Partner Diatas Ranjang

Partner Diatas Ranjang
Mengungkapkan perasaan


__ADS_3

"Mas bagaimana ini? Bagaimana jika Elsa membongkar semua nya ke publik? Keluarga kita akan malu." Tanya Amora kepada suaminya dengan wajah penuh kepanikan.


"Santai Amora, kamu jangan panik dulu sekarang jawab mama dulu sewaktu kamu bersama om Bambang itu apa saja yang telah kalian lakukan? Maksud mama apa saja kira-kira bukti yang di dapatkan oleh Elsa?" Tanya sovi kepada Amora.


"Apa ya, Amora kenal om Bambang sudah lama ma, dan om Bambang juga sudah meninggal dunia tapi seingat Amora kami tidak pernah merekam apapun kegiatan kami." Jelas Amora.


"Hmmm kalau begitu bukti apa ya kira-kira yang di maksud Elsa." Ucap sovi sembari berpikir.


"Dan bagaimana bisa anak buah mama bisa kecolongan begini sih." Batin sovi merasa kesal kepada anak buah nya.


"Gini deh ma, bagaimana kalau kita mata-mata in dulu Elsa mungkin dengan begitu kita bisa tau apa sebenarnya rencananya dan bukti yang sudah dia dapatkan." Ucap Miko mencoba memberi ide.


"Hmmm ide bagus Miko, kalau gitu kamu suruh orang suruhan kamu untuk melacak di mana Elsa menggunakan nomor telepon nya." Titah sovi.


"Baik ma, "jawab Miko yang langsung menelepon orang suruhan nya.


Sementara Amora masih tetap gugup, dia benar-benar takut kalau Sampai bukti yang di maksud oleh Elsa akan menghancurkan nama baik keluarga Wijaya.


"Sudah Amora kamu jangan panik begitu, percaya sama mama semuanya pasti bisa kita tangani dengan baik kamu fokus saja kepada kandungan kamu jangan sampai karena masalah ini kamu stress dan berakibat fatal ke kandungan kamu." Ucap sovi.


"Iya ma." Jawab Amora.


"Hmm, Elsa kamu mau bermain-main dengan keluarga Wijaya ya, belum kapok juga kamu ya. Kamu pikir bisa se gampang itu menghancurkan nama baik keluarga Wijaya hah?" Guman sovi merasa kesal kepada Elsa.


Sementara Miko yang menelepon mata-mata nya langsung mendapat kan informasi tentang posisi terkini Elsa. Dan betapa terkejutnya Miko saat tau bahwa Elsa berada di kantor Pratama.


"Bukan kah Pratama sudah di penjara kenapa Elsa berada di kantor nya ya? Atau jangan-jangan dia sudah bebas, wah ternyata aku terlalu lengah ya." Ucap Miko.


"Mas kenapa? Kok kamu terlihat kaget begitu?" Tanya Amora saat melihat perubahan ekspresi di wajah suaminya.


"Elsa ada di kantor Tama sayang, padahal seingat mas Tama sudah mas masukkan ke dalam penjara karena kasus percobaan pembunuhan berencana kepada kamu kemaren." Jelas Miko.


"Apa mas terlalu lengah ya sampai tidak menyadari bahwa Tama sudah bebas. Mas yakin sih ini semua karena kekuatan yang nya Tama." Sambung Miko.

__ADS_1


"Sudah lah Miko masalah Tama bisa di cancel dulu, sekarang mari kita pikirkan masalah ancaman Elsa." Ucap sovi.


"Tunggu ma, Elsa dan Tama pasti ada kaitannya, Miko yakin mereka pasti sengaja sekongkol untuk menghancurkan keluarga kita." Tebak Miko.


"Hmm masuk akal sih, yasudah sekarang kamu suruh dulu mata-mata kamu untuk mencari tau semua tentang bukti yang mereka punya termasuk mencari tau tentang perusahaan mereka."titah sovi.


"Baik ma." Jawab Miko.


Sembari mencari informasi tentang Elsa dan Tama sovi mencoba menenangkan Amora agar tidak stress.


.


.


.


Sementara di kantor Kanaya terus mendesak Ravi. Dia benar-benar ingin memperjelas perasaan Ravi kepada nya.


"Kanaya kamu kenapa sih? Salah makan ya?" Tanya Ravi yang memang merasa aneh dengan sikap Kanaya.


"Saya hanya ingin kejujuran pak Ravi saja, kalau memang tidak ada perasaan apa-apa kepada saya, seperti nya saya tidak bisa lanjut bekerja di sini lagi." Ucap Kanaya.


"Lho kamu kenapa sih Kanaya? Kok jadi tidak profesional begini? Kamu ngancam saya?" Tanya Ravi yang jadi merasa bingung dengan sikap Kanaya.


"Saya tidak mengancam pak Ravi, tapi berawal dari bercanda akhirnya saya benar-benar menyukai bapak dan sepertinya saya mencintai bapak. Jika cinta saya tidak berbalas seperti nya saya tidak bisa bekerja di sini lagi." Ucap Kanaya yang sudah tidak dapat lagi mengontrol dirinya.


"Kanaya..."


"Pak apa salahnya sih jujur? Saya hanya ingin tau perasaan bapak kepada saya. Tolong pak saya hanya ingin tau jika memang bapak tidak memiliki perasaan apa-apa kepada saya tidak apa-apa pak, setidaknya saya sadar kalau cinta saya bertepuk sebelah tangan." Ucap Kanaya memotong kata-kata Ravi dengan tatapan sendu.


"Kanaya apa benar semua kata-kata kamu?"tanya Ravi mendekati Kanaya.


"Tatap mata saya pak, apa ada kebohongan di mata saya?" Tanya Kanaya menatap Ravi dalam.

__ADS_1


"Kanaya sejujurnya saya tipe pria yang lebih suka mengejar daripada di kejar, Tapi karena kamu sudah terlanjur mengungkapkan semua nya baiklah mari kita saling jujur saya juga sejak pertama melihat kamu ada rasa tertarik di hati saya kepada kamu dan lambat Laun ada perasaan nyaman saat berada di dekat kamu, tapi saya tidak tau apakah saya mencintai kamu atau tidak" Jelas Ravi yang semakin mendekati Kanaya.


"Lalu kenapa kita tidak memulai hubungan untuk yang nyata untuk memperjelas perasaan bapak kepada saya?" Tanya Kanaya.


"Maksud kamu?"


"Kan selama ini kita pacaran pura-pura di depan mama ku, kenapa tidak kita coba saja berpacaran sebenarnya untuk mengetahui perasaan masing-masing. Agar saya juga tau apakah saya memang mencintai bapak atau hanya rasa obsesi yang ada di hati saya untuk memiliki bapak. Dan untuk mengetahui juga apa kah bapak memang mencintai saya atau tidak." Ucap Kanaya.


"Lalu bagaimana jika nanti kita tidak cocok? Apa kita akan mengakhiri hubungan kita? Saya yakin akan ada yang tersakiti Kanaya." Ucap Ravi yang memang terlalu takut mengambil konsekwensi.


"Pak jangan langsung ber asumsi sebelum mencoba nya. Bisa saja kita memang berjodoh dan seandainya kita tidak berjodoh pun kan pacaran proses seleksi untuk mencari yang terbaik untuk di bawa ke masa depan. Mari lah pak kita tidak akan pernah tau jika tidak memulai nya. Kalau masalah sakit hati itu memang sudah konsekwensi nya. Dan untuk semuanya biarkan waktu yang menjawab." Jelas Kanaya.


Ravi terdiam sejenak, mencoba mencerna kata-kata Kanaya dengan baik. Dia mengingat kejadian Amora karena terlalu takut mengambil resiko akhirnya dia kehilangan Amora. Benar kata Kanaya kalau tidak di coba dia tidak akan pernah tau rasanya jangan sampai dia melakukan kesalahan yang sama kedua kalinya dan kehilangan Kanaya.


"Apa kamu yakin Kanaya ingin berpacaran dengan saya?" Tanya Ravi lagi.


"Yakin pak saya yakin seratus persen." Jawab Kanaya bersemangat.


"Yasudah kalau begitu mari kita coba."


"Hah benarkah saya tidak salah dengar kan pak?" Tanya kanaya yang langsung tersenyum sumringah.


"Iya Kanaya, kamu tidak salah dengar kok." Ucap Ravi.


"Jadi mulai hari ini kita sah berpacaran ya pak?" Tanya Kanaya.


"Iya sayang." Jawab Ravi.


Hati Kanaya langsung bergetar mendengar kata sayang yang terucap dari mulut Ravi.


Tanpa aba-aba tiba-tiba cup Kanaya Langsung mengecup pipi Ravi.


Pipi Ravi langsung memerah, dan Kanaya langsung memeluk Ravi penuh dengan rasa cinta. Pelukan itu pun di sambut oleh Ravi.

__ADS_1


__ADS_2