
"Kenapa aku jadi begitu perduli ya kepada Amora, jangan bilang aku sudah menerima dia dan mulai menyayangi nya. Ohh tidak-tidak ini hanya karena aku tidak mau sampai nama keluarga Wijaya rusak dan cucu ku sampai kenapa-kenapa." Batin sovi.
"Tapi sepertinya aku harus lebih waspada deh, taku ada Ana-Ana lain nya yang bisa merusak reputasi Amora dan Wijaya grup."
"Rudi..." Panggil sovi.
Dan dengan sigap Rudi pun langsung berlari mendengar kan panggilan sovi.
"Iya nyonya ada yang bisa saya bantu?" Tanya Paijo.
"Hmm Paijo saya punya pekerjaan penting, tapi harus teliti untuk kamu." Ucap sovi.
"Pekerjaan apa itu nyonya?"
"Kamu arahkan anak buah kamu untuk mencari tau semua masa lalu Amora. Dan hancurkan semua hal yang berkaitan dengan masa lalu Amora." Jelas sovi.
"Saya rasa kamu mengerti dan paham maksud saya." Tambah Sovi.
"Baik nyonya saya mengerti." Jawab Rudi
"Yasudah kerjakan dari sekarang, jangan sampai ada satupun Bukti yang tersisa dan ingat semuanya harus selesai sebelum resepsi pernikahan Amora dan Miko."
"Baik nyonya." Jawab rudi.
"Hmmm yasudah selamat bekerja."
Rudi pun pamit kepada sovi dan bersiap untuk melanjutkan pekerjaannya.
__ADS_1
"Semoga setelah ini tidak ada lagi masalah-masalah lain nya." Ucap sovi setelah Rudi pergi meninggalkan nya.
"Sepertinya aku harus mandi dulu deh, gerah juga menghadapi wanita matre dan berhati iblis seperti si Ana tadi, di tambah ngomong panjang lebar ke Rudi." Ucap sovi sambil mengibaskan Rambutnya.
Sementara di kantor Ravi dan Sean yang baru saja sampai di langsung menuju ruangan masing-masing. Seperti biasa akan ada senyum yang manis mengawali pagi Ravi.
"Selamat pagi pak Ravi." Sapa Kanaya dengan senyum manis nya.
"Hmmm" jawab si Ravi si kulkas 24 pintu.
"Dasar sok cool, padahal sudah beberapa hari bekerja bersama masih aja tetap sama. Sok cuek dingin dan menyebalkan." Batin Kanaya yang merasa jengkel.
"Ngapain kamu masih berdiri? Kerja...dan Hmm hilangkan pikiran kotor kamu yang sedang memaki saya." Ucap Ravi menyadarkan Kanaya.
"Ehh iya pak." Jawab Kanaya yang merasa malu.
Sebenarnya Ravi sudah mulai nyaman bekerja dengan Kanaya, karena selain pintar Kanaya juga cekatan dan peka. Namun untuk tertarik dan mencintai Kanaya ravi belum bisa sampai pada tahap itu. Karena sampai detik ini masih Amora lah penguasa hati nya. Ravi juga tidak tau kenapa hal ini bisa terjadi mungkin karena Amora adalah cinta pertama Ravi jadi sangat sulit baginya melupakan Amora dan membuka hati kepada Kanaya dan perempuan lain.
Namun sayang nya kerja keras Kanaya tidak di lirik oleh target. Ya benar, Kanaya rela bangun subuh dan dandan se cantik tapi natural mungkin semuanya untuk Ravi.
"Kanaya yang dulunya berniat membuat Ravi jatuh cinta kepadanya kini terjebak sama permainan nya sendiri. Entah kenapa sikap cool dan nyebalin Ravi membuat Kanaya menjadi terpesona kepada Ravi.
"Mama, Andai mama tau kalau sebenarnya kak ravi tidak kalah tampan dari kak Miko." Batin Kanaya mengingat mama nya terus menerus memaksa Kanaya mendekati Miko.
Kanaya hanya senyum-senyum sambil memutar-mutar pulpen di tangan nya dan memandang wajah manis Ravi yang sedang serius membaca dokumen di tangan nya.
"Kenapa kamu senyum-senyum sendiri gila kamu ya?" Tiba-tiba Ravi menyadarkan Kanaya dari lamunan panjang nya.
__ADS_1
"Haha kenapa pak? Ada apa tadi?" Tanya Kanaya yang langsung salah tingkah.
"Sepertinya kamu besok perlu di ganti oleh sekretaris baru deh, saya agak ngeri juga punya sekretaris setengah waras seperti kamu." Ucap Ravi.
"Lah maksud bapak saya di pecat, ohhh tidak bisa pak saya dipekerjakan oleh pak Sean, bapak tidak punya hak untuk memecat saya dan apa setengah waras heh pak saya sehat ya ga gila kek bapak."
"Heh Kanaya saya ini atasan kamu, saya adalah putra dari papa jadi saya punya hak juga memecat kamu. Dan kamu ga ada sopan nya ya bicara seperti itu. Mau kamu gaji kamu saya potong?"
"Lho yang bilang lebih dulu saya setengah waras siapa bapak kan? Yasudah berarti bapak yang salah dan tidak punya sopan."
"Bagaimana saya tidak bilang kamu setengah waras orang kamu senyum-senyum sendiri padahal tidak ada yang lucu. Bukan kah itu namanya sunting?"
"Suka-suka saya dong, mau saya senyum-senyum sendiri. Ketawa-ketawa sendiri nangis-nangis sendiri. Kok bapak yang sewot?" Tanya Kanaya mulai nyolot.
"Ya saya sewot lah, kamu membuat saya tidak nyaman dan ini adalah ruangan saya."
"pantes ya pak Ravi ga pernah punya pacar orang nya aja nyebelin begini cewek mana coba yang mau sama pria seperti bapak, sok cool, nyebelin, ngeselin ah semua deh."
"lho-lho Kanaya kenapa jadi bahas pacaran. ini tidak ada kaitan nya sama pacaran ya dan apa kamu bilang saya nyebelin kamu tuh yang lebih nyebelin. asal kamu tau saja ya banyak cewek-cewek yang sering mengungkapkan perasaan mereka kepada saya bahkan tergila- gila sama saya, ya hanya saja saya tidak mau karena selain tidak mau pacaran selera saya mah tinggi kalau seperti kamu maaf-maaf nih ya Kanaya bukan masuk kategori wanita pilihan saya." jelas Ravi panjang lebar.
"suka-suka saya dong pak mau kaitkan apapun kemana pun. dan apa tadi banyak perempuan yang tergila-gila kepada bapak, dan saya bukan selera bapak? karena level kriteria wanita idaman bapak tinggi banget? aduh bapak Ravi Wijaya yang terhormat satu bapak juga bukan selera saya dan dua pak bangun ngayal jangan ketinggian nanti jatuhnya sakit banget lho." protes Kanaya.
"hey kanya kamu mau bukti nya? kalau begitu banyak cewek cantik yang menyukai saya? tapi jangan sampai kaget ya." tantang Ravi.
"Ahh sudah-sudah hal itu tidak penting begini, ngapain sih kita bahas hal yang unfaedah begin. .hal begini saja di ribetin. Saya mau kerja dan jangan ganggu saya." Ucap Kanaya yang langsung fokus ke laptop yang ada di hadapannya.
"Lah siapa yang ngeribetin Maemunah? kamu kali yang bikin hidup saya jadi ribet." Protes Ravi.
__ADS_1
Namun Kanaya tidak perduli lagi dengan kata-kata Ravi, dia tetap menyibukkan diri dengan pekerjaan nya.
"Entah untuk siapa kamu dandan se cantik ini Kanaya. Sebenarnya saya juga ingin menatap wajah kamu berlama-lama. Tapi saya takut saya bisa-bisa jatuh cinta sama kamu dan jika cinta saya tidak berbalas maka saya akan merasakan sakit kesekian kalinya." Batin Ravi yang sekarang gantian menatap wajah serius Kanaya yang terlihat sangat cantik saat sedang serius bekerja.