ke kampung?" Tanya sovi memulai obrolan.
"Ahh anu sudah Bu." Jawab Ayu.
"Lalu?" Sambung nya.
"Kata bapak ibu, boleh-boleh saja kalau kak Ravi mau ikut main ke kampung Ayu. Tapi ya itu rumah Ayu kecil dan sederhana jadi mungkin kak Ravi nanti tidak nyaman." Jelas Ayu dengan nada berat.
"Nyaman kok yu, Ravi mah di mana aja nyaman apalagi kalau ada kamu " timpal Miko.
"Iya yu, tidak masalah santai saja." Sambung Ravi.
"Bagus lah kalau begitu, lalu kapan rencananya kamu pulang kampung yu?" Tanya sovi lagi.
"Rencananya sih besok atau lusa buz soalnya kan libur Ayu tinggal 2 Minggu lagi." Jawab Ayu.
"Yasudah besok saja yu, lagian kerjaan di kantor tidak padat kan mik?" Tanya sovi kepada Miko.
"Aman ma, kalau kerjaan mah Miko bisa handel, santai aja." Jawab Miko.
"Bagaimana Ravi, sudah siap bertemu camer?" Goda Sean.
"Siap empat lima pa." Jawab Ravi cepat.
"Jadi rencananya kalian pulang mau Jalur udara, darat atau bagaimana?" Tanya Sean kepada Ravi.
"Hmmm rencananya Ravi mau bawa mobil sendiri saja pa, lagian kan hanya beberapa jam saja sekalian menikmati perjalanan." Jawab Ravi.
"Memang nya kamu sudah bisa nyetir mobil jalan jauh Ravi?" Tanya sovi yang sedikit cemas.
"Aman ma, Ravi sudah sembuh total kok, lagian kalau capek kan nanti bisa istirahat." Jawab Ravi.
"Kenapa tidak naik kreta saja, bus atau apa gitu?" Tanya sovi.
"Tidak apa-apa ma, aman santai saja Ravi nyetir nya Pasti pelan-pelan kok. Kan bawa calon istri." Ujar Ravi.
Ayu hanya diam saja, namun pipi nya memerah mendengar kata-kata Ravi.
"Sudah lah ma, papa percaya sama Ravi." Sean mencoba menenangkan istrinya itu.
"Yaudah terserah kalian deh, mana baik nya tapi ingat ya Ravi nyetir nya pelan-pelan saja. Kalau capek istirahat." Titah sovi.
"Iya mana sayang aman." Jawab Ravi.
Mereka pun mulai mengobrol banyak hal sebelum akhirnya pada ke kamar masing-masing, terutama Ravi dan Ayu mereka harus mengemas barang-barang nya untuk berangkat besok.
Sebenarnya ada rasa deg-degan di hati kedua nya. Ayu takut Ravi tidak nyaman dengan kehidupan nya di kampung sedangkan Ravi takut kalau dirinya di tolak oleh orang tua Ayu.
__ADS_1
Namun pada akhirnya kedua nya mencoba menenangkan diri nya dan berharap yang terbaik menghampiri mereka nanti.